Jateng

Bahasa Jawa Timur yang Unik: Mengungkap Fakta Unik Dibalik Pertanyaan Mengapa Orang Jawa Timur Terkesan Kasar Saat Berbicara?

Theo Adi Pratama | 18 Mei 2024, 07:00 WIB
Bahasa Jawa Timur yang Unik: Mengungkap Fakta Unik Dibalik Pertanyaan Mengapa Orang Jawa Timur Terkesan Kasar Saat Berbicara?

JATENG.AKURAT.CO, Pernahkah Anda mendengar seseorang bertanya mengapa orang Jawa Timur berinteraksi dengan kasar? Pertanyaan ini kerap kali muncul, terutama bagi para pendatang di Surabaya atau kota-kota lain di Jawa Timur.

Mereka mungkin beranggapan bahwa penduduk setempat memiliki perangai yang kasar, hobi menggunakan bahasa kasar (misuh), dan berbicara tanpa sensor.

Namun, benarkah orang Jawa Timur memang kasar? Ternyata tidak selalu demikian. Hal ini sangat tergantung pada bagian Jawa Timur mana yang Anda kunjungi.

Jawa Timur adalah provinsi yang luas, mencakup wilayah seperti Surabaya, Madura, Probolinggo, Pasuruan, Jember, Kediri, Banyuwangi, Tuban, dan Malang yang terkenal dengan bahasa kebalikannya, Ngalam.

Oleh karenanya masri kita kulik fakta unik dibalik pertanyaan yang sering dilontarkan orang luar kepada orang Jawa timur ini:

Baca Juga: Liburan Panjang Semakin Seru! Nikmati Promo Spacation di ARTOTEL Yogyakarta dan Rasakan Sensasi Staycation yang Tak Terlupakan

Spektrum Makna Kata 'Jancuk'

Salah satu kata yang sering digunakan oleh arek Surabaya adalah "jancuk".

Kata ini, beserta turunannya seperti "jancok", "dancok", "ancuk", dan "diancuk", sebenarnya tidak selalu memiliki pengertian negatif atau sebagai kata makian.

Di Surabaya, kata "jancuk" sering kali digunakan sebagai bahasa persahabatan dan persaudaraan dengan spektrum makna yang luas.

Orang Surabaya biasa memanggil teman dekat dengan sebutan "cuk" atau "jancuk".

Kata ini bisa digunakan dalam berbagai konteks, tidak hanya ketika marah tetapi juga saat merasa senang atau bahkan sedang galau. Contohnya:

X: "Jancuk, aku gak gablek duwek cuk, koen gak pengen ngutangi aku ta?"
(Jancuk, aku lagi bokek cuk, apa kamu gak ingin meminjamkan aku uang?)

Y: "Jancuk, aku yo gak duwe duit cuk"
(Jancuk, aku juga gak punya uang cuk)

Dalam percakapan di atas, kedua teman tersebut tidak sedang memaki satu sama lain.

Sebaliknya, mereka menunjukkan kedekatan dan keakraban mereka sebagai teman.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa orang Jawa Timur cenderung lebih luwes dan blak-blakan dalam bersosialisasi, berinteraksi, dan berbicara.

Baca Juga: 5 Sajian Kuliner Khas Kawasan Pantura Pati yang Bikin Lidah Anda Bergoyang, Ada Nasi Gandul

Variasi Medhok di Jawa Timur

Sebagian orang mengatakan bahwa orang Jawa Timur berbicara dengan aksen "medhok".

Namun, medhok di setiap daerah di Jawa Timur tidaklah sama.

Misalnya, medhoknya orang Surabaya berbeda dengan medhoknya orang Madiun.

Perbedaan aksen ini menunjukkan kekayaan linguistik dan budaya yang ada di Jawa Timur.

Hati yang Selembut Sutera

Meskipun gaya bicara orang Jawa Timur terkadang terkesan kasar atau medhok, ini tidak mencerminkan kekasaran hati mereka.

Pada kenyataannya, orang Jawa Timur memiliki hati yang selembut sutera. Jadi, Anda tidak perlu khawatir saat berinteraksi dengan mereka.

Di balik gaya bicara yang blak-blakan dan aksen yang medhok, terdapat keramahan dan kehangatan yang siap menyambut Anda.

Baca Juga: 6 Fakta Menarik Ratu Shima yang Pernah Memerintah Kerajaan Kalingga yang Konon Lokasinya Ada di Wilayah Pantura Jawa

Jadi, lain kali ketika Anda mendengar orang Jawa Timur berbicara dengan nada yang terdengar kasar, ingatlah bahwa itu hanyalah bagian dari cara mereka berkomunikasi.

Di balik kata-kata tersebut, ada persahabatan, keakraban, dan hati yang tulus.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.