Jateng

Misteri Sumpah Bung Hatta: Dendam Kesumat atau Prinsip Teguh? Kenapa Dia Tak Pernah ke Singapura!

Theo Adi Pratama | 13 Mei 2024, 07:30 WIB
Misteri Sumpah Bung Hatta: Dendam Kesumat atau Prinsip Teguh? Kenapa Dia Tak Pernah ke Singapura!

JATENG.AKURAT.CO, Sumpah adalah sebuah janji yang diucapkan dengan tulus dan dipegang teguh.

Namun, ketika sumpah itu bermuara pada sebuah keputusan politik yang melibatkan nasionalisme, maka ia menjadi sejarah yang menginspirasi.

Inilah yang terjadi dengan sumpah yang diucapkan oleh Bung Hatta, salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia, yang bersumpah untuk tidak pernah menginjakkan kakinya di Singapura sepanjang hayatnya.

Pada 17 Oktober 1968, Indonesia diguncang oleh keputusan kontroversial yang diambil oleh pemerintah Singapura.

Dua orang marinir Indonesia yang dihormati, Serda Usman dan Kopral Harun, dijatuhi hukuman mati atas tuduhan terlibat dalam pengeboman di Hotel MacDonald, Orchard Road, Singapura.

Keputusan itu merupakan titik balik yang membuat Bung Hatta, bersama dengan banyak orang Indonesia, merasa kecewa dan marah.

Baca Juga: Batas Jawa Barat dan Jawa Tengah: Siapa Pencetus Awal di Balik Batas Saat Ini dan Mengapa Perbatasan Tidak Didasarkan Pada Suku?

Tetapi apa yang membuat Bung Hatta begitu tegas dalam sumpahnya untuk tidak pernah mengunjungi Singapura?

Untuk memahami hal ini, kita harus melihat ke belakang, pada masa konfrontasi antara Indonesia dan Federasi Malaya pada tahun 1960-an.

Pada awal tahun 1960-an, Indonesia sedang terlibat dalam konfrontasi dengan Federasi Malaya, yang kemudian dikenal sebagai Malaysia.

Soekarno, Presiden Indonesia saat itu, melihat upaya pembentukan Malaysia sebagai ancaman terhadap kedaulatan Indonesia.

Konfrontasi ini mencapai puncaknya ketika Soekarno mengeluarkan seruan "Ganyang Malaysia" dan mengarahkan serangan terhadap negara-negara yang terlibat dalam pembentukan Malaysia.

Singapura, sebagai bagian dari Federasi Malaya yang kemudian menjadi Malaysia, menjadi salah satu sasaran utama dalam misi sabotase yang dilakukan oleh pihak Indonesia.

Baca Juga: Terbongkar! Ada Beberapa Fakta Unik di Balik Kemegahan Peradaban Mesir Kuno yang Jarang Diketahui Banyak Orang Hingga Sekarang

Usman dan Harun adalah dua dari tiga sukarelawan yang dikirim untuk melaksanakan aksi sabotase di Singapura.

Mereka menjalankan misi tersebut dengan harapan untuk memicu ketegangan di Singapura sebagai bagian dari upaya untuk menentang pembentukan Malaysia.

Namun, aksi mereka berakhir dengan tragis. Mereka ditangkap dan dihukum mati oleh pengadilan Singapura atas tuduhan melakukan pengeboman di Hotel MacDonald yang menewaskan tiga orang.

Meskipun mereka mengklaim bahwa mereka melakukan aksi tersebut dalam kapasitas militer dan meminta dianggap sebagai tawanan perang sesuai Konvensi Jenewa, permintaan mereka ditolak oleh pengadilan.

Keputusan pengadilan Singapura tersebut, bersama dengan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap Usman dan Harun, menyebabkan reaksi keras di Indonesia.

Bung Hatta, sebagai salah satu tokoh terkemuka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, merasa terpanggil untuk bertindak.

Baca Juga: GAK PERCAYA? Tanda Tangan Ternyata Bisa Jadi Cerminan Kepribadian Dirimu Lho, Yuk Coba Analisa Sekarang!

Sumpah Bung Hatta untuk tidak pernah menginjakkan kakinya di Singapura menjadi simbol dari kekecewaan dan protes terhadap perlakuan yang diterima oleh dua anggota militer Indonesia tersebut.

Baginya, itu adalah cara damai untuk mengekspresikan ketidaksetujuan terhadap tindakan yang dianggap tidak adil oleh pemerintah Singapura.

Sumpah tersebut tidak hanya merupakan ekspresi dari rasa keadilan Bung Hatta, tetapi juga merupakan tindakan nyata yang menegaskan nasionalisme dan kebanggaan akan kedaulatan Indonesia.

Ia menunjukkan bahwa integritas dan harga diri bangsa tidak bisa ditawar-tawar.

Mungkin bagi beberapa orang, sumpah Bung Hatta itu hanya sebatas janji.

Tetapi bagi mereka yang memahami latar belakang sejarah dan perjuangan Bung Hatta, itu adalah sebuah komitmen yang dipegang teguh hingga akhir hayatnya.

Sebuah pengingat akan betapa pentingnya mempertahankan martabat dan kehormatan bangsa, bahkan dalam situasi yang penuh tantangan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.