Jateng

Simulasi UMK Semarang 2027: Skenario Moderat Rp3,9 Juta, Skenario Buruh Rp4,05 Juta

Theo Adi Pratama | 31 Oktober 2026, 10:34 WIB
Simulasi UMK Semarang 2027: Skenario Moderat Rp3,9 Juta, Skenario Buruh Rp4,05 Juta
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Simulasi UMK Kota Semarang 2027 menunjukkan dua wajah yang sama-sama tidak menyenangkan: skenario moderat mentok di kisaran Rp3,9 juta, skenario buruh menembus Rp4,05 juta, sementara KHL kota ini sudah diklaim Rp4,1 juta—dan pembahasan resminya masih mandek menunggu regulasi pusat.

Bayangkan seorang buruh di Semarang membuka ponsel pada akhir Oktober 2026. Ia membaca berita bahwa UMK 2027 akan naik. Angkanya beredar di grup WhatsApp: ada yang menyebut Rp3,9 juta, ada yang menyebut Rp4,05 juta.

Ia lalu melihat harga beras, tarif kos, dan tagihan listrik di layar yang sama.

Angka pertama terasa seperti janji. Angka kedua terasa seperti harapan. Dan KHL yang disebut-sebut Rp4,1 juta terasa seperti ejekan halus.

Tahun 2026, UMK Kota Semarang sudah Rp3.701.709. Angka itu tertinggi di Jawa Tengah, naik 7,15 persen dari tahun sebelumnya.

Tapi KHL kota ini, menurut survei Aliansi Buruh Jawa Tengah (Abjat) bersama akademisi Undip pada 2026, berada di kisaran Rp4,1 juta.

Selisihnya sekitar Rp400 ribu. Bukan angka yang bisa ditutup dengan “terima kasih atas kerja kerasnya”.

Baca Juga: KHL Jateng 2027: Dari 10 Kg Beras sampai Kuota Internet, Totalnya Rp3,5 Juta

Dua Skenario, Satu Arah yang Sama

Sampai detik ini, belum ada keputusan resmi. Pembahasan UMK 2027 di Jawa Tengah masih berlangsung di meja Dewan Pengupahan, dan Ketua FSPIP sekaligus anggota Dewan Pengupahan Provinsi Jateng, Karmanto, mengakui prosesnya mandek karena menunggu panduan turunan UU Pelindungan Ketenagakerjaan yang baru.

Jadi, semua angka di bawah ini adalah simulasi. Bukan keputusan. Tapi arahnya sudah kelihatan.

Skenario

Asumsi Kenaikan

UMK 2027 (Simulasi)

Selisih dari 2026

Gap ke KHL Rp4,1 Juta

Moderat (alfa 0,5–0,7)

5,8%–7,0%

Rp3.916.408–Rp3.960.829

+Rp214.699–Rp259.120

±Rp139.000–Rp184.000

Buruh (usulan KSPI)

7,5%–9,5%

Rp3.979.337–Rp4.053.371

+Rp277.628–Rp351.662

±Rp47.000–Rp121.000

Sumber: simulasi berdasarkan UMK Semarang 2026, formula PP 49/2025, usulan KSPI 7,5–9,5 persen, dan KHL Semarang Rp4,1 juta.

Skenario moderat memakai asumsi inflasi Jawa Tengah sekitar 2,8 persen dan pertumbuhan ekonomi Kota Semarang 5,9–6,3 persen, dengan alfa di batas bawah hingga menengah. Skenario buruh memakai usulan KSPI yang sudah beredar sejak 13 Oktober 2026.

Dua-duanya naik. Tapi tidak ada satu pun yang benar-benar “mengejar” KHL. Yang paling dekat, skenario buruh 9,5 persen, masih menyisakan gap sekitar Rp47 ribu. Itu pun kalau KHL-nya benar Rp4,1 juta. Kalau memakai angka survei Abjat yang lebih rendah, Rp3.825.000, skenario 9,5 persen justru sudah melampaui KHL.

Di sinilah masalahnya: KHL bukan satu angka. Ia bisa berbeda tergantung siapa yang menghitung, komponen apa yang dimasukkan, dan di pasar mana survei dilakukan.

“Moderat” Bukan Berarti Buruh Senang

Kata “moderat” sering dipakai untuk menggambarkan angka yang tidak terlalu tinggi bagi pengusaha dan tidak terlalu rendah bagi buruh. Di atas kertas, kedengarannya adil. Di lapangan, “moderat” berarti kenaikan Rp214 ribu sampai Rp259 ribu dari UMK 2026.

Bagi pekerja lajang yang belum punya tanggungan, tambahan Rp250 ribu bisa berarti satu-dua kali makan di warung, atau satu bulan kuota internet. Bagi pekerja yang sudah berkeluarga, tambahan itu bisa habis dalam beberapa hari pertama bulan.

