Imbas Banjir, Semarang Bawah Terendam Serta Ribuan Keluarga dan Rumah Terdampak

AKURAT.CO, Walikota Semarang Hevearita G Rahayu bersama jajaran melakukan pantauan banjir ke beberapa titik terparah seperti di Jl Hasanuddin, Pompa Polder Berok, Kaligawe, Muktiharjo dan beberapa tempat lain yang menjadi pusat pengungsian.
Tercatat, warga terdampak banjir di Sawah Besar ada 2800 KK dengan 2500 rumah, di Kaligawe sebanyak 3000 KK dengan rumah terdampak sebanyak 2800 buah, kemudian di Tambakrejo sebanyak 3500 KK dengan rumah terdampak 3000 buah.
Wanita yang akrab disapa Mbak Ita itu mengatakan banjir diakibatkan hujan 3 hari berturut-turut, malam terakhir menjadi yang paling dahsyat dengan curah hujan 40,5 mili liter perdetik.
Sehingga menyebabkan Semarang Bawah terendam banjir. Kemudian ada juga banjir kiriman di Sungai Plumbon tapi sudah berangsur-angsur surut.
Baca Juga: Tinjau Banjir di Semarang Utara, Mbak Ita Ikut Bantu Evakuasi Warga
Karena wilayah Kabupaten Semarang juga terjadi hujan lebat.
“Sungai Plumbon itu juga semalam mencatatkan ketinggan air mencapai 170 cm, biasanya Cuma 100 cm,” ujar Mbak Ita di sela-sela pemantauan, Kamis (14/3/2024).
Kemudian Mbak Ita mengatakan di Kelurahan Madukoro terjadi banjir karena airnya tidak bisa masuk ke Banjir Kanal barat yang airnya sudah sangat tinggi.
“Sehingga mau dipompapun airnya juga balik lagi,” jelsanya
Mbak Ita mengatakan Pemkot Semarang meminta bantuan kepada Dinas Pusdataru Provinsi Jateng dan BBWS yang wilayah Kalibodri, di sana ada mobil pompa dan rumah pompa ada 4 kemudian ditambah ada 4 pompa portable sehingga dengan peralatan yang lengkap diharapkan bisa segera membuat banjir surut di wliayah Madukoro.
“Kemudian juga banyaknya sampah sehingga diperlukan pembersihan-pembersihan,” sambungnya.
Di wilayah Panggung Lor banjir juga terjadi karena ada pecahan-pecahan pipa yang airnya beraswal dari Kali Semarang masuk kewilayah lebih rendah. Pangging Lor sedang dilakukan perencanaan untuk peninggian jalan.
“Nah semoga nanti saat jalan sudah tinggi tidak terkena banjir lagi,” katanya.
Dari Informasi yang dihimpun, sudah ada 12 pengungsi dari Kelurahan Panggung Lor ini yang kebanyakan adalah lansia.
Mbak Ita menyampaikan daerah paling terdampak parah antara lain Kecamatan Gayamsari, Kecamatan Genuk, dan Kecamatan Pedurungan. Untuk Kaligawe ini sebenarnya yang terdampak banyak, namun yang mengungsi baru 15 orang karena warga berat untuk meninggalkan rumah mereka. Sehingga mereka diberikan bantuan sembako dan lauk-pauk.
Mbak Ita sendiri sudah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait mulai dari Provinsi, BBWS, dan Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Sosial untuk menanggulangi bencana. Kemudian terkait bantuan-bantuan juga akan segera kami lucurkan.
Baca Juga: Sejarah dan Asal Usul Sendangguwo: Keajaiban dan Legenda yang Menaungi Kota Semarang
“Tadi kami juga sudha mendirikan dapur umum di Balaikota, Candisari, Gayamsari, Genuk dan Pedurungan yang terpusat di USM serta beberapa tempat lain. Selain dapur umum kami juga menyediakan makanan siap saji,” tutupnya.
Camat Gayamsari, Eko mengatakan warga terdampak banjir di Sawah Besar ada 2800 KK dengan 2500 rumah, di Kaligawe sebanyak 3000 KK dengan rumah terdampak sebanyak 2800 buah, kemudian di Tambakrejo sebanyak 3500 KK dengan rumah terdampak 3000 buah.
“Ketinggian air antara 70 sampai 100 meter, tapi hari ini dengan surutnya BKT ini beberapa wilayah sudah mulai turun. Tapi di Tambakrejo dan sekitarnya yang akses jalannya belum bisa dilalui. Paling parah ada di Tambakrejo dan di Kaligawe,” ujarnya.
“Untuk pengungsi ada dari warga Sawah Besar dan mengungsi di SMPN 4, Balai RW, dan TK Pertiwi. Sawah besar memang jadi daerah paling terdampak karena mendapat limpasan dari BKT dan arteri. Kemudian kami akan membuka Dapur Umum di Jalan Kaligawe Raya,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 7Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 8Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 9Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?
- 10Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal










