Mengharukan, Jamintel Reda Terisak di Hadapan Ratusan Tunanetra, Kejaksaan Luncurkan Kartu Golongan Darah Braille Pertama di Indonesia

JATENG.AKURAT.CO SEMARANG – Suasana haru mewarnai kunjungan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI Prof. Reda Manthovani ke Pondok Pesantren Sahabat Mata, Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (29/9/2026).
Di hadapan ratusan penyandang tunanetra, Prof. Reda tampak terharu hingga sempat terisak saat menyampaikan sambutannya.
Momen tersebut berlangsung bersamaan dengan peluncuran Kartu Donor Darah dan Golongan Darah Braille, yang diperkenalkan sebagai terobosan pertama di Indonesia untuk membantu penyandang tunanetra mengakses informasi golongan darah secara mandiri.
Peluncuran kartu tersebut dilakukan Prof. Reda Manthovani bersama Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Tengah Teguh Subroto, SH, MH.
Program ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sosial dan kemanusiaan Kejaksaan yang diarahkan untuk memperkuat aksesibilitas serta memberikan perhatian kepada penyandang disabilitas.
Terobosan Kartu Golongan Darah Braille
Kartu yang dilengkapi informasi menggunakan huruf Braille tersebut dirancang agar penyandang tunanetra dapat mengetahui golongan darahnya secara mandiri tanpa bergantung kepada orang lain.
Informasi mengenai golongan darah juga memiliki arti penting dalam pelayanan kesehatan, terutama ketika seseorang membutuhkan penanganan secara cepat dalam kondisi tertentu.
Kehadiran kartu tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan sekaligus meningkatkan kemandirian penyandang tunanetra dalam mengakses informasi mengenai dirinya sendiri.
Inovasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan sosial yang lebih inklusif dengan memperhatikan kebutuhan kelompok penyandang disabilitas.
Reda Terisak: Keadilan Harus Terasa di Hati Masyarakat
Momen haru terjadi ketika Prof. Reda menyampaikan sambutan di hadapan para penyandang tunanetra.
Ia tampak tersentuh dan sempat terisak. Dalam sambutannya, Reda memberikan apresiasi kepada Kajati Jawa Tengah Teguh Subroto yang dinilainya menunjukkan kepedulian kepada masyarakat melalui pendekatan yang humanis.
Reda menegaskan, tugas jaksa tidak hanya berkaitan dengan kewenangan dan proses penegakan hukum.
Menurut dia, keberadaan aparat penegak hukum juga harus mampu menghadirkan manfaat serta menyentuh persoalan kemanusiaan di tengah masyarakat.
“Kalau jaksa hanya menekankan kewenangan semata, yang kita dapatkan hanya keadilan yang semu dan tidak terasa di masyarakat,” ujar Reda.
Ia menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam menjalankan tugas penegakan hukum.
“Kalau penegak hukum dan metodenya humanis, keadilan akan terasa di hati masyarakat,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan yang mempertemukan jajaran Kejaksaan dengan komunitas penyandang tunanetra di Sahabat Mata.
Reda juga menyampaikan terima kasih kepada Teguh Subroto atas kepedulian yang ditunjukkan melalui berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan tersebut.
Resmikan Gedung Sahabat Mata
Selain meluncurkan Kartu Donor Darah dan Golongan Darah Braille, rangkaian kegiatan di Ponpes Sahabat Mata juga diisi dengan peresmian Gedung Pondok Pesantren Sahabat Mata.
Gedung tersebut diharapkan dapat memperkuat kegiatan pendidikan sekaligus pemberdayaan penyandang disabilitas.
Kejaksaan juga menyerahkan bantuan berupa meja pingpong bagi penyandang tunanetra.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat menunjang aktivitas olahraga sekaligus membuka ruang interaksi dan kegiatan sosial yang lebih luas bagi para penghuni dan komunitas Sahabat Mata.
Pimpinan Ponpes Sahabat Mata, Basuki, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian serta dukungan yang diberikan Kejaksaan.
Menurut Basuki, bantuan tersebut memberikan dukungan nyata bagi Sahabat Mata dalam menjalankan berbagai program pendidikan dan pemberdayaan bagi penyandang tunanetra.
Kejaksaan Serahkan 1.000 Pasang Sepatu untuk Siswa SLB
Rangkaian kegiatan sosial dan kemanusiaan Kejaksaan tidak berhenti di Sahabat Mata.
