Jateng

Mengungkap Sisi Misteri dan 3 Mitos Punden Berundak di Candi Kethek: Warisan Mistis Lereng Gunung Lawu

Theo Adi Pratama | 19 Februari 2024, 10:00 WIB
Mengungkap Sisi Misteri dan 3 Mitos Punden Berundak di Candi Kethek: Warisan Mistis Lereng Gunung Lawu

AKURAT.CO Misteri, Candi Kethek, yang terletak di lereng Gunung Lawu, menyimpan sejumlah mitos dan legenda yang menjadi bagian dari warisan mistis di tanah Jawa.

Bangunan ini, seperti banyak candi Majapahit lainnya, mengusung konsep punden berundak, sebuah konstruksi yang sarat dengan makna spiritual bagi masyarakat Nusantara.

Mari kita jelajahi tiga mitos yang menyelimuti punden berundak di Candi Kethek.

Baca Juga: Misteri yang Menyelimuti Gunung Slamet: dari Adanya Gerbang Gaib Hingga Pasar Setan yang Menghantui

1. Tempat Bersemayam Roh Leluhur

Punden berundak, dengan desainnya yang menyerupai gunung, bukan hanya menjadi tempat pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu, tetapi juga diyakini sebagai tempat bersemayam roh leluhur oleh masyarakat Austronesia.

Mereka meyakini bahwa hubungan dengan leluhur yang telah tiada dapat memengaruhi kesejahteraan dan kesuburan manusia.

Oleh karena itu, punden berundak dibangun semakin mengecil ke atas, menyerupai gunung, sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang.

Baca Juga: Mengungkap Misteri di Balik Keindahan Kawah Ijen Banyuwangi: Surga Dibalik Pesona Alam yang Indah

2. Tempat Bertahannya Para Dewa

Seiring dengan masuknya pengaruh agama Hindu, penghormatan terhadap gunung sebagai tempat tinggal para dewa semakin berkembang.

Arsitektur candi Hindu, termasuk Candi Kethek, sering kali mengusung konsep meru atau gunung pada atapnya.

Di masa Majapahit, ketika pengaruh Hindu mulai memudar, kepercayaan asli Nusantara dalam bentuk punden berundak kembali muncul, tercermin dalam desain dan fungsi candi-candi di lereng Gunung Lawu.

3. Peran Gunung Lawu di Akhir Majapahit

Legenda seputar Gunung Lawu juga terkait erat dengan akhir kejayaan Majapahit.

Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit, diyakini melarikan diri ke Gunung Lawu setelah serangan Raden Patah.

Tempat-tempat suci seperti Candi Kethek, Candi Sukuh, dan Candi Cetho, menjadi saksi bisu dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Nusantara.

Di lereng Gunung Lawu, banyak dibangun tempat-tempat suci yang mencerminkan kekayaan spiritual dan kebudayaan masyarakat pada masa Majapahit.

Baca Juga: Misteri dan Mitos Pantai Widuri Pemalang: Kisah-Kisah Tak Biasa di Balik Keindahan Alam

Punden berundak di Candi Kethek bukan hanya menjadi saksi bisu dari masa lalu yang kaya akan legenda dan mitos, tetapi juga merupakan bagian penting dari warisan budaya yang harus dilestarikan dan dipelajari untuk generasi-generasi mendatang.

Melalui penelusuran lebih lanjut tentang mitos-mitos ini, kita dapat lebih memahami akar budaya dan spiritualitas masyarakat Jawa serta memperkaya pengetahuan akan sejarah Nusantara yang kaya dan beragam.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.