Jateng

Musim Hujan Bikin Cuan: Dari Ojek Payung sampai Sedot WC, Ini Profesi Musiman yang Patut Dicoba

Theo Adi Pratama | 27 Oktober 2026, 15:32 WIB
Musim Hujan Bikin Cuan: Dari Ojek Payung sampai Sedot WC, Ini Profesi Musiman yang Patut Dicoba

JATENG.AKURAT.CO, Musim hujan bukan cuma soal genangan dan baju yang enggan kering, tapi juga soal rezeki dadakan yang datang bersama tetes air: dari tukang ojek payung yang modalnya cuma sebatang payung, pedagang jas hujan yang bisa untung Rp200 ribu sehari, sampai tukang servis jok motor yang orderannya meledak begitu hujan pertama turun.

Bayangkan sebuah mal di Palembang, sore hari. Hujan deras tiba-tiba turun, dan pelataran parkir berubah jadi kolam. Dalam hitungan menit, puluhan orang dengan payung terbuka muncul dari balik tiang, menawarkan jasa antar sampai ke mobil. Mereka adalah tukang ojek payung—profesi musiman yang lahir dari ketidakpastian cuaca dan kebutuhan orang untuk tetap kering.

Andi, salah satunya. Ia sudah berdiri di lokasi sejak siang, berharap hujan membawa keberuntungan. “Terkadang saya mendapat banyak uang dalam satu hari. Namun seringkali hasil yang diperoleh justru sangat minim sekali,” katanya, seperti dikutip RRI.

Pendapatan ojek payung memang tidak pernah pasti. Semua bergantung pada intensitas hujan dan jumlah pengunjung. Saat hujan deras dan pengunjung ramai, penghasilan bisa lumayan. Namun jika hujan hanya sebentar atau pengunjung sepi, pendapatan nyaris tak ada. Tarifnya pun sukarela. “Tidak ada tarif khusus. Seikhlasnya saja,” ujar Andi.

Di tempat lain, seorang ibu bernama Bu Muji pernah mendapat penghasilan hampir Rp100.000 dari ojek payung, dengan tarif Rp5.000 per antar ke gerbang Kampung Coklat. “Fantastis hanya bermodalkan sebuah payung bisa memperoleh penghasilan melebihi pekerja harian di Desa,” tulis catatan dari Plosorejo.

Baca Juga: WiFi Kost Lemot di Jam Krusial? Ini 7 Trik yang Bisa Kamu Coba Tanpa Jadi Ahli Jaringan

Pedagang jas hujan: untung Rp200 ribu sehari

Di pinggir Jalan I Gusti Ngurah Rai, Jakarta Timur, Muslim (50) menggantung dagangannya di rangka kayu sederhana. Jas hujan warna-warni bergoyang tertiup angin, mencolok di antara lalu-lalang kendaraan. Sejak musim penghujan tiba, ia mengaku bisa meraup keuntungan hingga ratusan ribu rupiah per hari.

“Kalau lagi hujan terus seperti sekarang, alhamdulillah bisa dapat untung Rp100 ribu sampai Rp200 ribu sehari,” ujarnya.

Muslim menjual atasan jas hujan seharga Rp5.000 dan satu set baju-celana Rp15.000. Pembelinya beragam: pengendara motor yang kehujanan, hingga warga yang melintas tanpa sedia payung. Dari hasil berjualan jas hujan dan tas slempang, ia mampu menyekolahkan anaknya hingga ke pesantren di Cikarang.

Di Ambon, Asmin mengaku dengan modal Rp173.000, ia bisa meraup untung hingga Rp247.000 per hari jika semua mantel hujan terjual. “Menjual mantel hujan musiman kelihatan biasa-biasa saja. Justru dengan modal kecil tapi hasilnya lumayan,” ujarnya.

Servis jok motor: hujan bikin jok bocor, orderan meledak

Di Padang, Bujang sudah menekuni usaha servis jok motor sejak 1998. Begitu hujan mulai sering turun, order servis jok meningkat karena banyak pengendara baru menyadari jok motornya bocor, kulitnya retak, atau busanya sudah menyerap air.

Kondisi jok yang rembes bikin tidak nyaman, karena pakaian bisa ikut basah dan kotor saat berkendara. Sebelum pandemi, Bujang bisa menyelesaikan hingga 15 jok dalam sehari.

Di Magetan, permintaan jasa pemasangan kulit jok motor juga mengalami lonjakan signifikan saat musim hujan. Intensitas hujan yang tinggi membuat jok cepat lembap, rusak, bahkan mengeluarkan bau tak sedap. Kondisi ini mendorong pemilik kendaraan untuk mengganti lapisan jok dengan bahan yang lebih tebal dan tahan air.

Sedot WC: yang jorok tapi cuannya nyata

Profesi ini mungkin dianggap menjijikkan, tapi saat musim hujan, jasa sedot WC justru kebanjiran order. Saluran pembuangan yang mampet dan septic tank yang penuh menjadi langganan di kawasan padat penduduk.

Untuk satu titik kerusakan atau penyumbatan, Aan bisa mematok tarif Rp250.000 hingga Rp300.000. “Artinya, pendapatan Aan selama dua hari mengurus kotoran manusia setara dengan upah seminggu bekerja sebagai kuli bangunan berpeluh keringat,” tulis Mojok.co edisi 23 Oktober 2026.

Di Bogor, permintaan tinggi terjadi di Bogor Utara dan Selatan, apalagi musim hujan. Tarif rumah tangga berkisar Rp250.000–Rp350.000 per rit, sementara komersial Rp600.000–Rp750.000 per rit. Layanan darurat 24 jam dikenakan tambahan 40 persen.

Tukang atap bocor: hujan adalah alarm alarm

Musim hujan juga membangunkan profesi tukang perbaikan atap bocor dari tidurnya. Ketika hujan deras, atap yang retak atau genteng yang bergeser tiba-tiba menjadi masalah mendesak. Jasa perbaikan atap pun ramai dicari.

Penggantian genteng berkisar Rp25.000–Rp50.000 per keping, sementara upah tukang harian Rp150.000–Rp300.000 per hari. Pekerja pemasangan membran kedap air di Semarang bahkan bisa mendapat gaji Rp2 juta–Rp5 juta per bulan.

Laundry: pakaian tidak kering, pelanggan berdatangan

Siti Halimah, pengelola laundry di Singaraja, mengaku saat musim hujan jumlah pelanggan justru meningkat karena banyak warga kesulitan menjemur pakaian di rumah. “Alhamdulillah laundry kita selalu ramai, saat musim hujan kalau peningkatan iya ada, tapi gak terlalu banyak,” ujarnya.

Tarifnya pun beragam: cuci komplit Rp5.000–Rp6.000 per kilo, paket VIP 3 jam Rp15.000, express 6 jam Rp10.000, dan kilat 24 jam Rp7.000.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.