Pengusaha punya alasan sendiri. Apindo sempat menyebut kenaikan upah minimum 2027 diperkirakan tidak jauh dari 3,5 persen, dengan alasan produktivitas dan daya saing industri. Ketua Apindo Semarang bahkan pernah mengusulkan alfa 0,5 karena kondisi industri dinilai lemah dan disparitas upah dengan daerah lain perlu dijaga.

Artinya, skenario moderat di tabel ini pun sebenarnya sudah lebih tinggi dari usulan pengusaha. Kalau alfa 0,5 benar-benar dipakai, kenaikannya hanya sekitar 5,8 persen—masih di kisaran Rp3,91 juta. Bukan Rp4 juta.

Skenario Buruh: Rp4,05 Juta, Tapi Masih Ada “Tapi”

KSPI bersama Partai Buruh resmi mengusulkan kenaikan upah minimum 2027 sebesar 7,5 sampai 9,5 persen. Presiden KSPI Said Iqbal menyebut angka itu bisa dihitung sekarang karena formula PP 49/2025 masih memakai indeks tertentu 0,5 sampai 0,9.

Kalau usulan itu diterima penuh, UMK Kota Semarang 2027 menjadi Rp4.053.371. Untuk pertama kalinya, UMK Semarang menembus Rp4 juta. Angka itu layak dirayakan. Tapi jangan lupa: KHL yang diklaim buruh sendiri adalah Rp4,1 juta. Artinya, bahkan skenario paling agresif pun belum sepenuhnya menutup jarak.

Abjat sudah menyuarakan hal ini sejak jauh hari. “Kota Semarang itu KHL-nya Rp4,1 juta, upahnya kita Rp3,7 juta,” kata Aulia Hakim, dikutip Beritajateng.tv. Kalimat itu bukan retorika. Itu pengurangan sederhana yang tidak pernah selesai.

Formula PP 49/2025: Mesin yang Membatasi

Semua simulasi ini bertumpu pada satu regulasi: PP No. 49/2025. Rumusnya sederhana: inflasi + (pertumbuhan ekonomi × alfa). Nilai alfa dipatok dalam rentang 0,5 sampai 0,9.

Kalau inflasi 2,8 persen dan pertumbuhan ekonomi 6,0 persen, maka:

  • Alfa 0,5: kenaikan 5,8 persen.

  • Alfa 0,7: kenaikan 7,0 persen.

  • Alfa 0,9: kenaikan 8,2 persen.

Perhatikan bahwa bahkan alfa maksimal 0,9 pun tidak otomatis menghasilkan kenaikan 9,5 persen, kecuali inflasi dan pertumbuhan ekonominya lebih tinggi. Artinya, usulan buruh 9,5 persen tidak sepenuhnya berasal dari formula. Ia adalah angka politik—tuntutan yang dinegosiasikan, bukan hasil hitungan murni.

DPRD Jawa Tengah sendiri sudah menyatakan tidak bisa secara sepihak menyepakati tuntutan buruh 10 persen, meskipun berjanji mendorong penetapan alfa maksimal. Jadi, arahnya sudah kelihatan: pemerintah provinsi cenderung mencari angka tengah, bukan angka buruh, bukan angka pengusaha.

Deadline 30 November: Yang Ditentukan Bukan Cuma Angka

Kepala Disnakertrans Jawa Tengah, Ahmad Aziz, memastikan UMP 2027 ditetapkan paling lambat 21 November 2026, sementara UMK dan upah sektoral kabupaten/kota pada 30 November 2026.

Sampai tanggal itu tiba, semua angka di artikel ini adalah simulasi. Tidak ada yang bisa diklaim sebagai “kemenangan buruh” atau “kekalahan pengusaha”. Yang ada hanya hitungan, tuntutan, dan waktu yang terus berjalan.

Tapi ada satu hal yang tidak perlu menunggu 30 November untuk diketahui: berapa pun angka yang keluar nanti, ia akan tetap di bawah KHL Rp4,1 juta—kecuali kalau pemerintah kota memutuskan untuk melampaui formula dan mengambil langkah politik yang berani. Dan sejarah menunjukkan bahwa langkah seperti itu jarang terjadi.

Buruh di Semarang tidak menuntut hidup mewah. Mereka menuntut agar Rp4,1 juta yang mereka hitung sendiri—untuk beras, minyak, listrik, transportasi, dan uang sekolah—tidak terus diabaikan dengan alasan “daya saing”. UMK 2027 boleh naik 5,8 persen. Boleh naik 9,5 persen. Tapi selama angka itu masih di bawah KHL, kenaikan hanya akan terasa seperti berjalan di tempat yang lebih rapi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.