Jateng

Kapal Pinisi: Megahnya Warisan Nusantara dari Sulawesi Selatan

Theo Adi Pratama | 7 Desember 2023, 11:09 WIB
Kapal Pinisi: Megahnya Warisan Nusantara dari Sulawesi Selatan

AKURAT.CO Sejarah, Kapal Pinisi, kapal tradisional yang berasal dari Sulawesi Selatan, telah menjadi legenda dalam sejarah pelayaran nusantara.

Digunakan oleh masyarakat Suku Bugis, kapal ini membanggakan kepiawaian mereka dalam mengarungi lautan hingga ke berbagai belahan dunia.

Meskipun bersifat tradisional, megahnya tampilan kapal ini mencuri perhatian dengan ciri khas dua tiang utama dan tujuh layar yang terhampar indah.

Baca Juga: Sejarah Dunia: Napoleon Bonaparte, Antara Mitos dan Fakta Tentang Tinggi Badan

Sejarah Kapal Pinisi

Menurut laman resmi Direktorat SMP Kemendikbudristek, kapal pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, putra mahkota Kerajaan Luwu, pada abad ke-14.

Dalam naskah La Galigo, dikisahkan bahwa Sawerigading menggunakan pohon Welengreng, yang kuat dan kokoh, untuk membuat kapal pinisi.

Tujuan perjalanan pertamanya ke Tiongkok adalah untuk mempersunting We Cudai.

Setelah berhasil, kapalnya mengalami badai besar dan pecah menjadi tiga bagian, yang kemudian dirakit kembali oleh masyarakat setempat menjadi kapal pinisi megah yang kita kenal saat ini.

Baca Juga: Sejarah Dunia: Marie Louise Istri Kedua Napoleon Bonaparte, Antara Pernikahan Tak Diinginkan dan Kehidupan Kontroversial

Karakteristik Kapal Pinisi

Dalam Jurnal Teknologi Kelautan Universitas Darma Persada, terdapat dua jenis kapal pinisi dengan karakteristik berbeda: Palari dan Lamba.

Palari, bentuk awal kapal pinisi, memiliki lunas yang lebih lebar dan kemudi di samping, mirip dengan kapal Padewakang.

Sementara itu, Lamba atau Lambo adalah versi modern dengan lambung yang dilengkapi motor diesel.

Keberlanjutan Lamba telah membuatnya populer sejak tahun 1990-an, mengadopsi bentuk kapal Eropa yang memudahkan manuver.

Baca Juga: Sejarah Dunia: Napoleon Bonaparte, Pemimpin Agung dengan Jiwa Kepemimpinan yang Mengesankan

Bagian-Bagian Kapal Pinisi

Menurut Peta Budaya Kemendikbud, kapal pinisi memiliki enam bagian utama yang menjadi ciri khasnya:

  1. Anjong (segitiga penyeimbang): Bagian depan kapal.
  2. Sombala (layar utama): Layar besar yang mencapai 200 m.
  3. Tanpasere (layar kecil): Layar segitiga pada tiang utama.
  4. Cocoro Pantara (layar bantu depan).
  5. Cocoro Tangnga (layar bantu tengah).
  6. Tarengke (layar bantu di belakang).

Proses Pembuatan Kapal Pinisi

Proses pembuatan kapal pinisi masih dilakukan secara tradisional oleh suku Bugis.

Terbagi menjadi tiga tahap, dimulai dengan penentuan hari baik untuk mencari kayu bahan bakunya. Kayu besi, kayu bikti, kayu kandole/punaga, dan kayu jati adalah jenis kayu yang biasanya digunakan.

Tahap kedua melibatkan menebang, mengeringkan, dan memotong kayu sesuai perhitungan khusus suku Bugis.Tahap ini memakan waktu berbulan-bulan.

Tahap terakhir adalah peluncuran kapal ke laut yang diiringi dengan upacara adat, seperti maccera lopi untuk mensucikan kapal.

Baca Juga: Misteri dan Sejarah: Menelusuri Tempat Angker dan Wisata Sejarah di Purworejo

Fungsi Kapal Pinisi

Dulu, kapal pinisi digunakan sebagai alat transportasi perdagangan.

Namun, di era modern ini, kapal pinisi telah beralih fungsi menjadi kapal pesiar mewah komersial dan ekspedisi, didukung oleh investor lokal dan asing.

Interior yang mewah, peralatan menyelam, permainan air wisata bahari, serta awak yang terlatih menjadikan kapal pinisi pilihan yang menggabungkan tradisi dan kemewahan.

Ritual Pembuatan Kapal Pinisi

Sebelum memulai pembuatan kapal pinisi, masyarakat melibatkan ritual dengan menyediakan makanan, jajanan manis, dan darah ayam jago putih sebagai persembahan.

Ritual ini dilakukan untuk mendapatkan keberuntungan dan keselamatan selama proses pembuatan.

Jajanan manis melambangkan keinginan pemilik agar kapalnya mendatangkan keuntungan, sedangkan darah ayam jago putih pada lunas kayu diharapkan menjaga keselamatan pekerja selama pengerjaan.

Kapal pinisi bukan hanya sekadar alat transportasi, melainkan sebuah warisan budaya yang megah dari Sulawesi Selatan.

Dengan sejarah, karakteristik unik, proses pembuatan tradisional, dan fungsi modernnya, kapal pinisi tetap mempesona dan menjadi salah satu ciri khas Indonesia yang patut dilestarikan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.