Jateng

Bernostalgia Kisah Tempo Dulu, Sembari Berburu Barang Antik di Pasar Triwindu Solo

Arixc Ardana | 28 Mei 2024, 10:05 WIB
Bernostalgia Kisah Tempo Dulu, Sembari Berburu Barang Antik di Pasar Triwindu Solo

AKURAT.CO, Berwisata ke Kota Solo, kurang lengkap rasanya jika belum menginjakkan kaki di Pasar Triwindu.

Pasar Triwindu ini tak hanya menyajikan barang antik untuk diperjualbelikan, tetapi juga membawa kenangan tempo dulu ke masa sekarang

Jika beruntung, pengunjung bahkan bisa bernostalgia dengan menemukan barang-barang antik yang pernah dijumpai saat masih kecil, atau jaman dahulu kala (jadul).

Baca Juga: Pesona Tersembunyi Keindahan Alam Magelang: Rekomendasi Wisata Menarik Saat Berlibur di Kota Sejuta Bunga

Bagi banyak pedagang di sana, Pasar Triwindu bukan sekadar tempat berjualan, melainkan sebuah rumah di mana mereka merajut ikatan dengan sejarah dan kehidupan sehari-hari.

Dibangun pada tahun 1939, Pasar Triwindu telah menjadi saksi bisu perubahan zaman.

Awalnya hanya lahan kecil dengan meja-meja sederhana, tempat ini berkembang menjadi pusat perdagangan yang memamerkan kekayaan budaya dan sejarah.

Nama Triwindu sendiri dipilih sebagai penghormatan terhadap peristiwa bersejarah, bertepatan dengan 24 tahun pemerintahan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII.

Kehadiran pasar ini tak lepas dari jejak masa penjajahan Jepang.

Pada masa sulit itu, banyak bangsawan yang memilih menjual barang-barang antik dan koleksi seni mereka di Pasar Triwindu.

Inilah yang membuat pasar ini menjadi salah satu pusat perdagangan terpenting di Solo pada era tersebut.

Namun, peran Pasar Triwindu tidak hanya terpaku pada masa lalu. Seiring berjalannya waktu, pasar ini terus berkembang.

Pada Juli 2008, pasar ini menjalani renovasi besar-besaran sesuai dengan arsitektur sekitar Solo.

Dari hanya lahan satu lantai, kini Pasar Triwindu telah berubah menjadi bangunan bertingkat dua, memberikan ruang yang lebih luas dan nyaman bagi para pedagang dan pengunjungnya.

Meskipun mengalami perubahan besar, Pasar Triwindu tetap memelihara nuansa klasiknya.

Banyak pedagang di sana yang mewariskan tempat berjualan kepada generasi berikutnya, menjadikan pasar ini sebagai bagian dari sejarah dan warisan keluarga.

Pada suatu masa, pasar ini sempat berganti nama menjadi Pasar Windujenar, mengikuti semangat peremajaan yang dilakukan.

Namun, pada tahun 2011, pasar kecil ini kembali merangkak ke akarnya, mengambil kembali nama yang sarat makna, Triwindu.

Dengan segala keunikan dan sejarahnya, Pasar Triwindu bukan hanya sekadar tempat jual beli barang antik. Ia adalah cermin dari kehidupan dan kekayaan budaya Solo yang harus dilestarikan dan dijaga keberadaannya.

Bagi pengunjung yang menyusuri lorong-lorongnya, Pasar Triwindu menawarkan lebih dari sekadar belanja, melainkan pengalaman yang menggugah rasa ingin tahu akan sejarah dan keindahan masa lampau.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.