Di lokasi berbeda, Kejaksaan juga menyerahkan 1.000 pasang sepatu kepada siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Semarang Raya.
Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan anak-anak penyandang disabilitas yang tengah menempuh pendidikan.
Penyerahan sepatu sekaligus memperluas cakupan program kemanusiaan yang dilakukan Kejaksaan.
Jika kartu Braille memberikan akses informasi bagi penyandang tunanetra, bantuan sepatu diarahkan untuk mendukung kebutuhan siswa SLB dalam menjalankan aktivitas pendidikan dan keseharian.
Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang kegiatan belajar maupun aktivitas para siswa di lingkungan sekolah.
Kajati Jateng: Bantuan Sangat Bermanfaat
Kajati Jawa Tengah Teguh Subroto menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya seluruh rangkaian kegiatan sosial tersebut.
Ia menilai bantuan yang diberikan Jamintel memiliki manfaat bagi Yayasan Sahabat Mata dan para penyandang tunanetra.
“Alhamdulillah, bantuan dari Bapak Jamintel ini sangat bermanfaat bagi Yayasan Sahabat Mata dan saudara-saudara kita penyandang tunanetra,” kata Teguh.
Teguh berharap berbagai bantuan dan fasilitas yang telah diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal serta memberikan manfaat secara berkelanjutan.
“Semoga semuanya memberikan manfaat dan dapat mendukung saudara-saudara kita, termasuk anak-anak penyandang disabilitas,” ujarnya.
Sahabat Mata Fokus pada Pendidikan dan Kemandirian Tunanetra
Yayasan Sahabat Mata merupakan lembaga sosial di Kota Semarang yang bergerak di bidang pendidikan, pemberdayaan dan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, khususnya tunanetra.
Sahabat Mata mulai beraktivitas pada 1 Mei 2008. Sejumlah program dikembangkan untuk mendukung kemandirian penyandang tunanetra, mulai dari pendidikan Al-Qur'an Braille, penyediaan dan distribusi Al-Qur'an Braille, pendidikan dan pelatihan, pemanfaatan teknologi aksesibel hingga berbagai program pemberdayaan.
Di kawasan Mijen, Sahabat Mata juga mengembangkan pondok pesantren yang menjadi ruang pendidikan sekaligus pemberdayaan bagi penyandang disabilitas.
Rangkaian kegiatan Kejaksaan di tempat tersebut memperlihatkan bahwa perhatian terhadap penyandang disabilitas dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, mulai dari penyediaan akses informasi, fasilitas olahraga, penguatan sarana pendidikan hingga pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Peluncuran Kartu Donor Darah dan Golongan Darah Braille menjadi salah satu bentuk inovasi yang menempatkan aksesibilitas sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat.
Sementara bantuan fasilitas dan 1.000 pasang sepatu menunjukkan dukungan terhadap aktivitas pendidikan serta pemberdayaan penyandang disabilitas.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, pelaksanaan tugas institusi penegak hukum juga dipertemukan dengan nilai kemanusiaan, kepedulian sosial dan aksesibilitas, sebagaimana pesan Prof. Reda bahwa pendekatan yang humanis menjadi bagian penting agar keadilan dapat dirasakan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Profil Instagram Ko Hyung-jin Wasit Indonesia vs Malaysia, Sejarah Kelam 2019 Kembali Terbayang usai Tom Haye Dikartu Merah!
- 2LIVE SCORE Indonesia vs Malaysia, Skor 0-0 Menit ke-70 Thom Haye Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME Menang Siapa?
- 3Kalender Jawa Oktober 2026: Weton, Neptu, dan Rekomendasi Hari Baik untuk Hajatan
- 4Laga PERSIKU VS PSIS BATAL DIGELAR! Ini Alasan Manajemen Tuan Rumah Terkait Pembatalan Pertandingan
- 5Laga Persiku vs PSIS Mendadak BATAL Digelar, Netizen: Harusnya Tuan Rumah Kalah WO!
- 6F1 Ubah Jadwal GP Azerbaijan ke Sabtu, Ternyata Ini Penyebabnya
- 7Panduan Lengkap Kalender Jawa November 2026, dari Minggu Pahing hingga Senin Legi
- 8MotoGP 2026 Masuki Fase Akhir: Ini Jadwal Lengkap Sisa Balapan
- 9TNT Awards Jateng 2026 Dorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah
- 10PLN Umumkan Pemeliharaan Jaringan di Semarang Timur, Listrik Padam 6 Jam




