Jateng

Gak Sabar, 23 Bus Listrik Bakal Beroperasi di Jalanan Semarang

Muhammad Husni Mushonifi | 23 September 2026, 15:14 WIB
Gak Sabar, 23 Bus Listrik Bakal Beroperasi di Jalanan Semarang

JATENG.AKURAT.CO, Pemkot Semarang meluncurkan bus listrik yang bertepatan dengan Hari Perhubungan Nasional di halaman Balai Kota Semarang, Rabu (23/9/2026). 

Ini jadi jawaban ketidak sabaran masyarakat menunggangi kendaraan listrik untuk transportasi publik. 

Saat ini sudah beroprasi dua unit bus listrik BRT Trans Semarang yang siap membantu mobilitas warga. 

Peluncuran tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi sekaligus mendorong peralihan transportasi perkotaan dari kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan berbasis energi listrik. 

Jumlah armada bus listrik BRT Trans Semarang tidak berhenti pada dua unit. Pemerintah Kota Semarang menargetkan total 23 bus listrik hingga Oktober 2026. 

Dari jumlah tersebut, dua unit disiapkan sebagai armada cadangan untuk mendukung pelayanan Koridor 1 rute Mangkang-Penggaron. 

Dua Bus Listrik Jadi Awal Elektrifikasi Trans Semarang 

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan penggunaan bus listrik merupakan bagian dari gerakan lingkungan untuk menekan emisi di Kota Semarang. 

“Ini adalah gerakan lingkungan mengurangi emisi di Kota Semarang,” kata Agustina di halaman Balai Kota Semarang, Rabu (23/9/2026). 

Menurut Agustina, elektrifikasi transportasi tidak hanya diarahkan pada bus BRT. Pemerintah juga berharap penggunaan kendaraan listrik semakin berkembang pada moda transportasi lain, termasuk taksi listrik. 

“Kita berharap bus listrik, kemudian angkutan lainnya, ada taksi listrik, lalu masyarakat akan mulai tahu dan merasa yakin kalau penggunaan mobil listrik itu tidak akan repot,” ujarnya. 

Pengoperasian bus listrik juga diharapkan menjawab keraguan masyarakat mengenai penggunaan kendaraan listrik, terutama terkait pengisian daya dan kemampuan kendaraan dalam melayani perjalanan sehari-hari. 

Angkut Banyak Penumpang, Emisi Didorong Lebih Rendah 

Agustina menilai transportasi publik berbasis listrik dapat menjadi contoh penggunaan energi listrik untuk kendaraan berkapasitas besar. 

Menurutnya, satu bus dapat mengangkut puluhan penumpang sekaligus sehingga penggunaan transportasi umum dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. 

“Kalau mengangkut 80 orang, dibandingkan dengan mobil-mobil kecil, ini sebuah gerakan yang menurut saya memang kita mulai dari sekarang,” katanya. 

Pemkot Semarang juga berharap masyarakat semakin merasakan kenyamanan transportasi listrik seiring dengan bertambahnya armada BRT. 

“Dan mungkin kenyamanannya akan jauh lebih baik daripada menggunakan transportasi yang berbahan bakar,” ujar Agustina. 

“Selamat Tinggal Cumi-Cumi Darat” 

Dalam upaya mengurangi kendaraan berbahan bakar fosil, Agustina menggunakan istilah “cumi-cumi darat” untuk menyebut kendaraan yang masih menghasilkan emisi dari pembakaran bahan bakar. 

“Kita harus mengatakan perlahan-lahan selamat tinggal cumi-cumi darat,” kata Agustina. 

Meski demikian, Pemkot Semarang tidak akan langsung menghapus seluruh kendaraan berbahan bakar fosil. Pengurangan armada dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan usia kendaraan dan waktu penggantian armada. 

Kendaraan yang masih relatif baru tetap akan digunakan. Sementara armada yang memasuki masa penggantian secara bertahap diarahkan untuk digantikan dengan kendaraan yang lebih baru. 

Pemkot Buka Pengawasan Kendaraan Berasap

Selain melakukan elektrifikasi transportasi publik, Pemkot Semarang juga meminta masyarakat ikut mengawasi kendaraan yang menghasilkan emisi berlebihan. 

Agustina meminta masyarakat melaporkan kendaraan yang dinilai mengeluarkan asap secara berlebihan kepada pemerintah kota. 

“Saya minta masukan masyarakat yang masih mengeluarkan sembunyi-sembunyi darah, laporkan saja kepada Pemerintah Kota supaya nanti dipanggil, dikunjungi, dan diminta untuk segera proses,” ujarnya. 

Menurut Agustina, pengurangan kendaraan berbahan bakar fosil merupakan proses bertahap. Pemerintah tidak menargetkan seluruh kendaraan tersebut langsung hilang dalam waktu singkat. 

“Ini adalah komitmen dari Pemerintah Kota Semarang untuk mengurangi. Kalau menghilangkan mungkin itu terlalu ekstrem. Mengurangi, jika satu bus berkurang, satu bus akan berkurang terus dan terus, nanti lama-lama akan selesai,” katanya. 

Industri Nasional Dukung Bus Listrik Semarang

Direktur Teknik PT Laksana Bus Manufaktur (Karoseri Laksana), Stefan Arman, mengatakan pihaknya mendukung langkah Pemkot Semarang dalam mengembangkan transportasi berbasis listrik. 

Menurut Stefan, produksi bus listrik tersebut melibatkan industri nasional dan menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan transportasi yang lebih berkelanjutan. 

“Ya, tentu kita memilih komitmen untuk bangun elektrifikasi di Semarang,” kata Stefan. 

Ia mengatakan industri karoseri nasional berupaya menjadi mitra pemerintah dalam mendukung pengembangan sistem transportasi perkotaan. 

“Kami dari Laksana pertama-tama mengucapkan terima kasih kepada jajaran Pemkot Semarang yang telah memberikan kepercayaan dan terus mengubah tata Kota Semarang ini menjadi sebuah kota yang lebih sustainable,” ujarnya. 

TKDN Bus Listrik Capai 40 Persen 

Stefan menyebut penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi salah satu bagian penting dalam produksi bus listrik tersebut. 

Ia menyampaikan kandungan produk dalam negeri pada kendaraan tersebut mencapai 40 persen. 

“Kami tentunya sebagai industri nasional selalu berpartner untuk bisa men-support semua inisiatif-inisiatif pemerintah kota ini,” katanya. 

Dengan peluncuran dua unit awal, pengembangan bus listrik BRT Trans Semarang akan dilanjutkan secara bertahap hingga mencapai target 23 unit pada Oktober 2026. 

Elektrifikasi tersebut menjadi salah satu langkah Pemkot Semarang dalam mengembangkan transportasi publik berbasis energi listrik sekaligus mengurangi emisi dari sektor transportasi perkotaan. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.