Jateng

Stefan Arman Ungkap Keunggulan Bus Listrik BRT Trans Semarang Saat Melibas Tanjakan

Muhammad Husni Mushonifi | 23 September 2026, 16:42 WIB
Stefan Arman Ungkap Keunggulan Bus Listrik BRT Trans Semarang Saat Melibas Tanjakan

JATENG.AKURAT.CO, Bus listrik untuk layanan BRT Trans Semarang dirancang khusus menghadapi karakteristik transportasi perkotaan, termasuk kondisi jalan dengan tanjakan dan turunan. Direktur Teknik PT Laksana Bus Manufaktur, Stefan Arman, menyebut kendaraan listrik justru memiliki keunggulan ketika digunakan di medan tersebut.

Menurut Stefan, salah satu keunggulan utama bus listrik terletak pada torsi yang tinggi sejak kendaraan mulai bergerak. Kondisi itu membuat bus lebih responsif ketika harus melintasi jalan menanjak.

“Bus listrik ini justru kalau medannya nanjak turun ini justru memiliki keuntungan. Yang pertama dia memiliki torque yang sangat tinggi,” kata Stefan, Rabu (23/9/2026).

Ia mengatakan karakter tersebut membuat bus listrik memiliki respons lebih cepat ketika menghadapi tanjakan dibandingkan bus berbahan bakar diesel.

“Untuk nanjak itu justru lebih responsif daripada bus diesel,” ujarnya.

Tak hanya saat menanjak, sistem penggerak listrik juga memberikan keuntungan ketika kendaraan melaju di jalan menurun. Energi yang muncul ketika kendaraan mengalami perlambatan dapat dimanfaatkan kembali melalui sistem kendaraan listrik.

“Dan saat turunan juga karena adanya baterai dan juga kemampuan untuk range yang lebih cepat itu akhirnya bisa mendapatkan daya yang lebih dari saat melakukan turunan,” jelasnya.

Konstruksi Disesuaikan untuk Bus Listrik

Stefan menjelaskan, bus listrik BRT Trans Semarang yang diproduksi Karoseri Laksana tidak menggunakan konstruksi yang sekadar mengadaptasi bus konvensional. Sejumlah bagian kendaraan dirancang dengan material yang disesuaikan dengan kebutuhan kendaraan listrik.

Pada bagian rangka, Laksana menggunakan material stainless steel. Sementara panel interior dan eksterior dibuat menggunakan material ringan yang dirancang memiliki masa pakai panjang.

“Frame itu kita menggunakan stainless steel, kemudian panel-panel baik interior maupun eksterior kita menggunakan panel-panel yang lightweight dan juga lifetime-nya panjang,” katanya.

Menurut Stefan, pemilihan material tersebut memang diarahkan untuk kebutuhan operasional bus listrik di lingkungan perkotaan.

“Ini memang semuanya dikhususkan, didesain untuk kebutuhan bus listrik untuk bus perkotaan,” imbuhnya.

Baterai 340 kWh, Jangkauan Operasional 240 Kilometer

Dari sisi sumber energi, bus listrik tersebut dibekali baterai dengan kapasitas sekitar 340 kWh.

Stefan mengatakan, secara teoritis kapasitas baterai itu memungkinkan bus menempuh perjalanan hingga sekitar 250 kilometer dalam satu kali pengisian.

“Baterai ini kapasitasnya 340-an kWh. Jadi untuk jarak tempuhnya bisa sampai 250 kilometer,” ujarnya.

Namun, dalam pengoperasian sehari-hari, baterai tidak dirancang untuk dikuras hingga habis. Menurut Stefan, pola penggunaan tersebut diterapkan untuk menjaga kesehatan sekaligus memperpanjang usia baterai.

Penggunaan baterai diupayakan berada pada rentang 100 persen hingga 20 persen. Dengan pola tersebut, jarak operasional yang diproyeksikan berada di kisaran 200 hingga 240 kilometer.

