Inilah Sejarah Singkat PUMA, Salah Satu Produk Asing yang Diboikot Karena Mendukung Israel

AKURAT.CO, Banyak negara yang mulai memboikot produk asing yang mendukung Israel.
Hal ini karena tindakan mereka yang melakukan serangan terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
Sebagaimana dilansir Vox pada hari Selasa, 31 Oktober 2023, banyak orang akhirnya menggunakan hashtag #BDSMovement di media sosial seperti X (sebelumnya Twitter dan TikTok).
Hashtag ini ternyata merujuk pada gerakan untuk memboikot barang atau jasa yang berafiliasi dengan Israel atau dengan sengaja mendukung Israel dan segala tindakannya.
Baca Juga: Guru Menjadi Salah Satu Kunci Kualitas Pendidikan di Indonesia
Gerakan BDS adalah protes yang tidak melibatkan kekerasan.
Tujuannya adalah untuk melakukan boikot ekonomi dan budaya terhadap Israel, melepaskan dana negara, dan menerapkan sanksi pemerintah guna mendorong Israel untuk mematuhi hukum internasional dan menghentikan kebijakannya yang kontroversial terhadap Palestina.
Salah satu produk yang memang diboikot adalah produk dari PUMA.
Puma adalah perusahaan multinasional yang memproduksi alas kaki, pakaian, dan aksesori atletik dan kasual.
Baca Juga: 4 Tips Menawar Barang yang Hendak Dibeli Saat Sedang Melakukan Perjalanan Wisata
Perusahaan sepatu ternama ini dari awal mula kelahirannya berkantor pusat di Herzogenaurach, Bavaria, Jerman.
Jika di lihat dari catatan sejarah pendiri brand Puma bernama Rudolf Dassler pada tahun 1948.
Rudolf adalah kakak Adolf “Adi” Dassler yang merupakan pendiri brand Adidas.
Sejarah PUMA
Sejarah Brand PUMA bermula dari Christoph von Wilhelm Dassler.
Pria ini bekerja di pabrik sepatu, sementara istrinya Pauline mengelola bisnis kecil binatu di Herzogenaurach, kota Franconian.
Putra mereka Rudolf Dassler meninggalkan sekolah dan bekerja di pabrik sepatu tersebut.
Setelah kembali dari Perang Dunia I, Rudolf menjadi salesman di pabrik porselen.
Baca Juga: Berikut 5 Tips Melakukan Perjalananan yang Nyaman dan Menyenangkan dengan Moda Transportasi Bus
Selanjutnya, ia bergabung dengan perusahaan perdagangan kulit di Nuremberg.
Satu-satunya pabrik sepatu olahraga saat itu, Gebrüder Dassler Schuhfabrik didirikan oleh Rudolf Dassler dan saudaranya Adolf "Adi" Dassler pada tahun 1924.
Pada awalnya, kedua kakak beradik itu bekerja di binatu ibu mereka, tetapi pada tahun 1927 mereka pindah ke gedung yang berbeda.
Hubungan kedua bersaudara semakin memburuk seiring berjalannya waktu dan mencapai puncaknya saat perang dunia kedua.
Rudolf menjadi tahanan tentara Inggris karena dia percaya adiknya Adolf telah melaporkannya sebagai mata-mata.
Baca Juga: Berikut 7 Tips Agar Tidak Lagi Ketinggalan Pesawat Saat Melakukan Perjalanan Bisnis Maupun Wisata
Pada tahun 1948, keduanya memutuskan untuk tidak lagi bekerja sama.
Rudolf awalnya mendirikan perusahaan baru bernama Ruda (Rudolf Dassler) setelah meninggalkan saudaranya.
Namun, tidak diketahui berapa lama nama ini bertahan, yang mana perusahaan ini akhirnya merubah nama menjadi PUMA pada tahun 1948.
Pada tahun 1949, adiknya Adolf “Adi” Dassler mendirikan Adidas.
Kedua perusahaan tersebut masih berbasis di Herzogenaurach, Jerman, saat ini.
Logo PUMA
Pada tahun 1948, logo PUMA pertama kali muncul dengan kucing besar yang disebut "cougar" atau singa gunung yang sedang melompat.
Pada emblem pertama PUMA, huruf "D" diapit oleh kucing besar itu, yang merupakan singkatan dari nama keluarga pendiri Dassler.
Baca Juga: Berikut 5 Rekomendasi Kuliner Legendaris di Kota Semarang, Wajib Harus Kamu Coba Bila Berkunjung!
Logo ini mengalami perubahan hinggan pada 1970 siluet cougar sedikit berubah dari yang awalnya bewarna hitam berubah menjadi warnanya putih dengan outline garis hitam.
