Kritikus Kasih Skor 10%, Tapi Penonton Kasih A! Ada Apa di Balik Meledaknya Dokumenter Melania?

JATENG.AKURAT.CO, Dokumenter terbaru Amazon MGM berjudul Melania langsung memicu perbincangan luas setelah mencatat debut box office yang solid.
Di tengah pasar film yang biasanya kurang ramah bagi film dokumenter, Melania justru mampu menembus jajaran teratas pada akhir pekan pembukaannya.
Keberhasilan ini menimbulkan banyak pertanyaan, mulai dari siapa target penontonnya, bagaimana struktur pendanaannya, hingga apa rencana Amazon MGM saat film ini berpindah ke layanan streaming.
Sebagai dokumenter politik-biografis, Melania berada di wilayah yang sensitif sekaligus strategis.
Film ini bukan hanya produk hiburan, tetapi juga bagian dari lanskap media dan politik Amerika Serikat.
Dengan investasi besar dan hasil awal yang cukup mencolok, Melania kini menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana dokumenter dapat berfungsi sebagai aset bisnis sekaligus alat pengaruh.
Baca Juga: Sang Legenda Suara Emas Kembali! Nikmati Pesona Doris Day dalam Koleksi 4 Film Blu-ray Terbaru
Melania Debut di Posisi Tiga Box Office Amerika Utara
Pada akhir pekan pembukaannya, Melania menempati posisi ketiga box office Amerika Utara dengan pendapatan US$7,04 juta dari 1.778 bioskop, menurut data Box Office Mojo.
Film ini berada di bawah Send Help arahan Sam Raimi (US$20 juta) dan Iron Lung karya Markiplier (US$17,5 juta).
Berbeda dengan dua film teratas yang didominasi penonton pria muda usia 18–25 tahun, Melania justru menarik segmen yang sangat spesifik.
Data menunjukkan 83% penonton berusia di atas 45 tahun dan 72% di antaranya perempuan, menjadikan film ini sangat kuat di kalangan penonton dewasa.
Profil Penonton: Dominan Perempuan dan Wilayah Konservatif
Berdasarkan laporan PostTrak, sekitar 75% penonton Melania berkulit putih, dengan 11% penonton Hispanik serta masing-masing 4% dari penonton kulit hitam dan Asia.
Film ini justru tampil lemah di pasar urban besar seperti Los Angeles dan New York.
Sebaliknya, performa terbaik datang dari kota-kota yang cenderung konservatif, seperti West Palm Beach, Dallas, dan Orlando.
Bioskop dengan pendapatan tertinggi adalah Cinemark Palace di West Palm Beach, disusul lokasi-lokasi di Fort Myers, Nashville, dan Phoenix, menurut Variety.
Pola ini mengindikasikan bahwa Melania memiliki daya tarik kuat di basis penonton tertentu yang sangat tersegmentasi.
Biaya Produksi Fantastis dan Respons Kritikus
Amazon MGM dilaporkan membayar US$40 juta untuk film Melania beserta serial dokumenter pendampingnya di streaming.
Selain itu, studio ini juga menggelontorkan sekitar US$35 juta untuk pemasaran, menjadikannya salah satu dokumenter termahal yang pernah dibuat.
Meski demikian, respons kritikus sangat negatif. Film ini hanya mengantongi skor 10% di Rotten Tomatoes.
Namun, reaksi penonton justru berbanding terbalik, dengan nilai “A” dari CinemaScore.
Menariknya, hanya 4% pembeli tiket yang mengaku terpengaruh oleh ulasan kritikus sebelum menonton.
Kontroversi Pendanaan dan Strategi Jangka Panjang
Disutradarai oleh Brett Ratner, dokumenter ini mengikuti Melania Trump selama 20 hari menjelang pelantikan kedua Donald Trump.
Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa lebih dari 70% dari dana US$40 juta mengalir langsung kepada Melania Trump.
Fakta ini memicu spekulasi di kalangan analis industri mengenai motif finansial Amazon MGM.
Pihak Amazon MGM menegaskan bahwa nilai utama Melania tidak hanya terletak pada box office, melainkan pada performa jangka panjangnya di Prime Video.
Kepala distribusi domestik Amazon MGM, Kevin Wilson, menyebutkan bahwa kekuatan streaming menjadi faktor utama dalam keputusan investasi ini.
Presiden Donald Trump sendiri ikut mempromosikan film ini di Truth Social dan menyebutnya sebagai “BLOCKBUSTER”.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










