Jateng

Penelitian BRIN Ungkap Peradaban Megalitik di Gunung Slamet

Afri Rismoko | 25 Juli 2024, 13:20 WIB
Penelitian BRIN Ungkap Peradaban Megalitik di Gunung Slamet

AKURAT.CO, Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengungkap keberadaan peradaban megalitik di sekitar Gunung Slamet, Jawa Tengah, yang berlangsung sekitar tahun 2500 hingga 200 sebelum masehi.

Hal ini diungkapkan dalam seminar tentang Rekam Jejak Manusia dan Budaya Austronesia di Nusantara yang diadakan secara daring di Jakarta, Kamis.

Menurut Priyatno Hadi, Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, masyarakat megalitik di Gunung Slamet memiliki kepercayaan kuat terhadap kekuatan supranatural.

"Mereka percaya ada kekuatan di luar diri manusia yang dapat mempengaruhi kehidupan," kata Hadi. Penemuan ini didasarkan pada analisis situs-situs megalitik yang berupa susunan batu-batu besar di lereng Gunung Slamet.

Baca Juga: Maroko Buat Kejutan, Kalahkan Argentina di Pembukaan Olimpiade Paris 2024

Situs megalitik ini terletak di lereng bawah (low land) dan lereng tengah (middle land), dengan orientasi bangunan pemujaan yang tidak diletakkan di puncak tetapi mengarah ke sana.

"Penempatan ini menunjukkan bahwa kebutuhan spiritual mereka terpenuhi dengan mendirikan bangunan pemujaan di lokasi tersebut," tambah Hadi.

Selain itu, ditemukan pula 70 situs megalitik di kawasan Gunung Slamet, menunjukkan bahwa kebudayaan megalitik telah berkembang luas di era tersebut.

Menariknya, masyarakat setempat memisahkan tempat tinggal dan tempat pemujaan.

Hal ini dibuktikan dengan temuan 231 menhir, yang dibagi menjadi tiga kelompok: situs penguburan, situs pemujaan, dan pemukiman penduduk.

Baca Juga: Pelatih Bali United, Stefano Cugurra, Pertanyakan Keputusan VAR dalam Kekalahan dari Madura United di Piala Presiden 2024

Analisis lebih lanjut oleh tim BRIN menunjukkan bahwa pemilihan lokasi situs-situs megalitik yang terbatas pada lereng bawah dan tengah adalah strategis, mengingat masyarakat megalitik adalah agraris dan memilih lahan yang cocok untuk pertanian.

"Lingkungan gunung menyediakan sumber daya pertanian yang terbatas pada lereng bagian bawah atau tengah, sangat sesuai dengan subsistensi mereka," jelas Hadi.

Temuan ini menambahkan pemahaman yang lebih dalam mengenai peradaban megalitik di Indonesia, khususnya dalam konteks interaksi mereka dengan lingkungan dan spiritualitas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Afri Rismoko
A