20 Ribu Perempuan UMKM Sudah Didampingi, DBS Foundation dan Mercy Corps Perkuat Literasi Digital di Semarang

JATENG.AKURAT.CO, SEMARANG – Lebih dari 20.000 perempuan pelaku usaha mikro dan kecil telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan melalui program Financial Inclusion for Women Entrepreneurs yang digagas DBS Foundation bersama Yayasan Mercy Corps Indonesia.
Program yang menargetkan 40.000 perempuan pemilik atau pengelola UMKM di Semarang, Surabaya, dan Medan tersebut kini memasuki tahap pembelajaran sekaligus evaluasi setelah berjalan sejak Oktober 2025.
Salah satu rangkaian kegiatan tersebut digelar melalui Learning Event bertajuk “Cakap Teknologi ke Pasar Digital” di Aula Balai Kota Semarang, Senin (28/9/2026).
Kegiatan itu diikuti sekitar 800 peserta, termasuk 600 perempuan pemilik dan pengelola usaha mikro dan kecil peserta program, perwakilan pemerintah daerah, lembaga keuangan, organisasi masyarakat, akademisi, hingga media.
Learning Event tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus melihat capaian program selama hampir satu tahun pelaksanaan.
Program Financial Inclusion for Women Entrepreneurs powered by DBS Foundation dirancang untuk meningkatkan ketahanan dan kesehatan keuangan perempuan pelaku UMKM melalui pelatihan dan pendampingan yang terintegrasi.
Materi yang diberikan mencakup literasi keuangan, akses terhadap produk dan layanan keuangan, manajemen keuangan, literasi digital, hingga pemasaran melalui kanal digital.

Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, mengatakan inklusi finansial dan pemberdayaan perempuan menjadi bagian penting dari upaya menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.
“Mendorong inklusi finansial dan pemberdayaan perempuan merupakan fokus utama DBS Foundation dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan. Melalui program Financial Inclusion for Women Entrepreneurs powered by DBS Foundation, kami berharap semakin banyak perempuan pelaku UMKM memiliki akses terhadap pengetahuan, layanan, dan produk keuangan yang dapat membantu mereka meningkatkan ketahanan usaha, memenuhi kebutuhan dasar keluarga, dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas,” ujar Mona.
Tak Hanya Pelatihan, UMKM Didampingi
SPV Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Nazla Mariza, mengatakan program tersebut merupakan program jangka panjang selama dua tahun dengan target menjangkau 40.000 perempuan pelaku usaha mikro dan kecil.
Menurut dia, prosesnya tidak berhenti pada pemberian materi pelatihan. Peserta juga mendapatkan pendampingan agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
“Kalau DBS kita punya program jangka panjang dua tahun, dari tahun lalu sampai tahun depan, untuk melatih dan mendampingi 40 ribu perempuan pelaku atau pemilik usaha mikro dan kecil,” kata Nazla.
Tahap awal dilakukan dengan memberikan pemahaman mengenai literasi keuangan, termasuk bagaimana mengakses produk dan layanan keuangan yang legal serta diawasi OJK.
Selanjutnya, peserta mendapatkan materi mengenai literasi digital dan pemasaran melalui dunia digital.
“Target kita, dampak yang terjadi dari dua tahun program adalah para perempuan pelaku UMKM ini punya kesehatan finansial yang lebih baik. Artinya mereka bisa mengelola keuangan lebih baik, mengelola bisnis lebih baik, dan juga ada peningkatan usahanya,” jelasnya.
Peningkatan tersebut antara lain dilihat dari perkembangan bisnis, seperti penambahan tenaga kerja, ekspansi usaha maupun peningkatan penjualan setelah masuk ke ekosistem digital.
Khusus di Jawa Tengah, Nazla menyebut program tersebut telah mendampingi sekitar 7.000 perempuan pelaku UMKM dalam satu tahun terakhir. Jumlah itu diharapkan kembali bertambah sekitar 7.000-8.000 peserta pada tahun berikutnya melalui kerja sama dengan mitra dan Pemerintah Kota Semarang.
Akses Internet Tinggi, Pemanfaatan untuk Bisnis Masih Terbatas
Nazla mengungkapkan salah satu tantangan yang dihadapi perempuan pelaku UMKM bukan semata-mata akses terhadap teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis.
Ia menyebut sekitar 96 persen peserta memiliki telepon seluler dan rata-rata mengakses internet hingga lima jam setiap hari. Namun, pemanfaatan perangkat digital untuk kepentingan pemasaran usaha masih jauh lebih rendah.
“Yang menggunakannya untuk usaha bisnis, pengembangan usaha bisnis, digital marketing cuma 31 persen. Artinya cuma sepertiganya,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara akses terhadap teknologi dan kemampuan memanfaatkannya untuk kepentingan usaha.
Menurut Nazla, setidaknya ada beberapa tantangan yang perlu dijawab. Pertama, sebagian pelaku UMKM belum mengetahui cara membuat dan memasarkan produk melalui kanal digital.
Kedua, masih terdapat kekhawatiran terhadap risiko penipuan digital maupun kejahatan siber. Karena itu, aspek keamanan digital juga menjadi bagian dari materi pendampingan.
Ketiga, sebagian pelaku usaha masih merasa nyaman dengan pola pemasaran konvensional yang mengandalkan pelanggan di lingkungan sekitar.
“Orang akan menjadi pede ketika dia sudah semakin tahu, semakin praktiknya berhasil, satu kali, dua kali, tiga kali. Nah, ini yang kita akan coba mengubah habit dan juga membuka pengetahuan,” katanya.
