Luka Lama yang Tak Pernah Sembuh: Cerita Korban Kerusuhan Mei 1998 di Glodok, Catatan Kelam dalam Sejarah Indonesia

JATENG.AKURAT.CO, Indonesia, seperti negara-negara lainnya, telah merasakan gejolak besar dalam sejarah.
Dari sekian banyak pergolakan yang terjadi, ada salah satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatan kolektif dan itu adalah kekerasan terorganisir pada 13—15 Mei 1998 atau yang banyak orang mengenalnya sebagai kerusuhan Mei 1998.
Kekerasan ini tidak hanya mengguncang berbagai sudut kota Jakarta, tetapi juga meninggalkan luka yang mendalam dalam ingatan masyarakat.
Peristiwa kerusuhan Mei 1998 ini terutama menyasar etnis Tionghoa yang berada di di Jakarta.
Toko-toko mereka dijarah habis, dan Glodok, kawasan di Jakarta Barat yang dulu merupakan salah satu Pecinan terbesar di Batavia, menjadi salah satu yang paling parah terkena dampaknya.
Ribuan warga menyerbu Glodok untuk menjarah barang-barang dari komputer hingga kulkas.
Meskipun sudah 23 tahun berlalu, sisa-sisa ingatan kelam masih terasa begitu kuat.
Saat berjalan di sekitar Pintu Besar Selatan, kita bisa merasakan betapa kerusuhan tersebut tidak hanya merampas harta benda, tetapi juga meninggalkan trauma yang mendalam.
Salah satu warga yang orang tuanya pemilik toko di Pintu Besar Selatan tersebut masih mengingat dengan jelas bagaimana mencekamnya masa itu.
Meskipun tokonya saat itu tidak dijarah, namun tetap mengalami kerusakan parah akibat pelemparan batu oleh massa tak dikenal.
Kesaksian lain dari penyewa gedung di kawasan itu mengungkapkan ada dua versi nasib berbagai toko di Glodok.
Ada yang mengatakan toko mereka dijarah, sementara ada pula yang sudah lama tutup karena usia.
Bangunan-bangunan tua dan suasana yang mencekam masih terasa di sepanjang lorong Pintu Besar Selatan.
Baca Juga: Nikmati 5 Masakan Khas Pati, Kota Pesisir di Ujung Utara Jawa yang Jadi Penghasil Ikan Bandeng
Ketika malam tiba, suasana kelam semakin terasa. Tembok yang retak, sunyi yang menyelimuti, dan bangunan tak berpenghuni menjadi saksi bisu peristiwa kekerasan berdarah terorganisir pada Mei 1998.
Semoga peristiwa tragis ini tidak pernah terulang kembali di negeri ini.
Dengan mengingat dan menghormati peristiwa masa lalu, kita dapat berusaha mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan, serta memperkuat solidaritas dan toleransi antar-etnis dalam bangsa Indonesia.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 5Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 6Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 7Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?








