Jateng

Gak Banyak yang Tahu! Inilah Sejarah dan Kisah Misterius di Balik Reruntuhan Keraton Plered

Theo Adi Pratama | 20 Agustus 2025, 10:49 WIB
Gak Banyak yang Tahu! Inilah Sejarah dan Kisah Misterius di Balik Reruntuhan Keraton Plered

JATENG.AKURAT.CO, Jika kamu melewati Dusun Kedaton di Pleret, Bantul, mungkin kamu hanya melihat tumpukan batu bata kuno yang tidak utuh.

Tapi, tumpukan itu adalah saksi bisu dari kejayaan dan kehancuran sebuah peradaban besar: Keraton Plered, pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam.

Dibangun di era pemerintahan Sunan Amangkurat I, Keraton Plered menyimpan banyak cerita sejarah yang menarik untuk diungkap.

Plered: Ibu Kota Baru yang Megah

Setelah wafatnya Sultan Agung, Keraton Mataram Islam dipindahkan dari Kerta ke Plered oleh penerusnya, Sunan Amangkurat I.

Menurut Babad ing Sangkala, perpindahan ini terjadi pada tahun 1647 M. Sunan Amangkurat I punya ambisi besar untuk membangun keraton yang lebih megah dan lengkap.

Di bawah kepemimpinannya, Plered menjadi kota yang terstruktur lengkap dengan berbagai fasilitas.

Ada pintu gerbang Pabean, pasar, masjid agung, alun-alun, dan tembok keliling yang tinggi dan tebal. Pembangunan ini dilakukan secara bertahap selama bertahun-tahun.

Jejak-Jejak Pembangunan yang Terukir dalam Sejarah

Pembangunan Keraton Plered bukan hal instan. Sumber-sumber sejarah Jawa dan Belanda mencatat prosesnya yang panjang:

  • Tahun 1648 M: Keraton baru sudah mulai berdiri kokoh.
  • Tahun 1649 M: Masjid Agung Plered didirikan, menjadi pusat kegiatan keagamaan.
  • Tahun 1650-1651 M: Pembangunan Siti Inggil yang terbuat dari batu dan Bangsal Witana.
  • Tahun 1659 M: Sumber berita Belanda menyebutkan bahwa tinggi tembok keraton mencapai 5 depa dengan ketebalan 2 depa—menunjukkan betapa kokohnya benteng ini.

Selain itu, Sunan Amangkurat I juga membangun sistem bangunan air yang canggih, bahkan danau buatan sudah ada sejak tahun 1643 M, di masa Sultan Agung masih berkuasa.

Kehancuran yang Mengakhiri Kejayaan

Sayangnya, kejayaan Keraton Plered tidak berlangsung lama. Pada tahun 1677 M, keraton ini diserbu oleh Trunojoyo, seorang bangsawan dari Madura Barat.

Serangan ini begitu dahsyat hingga Sunan Amangkurat I terpaksa melarikan diri dan wafat dalam pelarian.

Peristiwa ini menjadi akhir dari Keraton Plered sebagai pusat pemerintahan. Penerusnya, Amangkurat II, kemudian memindahkan ibu kota Mataram Islam ke Kartasura.

Saat ini, struktur pondasi benteng sisi timur laut Keraton Plered yang berada di Dusun Kedaton, Pleret, Bantul, menjadi bagian dari Situs Cagar Budaya Kedaton-Plered.

Reruntuhan ini adalah pengingat betapa megahnya peradaban yang pernah berdiri di sana dan menjadi warisan penting bagi sejarah bangsa.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.