Jateng

Penjualan Kendaraan Elektrifikasi BYD di Jateng Terus Naik, M6 DM Jadi Senjata Baru di GIIAS Semarang 2026

Arixc Ardana | 1 Oktober 2026, 11:57 WIB
Penjualan Kendaraan Elektrifikasi BYD di Jateng Terus Naik, M6 DM Jadi Senjata Baru di GIIAS Semarang 2026
Dalam ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) Semarang 2026, BYD menghadirkan sejumlah produk unggulan sekaligus memperkenalkan teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) melalui BYD M6 DM.

JATENG.AKURAT.CO, PT BYD Motor Indonesia terus memperkuat penetrasi pasar kendaraan elektrifikasi di Jawa Tengah.

Dalam ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) Semarang 2026, BYD menghadirkan sejumlah produk unggulan sekaligus memperkenalkan teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) melalui BYD M6 DM.

GIIAS Semarang 2026 digelar di Muladi Dome, Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, mulai 30 September hingga 4 Oktober 2026. Kehadiran BYD menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan kendaraan elektrifikasi, khususnya di wilayah yang infrastruktur pengisian kendaraan listriknya masih terus berkembang.

Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengatakan visi utama BYD tetap mendorong penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai atau full electric vehicle (EV).

Namun, menurut dia, proses menuju elektrifikasi penuh membutuhkan tahapan, terutama karena ketersediaan infrastruktur pengisian daya belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

“Visi kami tetap pada kendaraan elektrifikasi penuh (EV). Namun dalam proses transisinya, infrastruktur pengecasan masih membutuhkan waktu pengembangan, terutama di luar kota besar. Karena itu, kami menghadirkan teknologi Dual Mode sebagai solusi transisi yang fleksibel,” ujar Luther.

M6 DM Tawarkan Fleksibilitas di Tengah Pengembangan SPKLU

Teknologi Dual Mode (DM) pada BYD M6 DM dirancang untuk memberikan pengalaman berkendara dengan karakter kendaraan listrik sekaligus menawarkan fleksibilitas penggunaan bahan bakar minyak (BBM).

Kombinasi tersebut dinilai relevan untuk konsumen yang melakukan perjalanan antarkota maupun menuju wilayah yang belum memiliki jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) secara merata.

Luther menjelaskan, teknologi tersebut memungkinkan kendaraan tetap memiliki fleksibilitas ketika konsumen belum menemukan fasilitas pengisian kendaraan listrik di sepanjang perjalanan.

Dengan demikian, M6 DM menjadi salah satu pilihan teknologi yang ditawarkan BYD dalam masa transisi menuju penggunaan kendaraan listrik secara lebih luas.

Penjualan BYD di Jawa Tengah Terus Meningkat

Strategi tersebut mendapat respons positif dari pasar Jawa Tengah. BYD mencatat tren penjualan yang terus mengalami peningkatan di wilayah tersebut.

Luther mengatakan, karakter konsumen di daerah turut menjadi pertimbangan BYD dalam menghadirkan produk elektrifikasi.

Menurutnya, mayoritas konsumen di daerah menggunakan kendaraan yang dibeli sebagai mobil utama untuk aktivitas sehari-hari. Karena itu, aspek keandalan kendaraan, harga, hingga kelengkapan fitur keselamatan menjadi perhatian konsumen.

Salah satu fitur yang menjadi pertimbangan adalah Advanced Driver Assistance System (ADAS) yang membantu pengemudi melalui berbagai sistem pendukung keselamatan.

Kondisi tersebut membuat BYD tidak hanya mengandalkan aspek elektrifikasi, tetapi juga berupaya menghadirkan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas masyarakat di berbagai daerah.

Kapasitas Produksi Lokal Capai 150.000 Unit per Tahun

Di sisi produksi, BYD juga terus mematangkan operasional fasilitas produksi lokal di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Fasilitas perakitan tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun, atau sekitar 12.000 unit per bulan.

Sejumlah model utama disiapkan untuk dirakit secara lokal, termasuk BYD M6 EV, M6 DM, dan Atto 3.

Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen BYD terhadap pengembangan industri otomotif dan rantai pasok kendaraan elektrifikasi di Indonesia.

Produk Rakitan Lokal Penuhi TKDN di Atas 40 Persen

Selain meningkatkan kapasitas produksi, BYD memastikan produk rakitan lokalnya telah memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Luther mengatakan seluruh lini produk yang dirakit secara lokal telah memiliki TKDN di atas 40 persen. Bahkan, terdapat varian yang telah mencapai 47 persen.

“Seluruh lini produk rakitan lokal kami sudah mengantongi TKDN di atas 40 persen, bahkan ada varian yang mencapai 47 persen. Ini membuktikan komitmen kami dalam menghadirkan produk buatan dalam negeri,” kata Luther.

Menurutnya, peningkatan produksi lokal juga tidak serta-merta mengubah skema harga yang telah ditawarkan kepada konsumen.

“Soal harga, penyesuaian produksi lokal tidak akan mengubah skema harga yang sudah kami tawarkan kepada konsumen,” tegasnya.

Kehadiran BYD di GIIAS Semarang 2026 sekaligus memperlihatkan bagaimana produsen kendaraan elektrifikasi mulai menyesuaikan teknologi dengan karakteristik pasar di daerah.

Melalui kombinasi kendaraan listrik berbasis baterai dan teknologi Dual Mode, BYD berupaya menjembatani kebutuhan konsumen selama infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia terus berkembang.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.