Jateng

Kisah Survival di Atap Rumah: Warga Demak Hadapi Banjir Terparah

Afri Rismoko | 9 Februari 2024, 13:23 WIB
Kisah Survival di Atap Rumah: Warga Demak Hadapi Banjir Terparah

AKURAT.CO, Dalam upaya penanganan dan pemulihan kondisi pasca-banjir yang melanda Karanganyar, Demak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus telah mendirikan tiga posko bantuan.

Lokasi posko yang strategis di Terminal Induk Jati, Tanggulangin, dan Balai Desa Jati Wetan dipilih untuk memudahkan akses bagi warga terdampak banjir serta distribusi logistik.

Syarif Hidayah, Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kudus, pada Jumat (9/2/2024), menjelaskan pemilihan lokasi posko didasarkan pada kedekatannya dengan area tergenang banjir.

“Kami ingin memastikan posko mudah diakses, baik untuk evakuasi warga maupun penyaluran bantuan logistik,” ujarnya.

Baca Juga: Banjir Belum Surut, Jalur Pantura Kudus-Demak Terjebak Kemacetan Ekstrem

Saat ini, mayoritas pengungsi di posko merupakan warga Karanganyar, Demak. Namun, BPBD Kudus masih membutuhkan dukungan berupa logistik, obat-obatan, toilet portabel, dan peralatan tidur untuk memenuhi kebutuhan para korban banjir.

Data terkini yang dihimpun menunjukkan jumlah pengungsi di posko Terminal Induk Jati mencapai 272 orang, termasuk di antaranya empat balita, sebelas lansia, dan 13 anak-anak.

Salah satu pengungsi, Sudarsih dari Karanganyar, Demak, berbagi pengalaman pahitnya saat harus mengungsi.

Baca Juga: UPDATE Banjir Demak, 272 Orang dari Karangayar Demak, Mengungsi ke Terminak Induk Jati

"Sejak Kamis siang hingga malam, saya terpaksa bertahan di atap rumah hingga akhirnya dievakuasi menggunakan perahu karet," katanya.

Sudarsih juga menggambarkan kondisi sulit yang dialaminya saat berada di atap rumah, termasuk kelaparan dan gangguan nyamuk.

“Ini merupakan banjir terbesar yang pernah saya alami,” tambahnya.

BPBD Kudus bersama relawan dan instansi terkait terus berupaya meringankan beban warga terdampak banjir Karanganyar, Demak.

Banjir besar yang melanda Karanganyar, Demak, telah memaksa warga setempat, Supiah, untuk bertahan hidup dengan cara yang unik dan berani.

Menggunakan galon air mineral sebagai alat untuk bertahan di atas banjir, Supiah dan anaknya berhasil mencapai tempat yang lebih aman.

Pada Jumat (9/2/2024), Supiah menceritakan pengalamannya saat banjir menghancurkan rumahnya.

"Air masuk ke rumah kami kemarin siang pukul 12.00 WIB dan naik dengan cepat sekali," ujar Supiah.

Dalam waktu singkat, air telah mencapai ketinggian leher, memaksa Supiah dan anaknya untuk mencari perlindungan.

Dengan keberanian, mereka menggunakan galon air mineral untuk menyeberangi banjir menuju rumah tetangga yang memiliki lantai dua.

"Saya dan anak saya menyeberang pakai galon ke rumah tetangga pada sore hari," katanya.

Meski telah mencapai lantai dua, ketakutan akan keamanan struktur kayu rumah tetangga tetap menghantui.

Supiah, yang kini telah dievakuasi ke posko BPBD Kudus di Terminal Induk Jati Kudus, mengakui bahwa banjir kali ini adalah yang terbesar yang pernah dialaminya.

"Ini yang terbesar dan airnya cepat naik," ungkapnya, menambahkan bahwa seluruh harta benda mereka tidak bisa diselamatkan.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Afri Rismoko
A