Jateng

Noto Soeroto: Kepahlawanan atau Pengkhianatan? Siapakah Sosok Sebenarnya Dibalik Kisah Kontroversinya Ini?

Theo Adi Pratama | 13 Mei 2024, 11:36 WIB
Noto Soeroto: Kepahlawanan atau Pengkhianatan? Siapakah Sosok Sebenarnya Dibalik Kisah Kontroversinya Ini?

JATENG.AKURAT.CO, Dalam narasi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, banyak figur yang disorot sebagai pahlawan yang gigih memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan kolonial.

Namun, di sisi lain, ada juga tokoh-tokoh yang memiliki pandangan berbeda, bahkan menolak konsep kemerdekaan tersebut.

Salah satu dari mereka adalah Noto Soeroto, seorang intelektual yang kontroversial dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia.

Noto Soeroto lahir di Yogyakarta pada 5 Juni 1888, dengan latar belakang keluarga yang terkait erat dengan struktur pemerintahan tradisional Jawa.

Ayahnya adalah Pangeran Notodiredjo, putra dari Paku Alam V, sehingga Noto Soeroto memiliki hubungan kekerabatan dengan Ki Hadjar Dewantara, sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.

Baca Juga: Lebih dari Sekedar Mitos Belaka, Ternyata Ini Alasan Sebenarnya Penolakan Pembangunan Jembatan Penghubung Pulau Jawa dan Bali

Pendidikan Noto Soeroto membawanya ke Belanda pada tahun 1906 setelah menyelesaikan pendidikan di HBS Semarang.

Di sana, ia mengambil jurusan hukum di Universitas Leiden dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan politik.

Bersama dengan Soetan Kasajangan Soripada, ia mendirikan organisasi Indische Vereeniging yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia.

Noto Soeroto bahkan menjadi ketua organisasi tersebut pada periode 1911-1914.

Namun, pandangan politik Noto Soeroto tidak sepenuhnya sesuai dengan semangat nasionalisme yang kala itu mulai membara di Indonesia.

Melalui tulisan-tulisannya dalam bahasa Belanda, ia menyoroti perlunya kerjasama antara Belanda dan Hindia Belanda (kini Indonesia) dalam sebuah hubungan yang setara.

Baca Juga: Mendapat Julukan Indonesia Mini, Ini Fakta Unik Kota Salatiga yang Jarang Diketahui Orang Kebanyakan

Ia juga menulis tentang pentingnya Belanda membimbing penduduk Hindia Belanda untuk menjadi setara dengan warga Belanda.

Meskipun demikian, Noto Soeroto bukanlah pendukung kolonialisme Belanda secara langsung.

Ia menentang penjajahan, tetapi melihat bahwa kerjasama dengan Belanda dalam bentuk tertentu adalah jalan yang lebih realistis untuk kemajuan Hindia Belanda pada saat itu.

Pandangan Noto Soeroto semakin tidak relevan seiring dengan menguatnya semangat nasionalisme di Indonesia.

Pada tahun 1924, ia bahkan dikeluarkan dari Perhimpunan Indonesia yang telah ia dirikan sendiri karena pandangan politiknya yang dinilai konservatif.

Meskipun pandangannya bertentangan dengan arus nasionalisme yang semakin menguat, Noto Soeroto terus mengemukakan gagasannya.

Baca Juga: Misteri Sumpah Bung Hatta: Dendam Kesumat atau Prinsip Teguh? Kenapa Dia Tak Pernah ke Singapura!

Pada tahun 1931, ia kembali ke Jawa dan menerbitkan bukunya yang berjudul "Van Overheersching Naar Zelfregeering" (Dari Penjajahan Menuju Pemerintahan Sendiri), di mana ia memaparkan argumennya tentang perlunya persiapan sebelum mencapai kemerdekaan yang sejati.

Namun, pandangan Noto Soeroto tetap tidak diterima oleh mayoritas masyarakat Indonesia yang saat itu semakin merapatkan barisan untuk meraih kemerdekaan.

Pada tahun 1949, ketika Indonesia akhirnya merdeka, Noto Soeroto terus mengekspresikan pandangannya tentang kebudayaan Jawa dalam konteks Indonesia Serikat.

Meskipun kontroversial, Noto Soeroto tetap menjadi bagian penting dalam narasi sejarah Indonesia yang mencerminkan kompleksitas dan keragaman pemikiran yang ada di masa itu.

Ia meninggal pada 25 November 1951 di Surakarta dalam kondisi yang sulit secara finansial, namun pemikirannya terus menjadi bahan perdebatan dan studi dalam sejarah intelektual Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.