“Untuk menjaga kesehatan baterai, penggunaan baterai ini diusahakan dari 100 sampai 20 persen, tidak habis penuh. Jadi, untuk range-nya kira-kira di 200 sampai 240 kilometer,” jelasnya.

Sekali Charging untuk Operasional Seharian

Sistem pengisian daya bus listrik juga disiapkan untuk mendukung pola operasional BRT Trans Semarang. Fasilitas charging direncanakan ditempatkan di pool operator dengan kapasitas pengisian sekitar 150 kW.

Dengan kapasitas tersebut, proses pengisian hingga penuh diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua jam.

“Pengisian dengan pengisian yang akan dilakukan instalasi di pool dari operator itu nanti di angka sekitar 150 kW. Jadi, harusnya sekitar dua jam itu sudah bisa penuh,” tutur Stefan.

Bus dirancang menggunakan pola one time charging, yakni pengisian dilakukan satu kali setelah kendaraan menyelesaikan operasional pada malam hari.

Dengan pola itu, bus diharapkan dapat kembali digunakan pada pagi berikutnya untuk menjalankan operasional selama satu hari kerja.

“Kita desain bus ini memang digunakan untuk one time charging. Jadi setelah selesai beroperasi di malam hari, itu dilakukan charging di malam hari. Pagi harusnya sudah siap beroperasi untuk penuh satu hari kerja,” katanya.

Baterai Diproyeksikan Bertahan Lebih dari 10 Tahun

Stefan juga menyebut baterai bus listrik tersebut diproyeksikan memiliki usia penggunaan lebih dari 10 tahun. Namun, untuk ketentuan garansi, ia mengatakan masih perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait.

“Harusnya kalau baterai itu kita mungkin nanti harus ditanyakan dengan PKTR untuk warranty-nya. Tetapi saya kira 10 tahun lebih itu harusnya bisa,” ujarnya.

Dari aspek keamanan, bus listrik juga menjalani pengujian untuk menghadapi kondisi lingkungan, termasuk ketika kendaraan melewati genangan air.

Stefan menyebut fasilitas pengujian di PKTR telah menyediakan sarana untuk menguji kendaraan dalam kondisi tersebut.

“Di fasilitas yang ada di PKTR juga sudah dilengkapi dengan fasilitas untuk pengujian saat bus itu melalui keadaan ada genangan air,” katanya.

Sementara baterai yang digunakan telah dikemas dengan teknologi perlindungan terhadap air dan debu dengan tingkat IP68 atau IP69.

“Baterai yang ada di bus ini juga baterai yang sudah di-pack dengan teknologi IP68 atau 69,” ungkap Stefan.

Dua Unit Telah Dikirim ke Pemkot Semarang

Pengadaan bus listrik BRT Trans Semarang saat ini masih berjalan. Produksi dan pengiriman unit dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan kendaraan.

Stefan menyampaikan, hingga Rabu (23/9/2026), sebanyak dua unit telah dikirim kepada Pemerintah Kota Semarang. Pengiriman unit selanjutnya akan dilakukan secara bertahap.

“Saat ini memang masih dalam proses produksi. Jadi kita sudah delivery dua unit. Nanti dari minggu ke minggu kita akan terus melakukan delivery ke Pemkot,” katanya.

Untuk harga, satu unit bus listrik tersebut berada pada kisaran Rp4 miliar hingga Rp4,5 miliar.

“Ini untuk bus kisaran Rp4 miliar-an, Rp4,5 miliar,” ujar Stefan.

Bus listrik produksi Laksana itu pada akhirnya disiapkan bukan hanya sebagai kendaraan berbasis energi listrik, tetapi sebagai armada yang menyesuaikan kebutuhan transportasi publik perkotaan. Kapasitas baterai sekitar 340 kWh, jangkauan operasional hingga 240 kilometer, waktu pengisian sekitar dua jam, serta karakter torsi tinggi menjadi sejumlah aspek yang diperhitungkan untuk operasional BRT Trans Semarang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.