Program Sekolah Inklusi Terkendala Jumlah Guru Pendamping Disabilitas

JATENG.AKURAT.CO, Terbatasnya guru bantu atau guru pendamping khusus disabilitas cukup membatasi pengembangan program pendidikan inklusi di Kota Semarang.
Hal ini diungkap oleh Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo dalam agenda Ngopi Bareng Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang.
"Belum bisa semuanya, kendalanya di guru bantu atau pendamping," tegas Anang, Kamis (20/6/2024).
Menurut Anang, peran guru mata pelajaran yang memahami psikologi penyandang disabilitas juga menjadi penting karena jumlah guru pendamping disabilitas masih terbatas.
"Perlu peningkatan pemahaman dari guru mata pelajaran (soal disabilitas) karena guru pendamping anak-anak (disabilitas) ini belum cukup untuk semua kelas dan semua rombel (rombongan belajar)," bebernya.
Oleh sebab itu, Anang mengusulkan agar ada pilot project mengenai sekolah inklusi ini.
"Maka paling tidak dipilot-project dulu. Dari sini nanti biar mereka melakukan studi dulu sambil pelan-pelan APBD nanti biar mem-back up semua sekolah inklusi," bebernya.
Ketika ditanya apa perbedaan sekolah inklusi dengan Sekolah Luar Biasa (SLB), Anang mengatakan perbedaannya ada pada kurikulumnya.
Karena sejatinya sekolah inklusi adalah sekolah reguler yang memberikan fasilitas bagi penyandang disabilitas dengan kriteria tertentu.
"Kalau SLB kan memang kurikulumnya beda dengan yang inklusi. Karena inklusi itu sekolah reguler tapi mengakomodir penyandang disabilitas dengan kriteria tertentu yang bisa mengikuti kurikulum reguler," bebernya.
Tapi Anang menegaskan, walaupun sekolah reguler, tapi harus ramah disabilitas mulai dari akses jalan masuk jalan ke kelas, dan lainnya.
Anang mencontohkan SMPN 9 dan SMPN 45 Semarang yang harus diperhatikan serius.
"Coba kita lihat kaya SMP 9 itu anak yang dari kelas kemudian dibawa kegiatan keluar, naik turunnya susah. Atau SMP 45 yang tingginya 4 lantai," bebernya.
Kemudian khusus SMPN 45 Semarang yang tingginya hingga 4 lantai. Anang mengatakan, non disabilitas saja kesulitan naik turun lantai, apalagi yang disabilitas.
"Tentukan yang seperti ini kan harus ada kebijakan khusus, SMP 45 itu kan lantainya ada 4. Orang guru normal yang sepuh setiap hari naik 4 lantai itu juga udah sangat kecapekan," bebernya.
Anang mengatakan, selain fasilitas fisik yang harus memadai bagi disabilitas seperti toilet dan lain-lain, guru pendamping khusus disabilitas juga sangat dibutuhkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Pemuda dan Mahasiswa Jateng Didorong Perkuat Gerakan Antikorupsi, Alumni Kelas Antikorupsi Mulai Jalankan Rencana Aksi
- 2PT Pandawa LED Indonesia Buka Lowongan Admin Support di Semarang, Fresh Graduate Bisa Melamar!
- 3Infinix SMART 20e Segera Masuk Indonesia, Bawa Baterai 6.000mAh dan Layar 120Hz
- 4Kolaborasi Pegadaian dan BCA Digital Hadirkan Investasi Emas Mulai Rp10.000 via Aplikasi blu
- 5Kebakaran Lahan Balekambang Malam Hari, BAGANA Bergerak Cepat Bersama Warga dan Aparat Padamkan Api
- 6Sesa Creative Buka Lowongan Social Media Specialist, Content Creator, dan Graphic Designer di Semarang
- 7Rekomendasi Kabel Charger Pihak Ketiga Terbaik 2026: Bersertifikat, Awet, dan Terjangkau
- 8Atria Hotel Magelang Tunjukkan Kesiapan Gelar Acara Skala Besar, 1.500 Peserta Sosialisasi Jaminan Sosial Hadir
- 9Stunting Semarang Turun Jadi 4,49 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi hingga Program MBG
- 10Bocoran iPhone 20 Pro: Layar Lebih Besar dan Desain Borderless