Sosok singa gunung pada logo tersebut terlihat anggun dan lebih dinamis karena sedang melakukan geralan melompat yang cukup tinggi.
Sejak tahun 1970 bentuk siluet kucing inilah yang kemudian terus di gunakan hingga saat ini.
Tetap dengan bentuk yang sama seperti tahun 1970, tetapi kali ini berwarna hitam dan memiliki tulisan PUMA di sebelah kiri dan bingkai persegi panjang yang menutupi keduanya secara horizontal.
Namun, pada tahun 1976, logo kucing hilang dan diganti dengan tulisan PUMA yang lebih sederhana dengan tarikan vertikal "P" yang panjang.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat Makan Ramah Keluarga di Bandung, Bisa Buat Kumpul Keluarga Besar
Pada tahun 1978, bentuk kombinasi huruf dengan siluet kucing kembali terlihat.
Namun, siluet kucing yang digunakan pada tahun 1970 hampir sama, dan sedikit diubah pada tahun 1980.
Logo yang sama kembali terlihat pada tahun 1988 hingga saat ini.
PUMA dimasa modern
Brand ini terus berinovasi meskipun telah berhasil dalam olahraga selama bertahun-tahun.
Selain itu, PUMA ingin produk mereka dibeli oleh orang-orang yang tidak biasa, jadi mereka bekerja sama dengan desainer terkenal seperti Jil Sander, Alexander McQueen, dan Hussein Chalayan.
Baca Juga: Berikut 4 Rekomendasi Nasi Goreng Terenak yang Bisa Anda Coba Saat Berkunjung ke Yogyakarta
Pada tahun 1998, kerja sama mereka dengan Jil Sander melahirkan generasi baru.
Sepatu lari "Easy Rider" dari Puma King adalah versi gaya hidupnya.
Setelah berfokus pada produk fesyen, PUMA kembali mengeluarkan lini terbarunya, "Mostro".
Lini ini sangat sukses karena sederhana dan mudah digunakan.
Madonna, penyanyi terkenal di seluruh dunia, sempat mengenakan sepatu PUMA Mostro selama turnya.
Karena peristiwa tersebut, sepatu ini semakin populer dan ngetren di seluruh dunia.
Selain itu, Puma juga memperkenalkan Puma Speedcat, untuk para pengemudi Formula One dan kejuaraan balap motor, dan pertama kali dirilis pada tahun 1998 dengan kemampuan anti-api.
Pada tahun 2001, versi yang lebih santai dengan berbagai warna dirilis untuk memenuhi permintaan fesyen masyarakat.
PUMA tidak hanya bekerja sama dengan desainer dalam industri mode, tetapi juga berkembang ke dunia motorsport, dengan melakukan ko-branding dengan Ferrari dan Ducati.
Meskipun demikian, PUMA terus memberikan kesempatan bagi mereka yang menyukai versi lebih tua dari merek, dengan merilis ulang versi vintage merek dengan berbagai bahan dan warna.
Itulah sejarah singkat mengenai PUMA dan perkembangannya sehingga menjadi salah satu produk unggulan, yang pada akhirnya diboikot karena memang mendukung Israel.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Pemuda dan Mahasiswa Jateng Didorong Perkuat Gerakan Antikorupsi, Alumni Kelas Antikorupsi Mulai Jalankan Rencana Aksi
- 2PT Pandawa LED Indonesia Buka Lowongan Admin Support di Semarang, Fresh Graduate Bisa Melamar!
- 3Infinix SMART 20e Segera Masuk Indonesia, Bawa Baterai 6.000mAh dan Layar 120Hz
- 4Kolaborasi Pegadaian dan BCA Digital Hadirkan Investasi Emas Mulai Rp10.000 via Aplikasi blu
- 5Kebakaran Lahan Balekambang Malam Hari, BAGANA Bergerak Cepat Bersama Warga dan Aparat Padamkan Api
- 6Sesa Creative Buka Lowongan Social Media Specialist, Content Creator, dan Graphic Designer di Semarang
- 7Rekomendasi Kabel Charger Pihak Ketiga Terbaik 2026: Bersertifikat, Awet, dan Terjangkau
- 8Atria Hotel Magelang Tunjukkan Kesiapan Gelar Acara Skala Besar, 1.500 Peserta Sosialisasi Jaminan Sosial Hadir
- 9Stunting Semarang Turun Jadi 4,49 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi hingga Program MBG
- 10Bocoran iPhone 20 Pro: Layar Lebih Besar dan Desain Borderless


