Jateng

Menyusuri Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit di Candi Cetho, Menjulang Gagah di Lereng Gunung Lawu Karanganyar

Arixc Ardana | 17 Mei 2024, 14:42 WIB
Menyusuri Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit di Candi Cetho, Menjulang Gagah di Lereng Gunung Lawu Karanganyar


AKURAT.CO, Candi Cetho, sebuah peninggalan budaya Hindu yang memukau, terletak dengan megahnya di lereng Gunung Lawu.

Berlokasi di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, situs ini menyuguhkan keajaiban arsitektur yang memikat serta cerita sejarah yang mendalam.

Mengukir pesonanya pada ketinggian sekitar 1496 meter di atas permukaan laut, Candi Cetho adalah perwujudan zaman Hindu di Indonesia.

Dibangun pada masa Majapahit pada abad ke-15 Masehi, situs ini menjadi saksi bisu kejayaan peradaban masa lalu.

Konsep megalitik yang terpahat dengan megah di setiap sudutnya memberikan gambaran tentang kekayaan budaya yang kaya akan filosofi.

Pembangunan candi ini diperkirakan dimulai pada tahun 1451 M (1373 Saka).

Permulaan pembangunan candi ditulis dalam bentuk sengkalan memet atau penulisan dalam bentuk binatang, tumbuhan, dan lainnya.

Sengkalan yang ada di Candi Cetho berupa tiga ekor katak, mimi, ketam, seekor belut, dan tiga ekor kadal.

Menurut Bernet Kempers, seorang peneliti asal Belanda, belut berarti 3, wiku berarti 7, anahut berarti 3, sedangkan iku=mimi berarti 1.

Sementara, pembangunan Candi Cetho diperkirakan selesai dibangun pada tahun 1475 M (1397 Saka).

Hal ini diketahui berdasarkan prasasti yang ditulis dengan huruf Jawa kuno di dinding gapura.

Prasasti tersebut bertuliskan “Pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397”, 

Prasasti tersebut dapat ditafsirkan sebagai peringatan pendirian tempat peruwatan atau tempat untuk membebaskan diri dari kutukan pada tahun 1397 Saka.

Dari prasasti tersebut diketahui, jika Candi Cetho dibangun sebagai tempat ruwatan atau tempat upacara tolak bala pada era Kerajaan Majapahit

Keberadaan Candi Cetho pertama kali diungkap oleh Van der Vlies pada tahun 1842.

Hasil penelitian ini kemudian diteruskan oleh W.F. Stuterheim, K.C. Crucq, dan A.J. Bernet Kempers.

Saat pertama kali ditemukan, candi ini memiliki 13 teras.

Tapi saat ini, hanya terdapat 9 teras.

Kesembilan teras yang dapat ditemukan pada saat ini merupakan hasil pemugaran yang dilakukan pada tahun 1975-1976. 

Pada teras pertama, terdapat gapura besar yang merupakan penambahan saat pemugaran dan dua arca penjaga.

Titik ini menjadi tempat spot foto yang paling banyak digunakan wisatawan, sebab dengan sudut pengambilan gambar yang tepat, dapat menghasilkan foto yang menakjubkan.

Naik ke teras kedua, dapat dijumpai petilasan Ki Ageng Kricingwesi.

Ki Ageng Kricingwesi dipercaya sebagai leluhur masyarakat Dusun Ceto.

Di teras ketiga, terdapat batu mendatar yang disusun membentuk kura-kura raksasa.

Kura-kura ini diperkirakan merupakan lambang Majapahit yang disebut surya Majapahit.

Selain itu, ada pula simbol phallus (alat kelamin pria) sepanjang 2 meter.

Kura-kura merupakan lambang penciptaan alam semesta, sedangkan phallus merupakan lambang penciptaan manusia.

Selain itu, di teras ini juga terdapat penggambaran hewan-hewan atau disebut juga sengkalan memet yang merupakan catatan dimulainya pembangunan candi ini.