Mercy Corps: Tantangan Terbesar Bukan Sekadar Mendapatkan Ilmu
Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia, Ade Soekadis, mengatakan Learning Event di Semarang sekaligus menjadi momentum untuk melihat kembali capaian program sejak diluncurkan pada Oktober 2025.
Selain merayakan capaian selama satu tahun, kegiatan tersebut menjadi ruang evaluasi untuk menentukan pembelajaran yang dapat digunakan dalam pelaksanaan program pada satu tahun berikutnya.
“Selain capaian, tentunya belajar apa saja yang kita bisa dapatkan sehingga satu tahun ke depan lagi, apalagi karena program ini dua tahun, kita bisa lebih memberikan dampak, lebih relevan, dan bisa lebih memberikan nilai tambah kepada ibu-ibu atau perempuan-perempuan pelaku usaha mikro dan kecil di Semarang,” kata Ade.
Menurut Ade, pelatihan dan pendampingan menjadi dua komponen penting dalam program tersebut. Sebab, tantangan UMKM tidak selalu terletak pada ketersediaan informasi.
Materi pengembangan usaha saat ini relatif mudah ditemukan melalui berbagai platform digital. Namun, persoalan berikutnya adalah bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam aktivitas bisnis.
“Yang menjadi kebutuhan khusus tantangannya ialah bagaimana ilmu tadi diterapkan. Nah, inilah kebutuhan pendampingan tadi,” ujarnya.
Mercy Corps juga menyediakan platform digital bernama Micro Mentor. Melalui platform tersebut, pelaku UMKM dapat memperoleh pendampingan berdasarkan kebutuhan masing-masing.
Peserta dapat terhubung dengan fasilitator atau mentor sesuai topik yang dibutuhkan, mulai dari literasi keuangan, pemasaran, produksi barang dan jasa, hingga pengembangan usaha lainnya.
Ade juga menyoroti persoalan akses pasar dan permodalan sebagai tantangan lain yang dihadapi UMKM.
Menurutnya, persaingan produk UMKM cukup ketat sehingga pelaku usaha perlu memahami strategi untuk membuat produknya memiliki posisi di pasar, baik melalui kanal digital maupun konvensional.
Sementara untuk pengembangan usaha, akses permodalan juga membutuhkan kesiapan administrasi dan pencatatan keuangan.
“UMKM tersebut harus punya catatan keuangan yang baik sebagai syarat untuk pinjaman. Kalau tidak ada catatan keuangan yang baik, tidak mungkin bank akan percaya,” jelasnya.
Dorong Ekosistem UMKM yang Lebih Inklusif
Program tersebut juga diarahkan agar dapat menjangkau kelompok perempuan yang memiliki keterbatasan akses, termasuk perempuan penyandang disabilitas.
Ade mengatakan prinsip inklusivitas menjadi bagian dari pelaksanaan program agar perempuan penyandang disabilitas juga dapat memperoleh kesempatan yang sama dalam pengembangan usaha.
Dalam pelaksanaannya, dukungan khusus diberikan agar peserta dengan disabilitas dapat mengikuti rangkaian kegiatan.
Salah satunya melalui penyediaan juru bahasa isyarat bagi peserta tuli sehingga proses pelatihan dan pendampingan dapat berlangsung lebih inklusif.
Sementara itu, Learning Event di Semarang menghadirkan dua tema utama diskusi panel. Sesi pertama membahas “Perkuat Literasi Digital sebagai Strategi Efektif untuk Mendukung Perempuan Pemilik/Pengelola Usaha Mikro dan Kecil di Perkotaan”.
Sesi kedua membahas pemanfaatan saluran pemasaran digital serta pengelolaan keuangan usaha.
Kegiatan juga diramaikan Bazar UMKM dengan 35 booth milik peserta program, sesi berbagi pengalaman pelaku usaha, business challenge, dan doorprize interaktif.
Hasil pembelajaran dari rangkaian Learning Event di Medan, Semarang, Surabaya, dan Jakarta selanjutnya akan dihimpun dalam sebuah learning document.
Dokumen tersebut akan memuat rekomendasi strategi untuk mendukung perempuan pemilik dan pengelola usaha mikro dan kecil di wilayah perkotaan, yang selanjutnya akan disampaikan kepada Kementerian UMKM Republik Indonesia.
Rangkaian Learning Event masih akan berlanjut hingga akhir September 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem dukungan bagi perempuan pelaku usaha mikro dan kecil di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Profil Instagram Ko Hyung-jin Wasit Indonesia vs Malaysia, Sejarah Kelam 2019 Kembali Terbayang usai Tom Haye Dikartu Merah!
- 2LIVE SCORE Indonesia vs Malaysia, Skor 0-0 Menit ke-70 Thom Haye Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME Menang Siapa?
- 3Kalender Jawa Oktober 2026: Weton, Neptu, dan Rekomendasi Hari Baik untuk Hajatan
- 4Laga PERSIKU VS PSIS BATAL DIGELAR! Ini Alasan Manajemen Tuan Rumah Terkait Pembatalan Pertandingan
- 5Laga Persiku vs PSIS Mendadak BATAL Digelar, Netizen: Harusnya Tuan Rumah Kalah WO!
- 6F1 Ubah Jadwal GP Azerbaijan ke Sabtu, Ternyata Ini Penyebabnya
- 7MotoGP 2026 Masuki Fase Akhir: Ini Jadwal Lengkap Sisa Balapan
- 8Panduan Lengkap Kalender Jawa November 2026, dari Minggu Pahing hingga Senin Legi
- 9TNT Awards Jateng 2026 Dorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah
- 10Jadwal Kalender F1 2026: Sisa 8 Balapan Setelah Baku, Ada Sprint di Singapura





