Jateng

Kenapa Kumis Salvador Dalí Masih “Berbicara” Hampir 40 Tahun Setelah Ia Mati?

Theo Adi Pratama | 29 Oktober 2026, 12:58 WIB
Kenapa Kumis Salvador Dalí Masih “Berbicara” Hampir 40 Tahun Setelah Ia Mati?
Salvador Dali dan kumis yang ikonik

JATENG.AKURAT.CO, Kumis Salvador Dalí bukan cuma rambut wajah yang dicatok lilin: dua ujung runcingnya disebut “antena ke alam semesta”, masih terpasang rapi saat jasadnya dibongkar pada 2017, dan hingga Oktober 2026 masih jadi bintang pameran di Figueres sampai Milan.

Ada satu hal yang sering dilupakan orang saat membayangkan Salvador Dalí. Bukan jam yang meleleh. Bukan gajah berkaki panjang.

Tapi dua helai kumis tipis yang mencuat ke atas seperti jarum jam, dicatok keras dengan lilin, dan selalu difoto dengan angle yang bikin orang bertanya: “Itu beneran nempel, atau ada kawatnya?”

Kumis itu beneran nempel. Dan ceritanya jauh lebih gila daripada yang dibayangkan.

Dari Gaya “Menjou” ke “Antena ke Alam Semesta”

Dalí nggak tiba-tiba bangun pagi lalu memutuskan bikin kumis yang menusuk langit-langit. Pada 1930-an, ia masih pakai gaya Menjou—kumis tipis rapi yang populer di Hollywood lewat aktor Adolphe Menjou . Sopan. Kalem. Nggak bikin orang menoleh dua kali.

Memasuki 1940-an, sesuatu berubah. Kumis itu dipanjangkan. Ujungnya dipilin. Catokan lilinnya makin keras. Dan transformasi itu pertama kali terekam dalam lukisan Soft Self-Portrait with Grilled Bacon (1941) . Sejak itu, kumis bukan lagi aksesori. Ia jadi bagian dari karya.

Dalí sendiri bilang kumisnya adalah “bagian paling serius dari kepribadian saya” . Kalimat itu terdengar seperti lelucon. Tapi dia serius.

Dalam wawancara dengan Malcolm Muggeridge di BBC Panorama pada 1955, ia membandingkan kumisnya dengan kumis Marcel Proust. “Kumis Proust sedikit mendepresi dan melankolis. Kumis saya, sebaliknya, sangat ceria, sangat lancip, dan sangat agresif,” katanya .

Dua ujung itu ia sebut “antena ke alam semesta”—alat penangkap inspirasi dari luar angkasa . Omong kosong? Tentu. Tapi itulah intinya. Dalí tahu itu omong kosong, dan ia menikmatinya.

Inspirasi dari Pelukis Barok yang Sudah Mati 300 Tahun

Bentuk kumis itu bukan ciptaan orisinal. Dalí meniru Diego Velázquez, pelukis Barok abad ke-17 yang ia kagumi.

Secara spesifik, ia terobsesi dengan kumis Raja Spanyol Philipp IV dalam potret karya Velázquez .

Artinya, wajah paling modern di seni abad ke-20 sebagian adalah penghormatan kepada pelukis yang sudah mati tiga abad sebelumnya . Bahkan kumisnya pun sebuah referensi. Khas Dalí.

Tiga Menit Setiap Pagi, Lilin Hungaria, dan Buku 28 Pertanyaan

Dalí merawat kumisnya seperti alkemis merawat ramuan. Setiap pagi, ia butuh tiga menit untuk menatanya menggunakan lilin khusus merek Pinaud asal Hungaria—produk yang sama dengan yang dipakai Marcel Proust .

Pada 1954, Dalí dan fotografer Philippe Halsman menerbitkan buku berjudul Dali’s Mustache . Isinya 28 pertanyaan, dan setiap jawabannya difoto menggunakan kumis yang dipilin jadi berbagai bentuk: tanda dolar, jarum jam, sampai bentuk-bentuk absurd lainnya.

Halsman kemudian bercerita: “Pada 1954, kumis Dalí tumbuh secara ajaib. Ketika pelukis itu kembali ke New York, saya terpana. Ujung kumisnya berada di atas alisnya. Saya melihat apa tugas saya dan mulai memotret permainan dan interaksi kumisnya” .

Buku itu jadi salah satu objek paling murni Dalí yang pernah ada. Seluruh buku tentang kumis. Dan itu masuk akal. Sebab bagi Dalí, kumis adalah logo.

Masih Utuh di Liang Lahat, Masih Dipamerkan di Museum

Pada 2017, makam Dalí dibongkar untuk keperluan tes paternitas. Peti dibuka. Dan di sana, kumis itu masih terpasang, masih dalam posisi “jam sepuluh lewat sepuluh”, persis seperti saat ia masih hidup .

Bahkan setelah mati, kumisnya tetap patuh pada forma.

Hingga Oktober 2026, kumis itu masih jadi bahan pameran. Di Teatro-Museo Dalí di Figueres, Spanyol, digelar pameran bertajuk “Variantes de Dali’s mustache” yang menampilkan 23 potret karya Halsman—foto-foto yang dulu tidak masuk ke buku edisi 1954. Pameran ini berlangsung sampai 31 Desember 2026 .

Di Palazzo Reale, Milan, pameran “Dalí dan Mode” juga masih berlangsung hingga 31 Januari 2027, menyoroti bagaimana kumis legendaris dan imaginasinya yang meluap mengubah kode estetika abad lalu .

Kalau Mau Meniru, Siapkan Waktu 4–6 Bulan dan Lilin Keras

Kumis Dalí bukan gaya yang bisa dicoba semalam. Menurut panduan grooming, dibutuhkan 4 sampai 6 bulan untuk menumbuhkannya, tanpa dipangkas sedikit pun, termasuk rambut yang menggantung di bibir .

Setelah panjang, bentuknya diatur dengan lilin lebah ber-hold tinggi. Lilin dihangatkan di antara jari, lalu dioleskan dari tengah ke luar, dan ujungnya dipilin—bukan disisir. Lilin lunak tidak akan mampu menahan ujung tetap runcing.

Dalí melakukannya setiap pagi. Tiga menit. Dan hasilnya abadi.

Kenapa Kumis Itu “Berbicara”?

Kumis Dalí berbicara karena ia tidak pernah diam. Ia berubah bentuk. Ia dipamerkan. Ia difoto. Ia dijadikan buku. Ia bertahan di dalam kubur. Ia dipajang di museum.

Bagi Dalí, kumis adalah pernyataan artistik yang paling jujur: pemberontakan terhadap realitas yang membosankan, kemauan untuk tampil absurd di ruang publik, dan keberanian untuk membuat orang tersenyum sekaligus bingung .

Kumis itu tidak pernah sekadar tumbuh. Ia selalu sengaja.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.