Naik ke teras keempat, terdapat relief yang memuat cuplikan kisah Samudramanthana dan Garudeya.

Kedua cerita tersebut merupakan mitos-mitos agama hindu.

Dalam kisah Samudramanthana diceritakan taruhan antara kedua istri Kasyapa yaitu Kadru dan Winata pada pengadukan lautan susu untuk mencari air amarta atau air kehidupan.

Kadru menebak bahwa ekor kuda pembawa air amarta yang akan keluar dari lautan susu berwarna hitam, sedangkan Winata menebak ekor kuda itu berwarna putih.

Ternyata kuda yang membawa air amarta berwarna putih.

Tetapi anak-anak Kadru yang berwujud ular menyemburkan bisanya sehingga warna ekornya berubah menjadi hitam. Walupun bertindak curang Kadru menang dalam taruhan. Kemudian Winata dijadikan budak oleh Kadru.

Selanjutnya diteruskan dengan cerita Garudeya yang berisi pembebasan Winata oleh anaknya, Garuda.

Ia menemui para ular minta ibunya dibebaskan dari budak Kadru. Mereka setuju asal garuda dapat menukarnya dengan air amarta.

Garuda pergi ke tempat penyimpanan air amarta dan mencurinya dari penjagaan para dewa. Air tersebut diserahkan kepada para ular.Akhirnya Winata dibebaskan dari perbudakan Kadru.

Berdasarkan simbol-simbol dan mitologi yang ditampilkan oleh arca-arcanya, fungi Candi Ceto merupakan tempat dimana dilaksanakannya ritual peruwatan atau tempat untuk membebaskan orang dari kutukan karena melakukan kesalahan-kesalahannya.

Setelah diruwat orang menjadi suci kembali seperti baru dilahirkan.

Arca garuda dan kura-kura dimaksudkan untuk menjelaskan cerita Samudramanthana dan Garudeya yang mengisahkan tentang kutukan dan pembebasannya. 

Adanya cuplikan dua kisah ini juga menguatkan asumsi fungsi Candi Cetho sebagai tempat peruwatan.

Sementara, pada teras kelima dan keenam, terdapat bangunan berupa pendapa yang sering digunakan sebagai tempat berlangsungnya upacara-upacara keagaamaan.

Pada teras ketujuh, terdapat dua arca di sisi utara dan selatan.

Arca tersebut adalah arca Sabdapalon dan Nayagenggong.

Menurut kepercayaan, Sabdapalon dan Nayagenggong merupakan penasihat spiritual Prabu Brawijaya V.

Di teras kedelapan, terdapat arca phallus yang disebut “kuntobimo” dan arca Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa.

Sementara, teras yang terakhir atau teras sembilan merupakan tempat pemanjatan doa.

Teras kesembilan ini tidak dibuka setiap saat. Pada tangga masuknya, terdapat gerbang yang dikunci.

Gerbang baru dibuka pada acara-acara khusus, seperti sembahyang.

Tiket Masuk

Bagi para pengunjung yang ingin menyaksikan keindahan Candi Cetho, pintu masuk terbuka mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

Untuk menikmati keajaiban ini, cukup membayar tiket masuk dengan harga yang terjangkau.

Bagi wisatawan lokal, tiket masuknya hanya Rp. 10.000 sedangkan bagi wisatawan mancanegara, tiket masuknya seharga Rp. 30.000

Proses pembelian tiket masuk telah disederhanakan dengan penggunaan E-Ticketing, memudahkan para pengunjung dalam menikmati pengalaman wisata yang menyenangkan.

Fasilitas yang Memadai

Untuk kenyamanan para pengunjung, Candi Cetho menyediakan beragam fasilitas, mulai dari toilet yang bersih dan nyaman, mushola untuk beribadah, hingga toko oleh-oleh dan cinderamata untuk membawa pulang kenangan indah dari tempat ini.

Area parkir yang luas juga memastikan kenyamanan dalam mengunjungi situs ini.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.