Jateng

Sinyal Asing di Langit Nusantara: Starlink Siap Guncang Fiber Optik Lokal, Kedaulatan Indonesia Dipertanyakan di Era Satelit Luar Negeri

Afri Rismoko | 22 Mei 2024, 06:37 WIB
Sinyal Asing di Langit Nusantara: Starlink Siap Guncang Fiber Optik Lokal, Kedaulatan Indonesia Dipertanyakan di Era Satelit Luar Negeri

AKURAT.CO, Seiring dengan masuknya teknologi satelit Starlink milik Elon Musk ke Indonesia, muncul berbagai pertanyaan mengenai kebijakan pemerintah dalam mengelola kedaulatan dan sumber daya nasional.

Henri Subiakto, seorang dosen dari Universitas Airlangga, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap prioritas yang diberikan kepada perusahaan asing dibandingkan dengan infrastruktur yang sudah dibangun oleh Indonesia.

Menurut Subiakto, Indonesia yang telah meluncurkan Satelit Republik Indonesia (Satria 1) pada tahun 2023 dan merencanakan Satria 2, serta membangun jaringan fiber optik Palapa Ring, seharusnya dapat mengoptimalkan penggunaan aset-aset tersebut sebelum mengandalkan teknologi asing.

Baca Juga: Klasemen Hasil Match#1 Babak 16 Besar Liga 3 Nasional, Empat Tim Wakil Jatim Tiarap, Siap Pulang Lebih Awal Jika Syarat Tak Terpenuhi

"Kenapa saat kita sudah memiliki infrastruktur seperti Tol Langit dan ribuan BTS, tiba-tiba pemerintah memberikan 'karpet merah' untuk Starlink?" tanya Subiakto.

Dalam UUD 1945 Pasal 33 disebutkan bahwa segala kekayaan yang terkandung di dalam bumi dan ruang udara Indonesia dikuasai oleh negara.

Ini memunculkan pertanyaan besar kenapa pemerintahan saat ini tampaknya mengabaikan aspek kedaulatan tersebut dengan memfasilitasi operasional satelit asing yang beroperasi di atas 450 km hingga 1200 km dari permukaan bumi, yang secara teknis berada di luar batas kewenangan udara nasional, tetapi tetap beroperasi di atas Indonesia.

Baca Juga: Starlink Berbahaya bagi Indonesia: Ancaman bagi Kedaulatan Nasional, Bisa Mematikan Industri Internet Dalam Negeri

"Penting bagi kita untuk memperkuat penggunaan aset nasional dan tidak tergesa-gesa memberikan akses kepada perusahaan asing yang mungkin tidak selaras dengan keamanan dan kedaulatan digital kita."

Kasus Starlink ini menyoroti pentingnya sinergi antar kementerian dan kebijakan digitalisasi nasional yang konsisten.

Isu ini menjadi bukti bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi asing, tetapi juga sebagai pemain aktif dalam pemanfaatan teknologi ruang angkasa secara mandiri.

Starlink, layanan internet satelit dari SpaceX, telah resmi diizinkan untuk beroperasi di Indonesia dan akan meluncur pada pertengahan Mei 2024.

Layanan ini menawarkan konektivitas internet menggunakan satelit yang berada pada orbit rendah bumi, yang memungkinkan penyediaan internet cepat dan stabil, terutama di daerah terpencil.

Dalam kerja sama dengan provider lokal, Starlink juga mengintegrasikan infrastrukturnya dengan jaringan yang sudah ada di Indonesia untuk meningkatkan jangkauan dan kualitas layanan internet di negara ini​

Mengenai biaya, paket standar Starlink di Indonesia dibanderol dengan harga Rp 750.000 per bulan. Pelanggan juga diharuskan membayar biaya untuk perangkat keras yang diperlukan untuk instalasi, yang harganya sekitar Rp 7.800.000 namun saat ini biaya perangkat keras lagi ada diskon 40 persen.

Biaya ini mencakup perangkat keras penangkap sinyal atau Starlink Kit serta biaya pengiriman dan penanganan

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Afri Rismoko
A