Sejarah Kuliner Nusantara: Gatot, Kelezatan Singkong yang Menceritakan Sejarah dan Kekayaan Gunungkidul

AKURAT.CO Sejarah, Kabupaten Gunungkidul, selain dikenal dengan keindahan alamnya, juga menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang khas.
Salah satu makanan yang menjadi daya tarik di wilayah ini adalah "gatot."
Gatot, terbuat dari singkong yang mengalami proses fermentasi, tidak hanya menggoda lidah tetapi juga menyimpan cerita sejarah yang menarik.
Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Legomoro Kotagede, Makanan Khas dengan Filosofi yang Mendalam
Gatot dan Tiwul: Sahabat dalam Kuliner Gunungkidul
Jika Anda telah mengenal tiwul, maka gatot merupakan sahabat setia dalam kuliner Gunungkidul.
Meskipun keduanya terbuat dari singkong, tampilan dan tekstur gatot memiliki perbedaan yang mencolok jika dibandingkan dengan tiwul.
Gatot memiliki tekstur kenyal dan berwarna hitam pekat, hasil dari proses fermentasi singkong.
Di sajikan bersama parutan kelapa, cita rasa manis, asin, dan gurih menyatu begitu indah ketika disantap.
Asal Mula Makanan Gatot: Kisah Singkong yang Bertransformasi
Sejarah gatot bermula dari kondisi tanah Gunungkidul yang tandus dan sering mengalami krisis air.
Singkong menjadi pilihan utama bagi masyarakat karena dianggap mampu menggantikan peran nasi sebagai bahan pokok.
Singkong diolah menjadi tiwul dengan tepung singkong atau gaplek.
Namun, dalam prosesnya, beberapa bahan tidak dapat diproses dengan baik.
Inilah yang menjadi bahan baku pembuatan gatot, memastikan tidak ada yang terbuang.
Awalnya, gatot sering dijadikan makanan pokok yang disandingkan dengan lauk.
Namun, seiring berjalannya waktu, gatot lebih banyak dijadikan camilan khas atau oleh-oleh, tetapi tetap menggoda selera.
Proses Pembuatan dan Kandungan Nutrisi Gatot
Pembuatan gatot memerlukan waktu yang cukup panjang, tetapi bahan yang dibutuhkan relatif sederhana.
Singkong atau ketela pohon, garam, gula, dan kelapa menjadi komponen utama dalam pembuatan gatot.
- Fermentasi Singkong: Singkong dipotong dan dijemur selama 5-7 hari, menghasilkan gaplek atau singkong kering yang mengalami fermentasi. Gaplek direndam hingga kenyal.
- Proses Pengukusan: Gaplek yang sudah kenyal dikukus selama dua jam dengan tambahan garam atau gula merah untuk meningkatkan cita rasa. Parutan kelapa ditambahkan saat penyajian.
Meskipun terlihat hitam, gatot memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi.
Dengan 4,2 gram serat pangan per 100 gram, gatot menjadi sumber serat yang baik.
Sebagai sumber karbohidrat, gatot juga memiliki kandungan yang lebih tinggi dibandingkan beras.
Gatot dalam Ancaman Modernisasi
Sayangnya, meskipun kaya akan keunikan dan kandungan nutrisi, gatot mulai kehilangan peminatnya, terutama di kalangan generasi muda.
Gatot dianggap kurang menarik dan kurang dikenal.
Ini menunjukkan bahwa makanan tradisional seperti gatot harus dipertahankan agar tidak hilang ditelan arus modernisasi.
Tetapkan Gatot sebagai Destinasi Kuliner di Gunungkidul
Meskipun terancam oleh perubahan zaman, gatot tetap menjadi warisan kuliner yang patut dijaga.
Jika Anda mengunjungi Kabupaten Gunungkidul, jangan lupa mencicipi kelezatan singkong yang satu ini.
Dengan harga terjangkau, kisah gatot akan melengkapi pengalaman wisata kuliner Anda di kawasan Gunungkidul.
Dapatkan gatot di toko oleh-oleh yang tersebar di seluruh daerah Gunungkidul dan nikmati kenikmatannya yang unik dan berharga.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 7Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?








