Jateng

Hotel Sky Garden Jadi Tempat Favorit Semarangker Uji Nyali, Apakah Benar Banyak Makhluk Jahat?

Theo Adi Pratama | 23 Januari 2024, 19:33 WIB
Hotel Sky Garden Jadi Tempat Favorit Semarangker Uji Nyali, Apakah Benar Banyak Makhluk Jahat?

AKURAT.CO, Kepercayaan masyarakat Nusantara tentang kisah mitos atau legenda misteri sangat kental.

Bahkan masyarakat sampai kesulitan membuktikan kebenaran mitos tersebut.

Tradisi ini ingin didobrak oleh komunitas Semarangker yang berdiri sejak tahun 2007 silam.

Baca Juga: Lagi, Pengedar Sabu Dibekuk Satres Narkoba Polres Salatiga 

Pamuji Yuwono selaku Ketua Semarangker bahkan sampai memiliki tempat-tempat favorit untuk menguji coba apakah betul keangkeran tersebut benar-benar nyata atau hanya kepercayaan tanpa bukti.

Salah satu tempat favorit Pamuji adalah eks Hotel Sky Garden Semarang yang dinobatkan oleh salah satu stasiun TV nasional sebagai tempat terangker di Indonesia.

“Saya itu kalau bicara tempat terangker di Indonesia yang menjadi favorit saya ya eks Hotel Sky Garden Semarnag. Itu menjadi salah satu dari 7 tempat paling angker se Indonesia versi salah satu stasiun TV swasta yang pernah punya program horror,” ujar Pamuji saat ditemui pada Selasa (23/1/2024).

Baca Juga: Politik Goes To School, Kapolres Kendal Pesan Pelajar Bijak Bermedsos

Pamuji menilai, ‘keangkeran’ eks hotel Sky Garden sebenarnya hanya eksposure media TV. Pasalnya, saat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) belum memperketat aturan penayangan tayangan horror, hotel yang sudah tak beroprasi sejak 1984 ini sering menjadi destinasi ‘uji nyali’.

“Ceritanya, eks hotel Sky Garden terkenal angker kan karena ekspose media, salah satunya TV kan. Dulu sebelum KPI punya aturan ketat soal tayangan horror atau mistis, hampir semua stasiun TV menayangkan,” tuturnya.

Meja Resepsionis Milik Kuntilanak

Keangkeran hotel yang berdiri di bukit Lempongsari tersebut semakin terekspose karena setiap stasiun TV menggelar ‘uji nyali’ selalu mendatangkan artis dan kru yang sangat banyak dan mereka kesurupan semua.

“Nah setiap ada program horror di eks hotel sky garden, stasiun TV kan pasti bawa artis sama kru kan. Nah mereka pasti kerasukan karena melanggar pantangan,” tuturnya.

Baca Juga: Skenario Syarat Indonesia Lolos Babak 16 Besar di Laga Terakhir Grup B Grup C Piala Asia 2023 Malam Ini! Cek Hasil Akhir Full Time

Pamuji menceritakan, salah satu tempat atau benda yang banyak pantangannya adalah meja resepsionis yang tidak boleh disentuh karena diklaim milik seorang Kuntilanak.

“Kalau disentuh akan kerasukan kuntilanak,” tuturnya.

Mitos pantangan tersebut sekali lagi menjadi tantangan untuk Pamuji dan kru Semarangker. Mereka masuk ke hotel dan memegang meja resepsionis bahkan menggoyang-goyangkan meja tersebut.

“Nah akhirnya pantangan tersebut menjadi tantangan buat kami. Kami masuk ke hotel sky garden, kami pegangi meja resepsionistnya. Dan ternyata tidak terjadi apa-apa,” ujarnya.

Baca Juga: Jadwal Piala Asia 2023 Hari Ini, Indonesia Tunggu Hasil Laga Penentu Peringkat Tiga Terbaik, Suriah vs India - Hong Kong vs Palestina, CEK SCORE AKHIR

Pohon Ki Sengot

Di tengah hutan eks hotel sky garden juga ada pohon yang diberi nama Ki Sengot oleh oleh warga sekitar. Ki Sengot sendiri digambarkan sebagai seorang laki-laki bertubuh manusia berambut gondrong berwarna hijau bersisik tapi wajah dan kepalanya ular.

Ki Sengot dipercaya sebagai panglimanya Nyi Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan). Ki Sengot dikisahkan bersemayam di pohon tersebut yang membuat pohon tersebut diberi nama Ki Sengot.

Akar pohonnya itu menjurai panjang dan tidak boleh disentuh. Apalagi saat melewati akar itu jangan sampai menyenggol.

“Nah kami tertantang buat menyentuh akar pohon itu. Saya minta ijin ke pengelola eks hotel sky garden untuk menyentuh akar pohon tersebut, kalau perlu kami tarik-tarik atau kalau bisa kami tebang sekalian pohonnya,” ujar Pamuji.

Bahkan Pamuji membawa potongan akar pohon Ki Sengot sebagai barang koleksi.

“Akhirnya kami tebang beneran, bahkan akarnya kami bawa sebagai barang koleksi. Dan faktanya tidak terjadi apa-apa hingga saat ini,” tuturnya.

Baca Juga: Menguak Misteri Hotel Sky Garden Semarang: Antara Sejarah dan Kisah Mistis yang Menyelimutinya

Kolam Renang Wewe Gombel

Pamuji juga menceritakan ada kolam renang yang diyakini menjadi sarang Wewe Gombel. Kolam tersebut dilarang untuk digunakan berenang atau menyentuh airnya, karena diyakini akan diganggu Wewe Gombel tersebut.

“Nah kami ini udah ratusan kali nyemplung berenang di kolam tersebut dan tidak terjadi apa-apa,” kisanya dengan terkekeh kembali.

Pamuji mengatakan dirinya bersama tim memiliki trik supaya tidak kerasukan atau diganggu makhluk astral adalah. Pamuji dan tim hanya fokus dan yakin baik dipikiran, mulut, dan hati bahwa mereka dijaga oleh Allah SWT.

Semarangker memiliki program eks tur, yaitu program berbayar bertema wisata malam untuk mengunjungi tempat-tempat angker. Pamuji mengatakan banyak peserta wisatawan yang kerasukan namun pihaknya sudah mempersiapkan keperluan agar bisa mengatasi hal tersebut.

“Saya selalu menyampaikan ke peserta eks tur agar selalu yakin bahwa kita dilindungi dan fokus terhadap apa yang akan kita lakukan,” ujarnya.

Baca Juga: Mengintip Misteri di The Red Lion Hotel, Salisbury: Hotel Tertua dengan Penghuni Gaib

Kerasukan Adalah Pertentangan Psikologis

Fenomena kerasukan, menurut Pamuji, disebabkan karena pertentangan keyakinan di dalam hati dan pikiran kita sendiri yang akhirnya membuat keseimbangan psikologis terganggu.

“Saya selalu menyampaikan agar pikiran, mulut, dan hati fokus terhadap satu keyakinan,” ujarnya.

Menurut Pamuji, banyak orang-orang saat sudah terlanjur masuk ke tempat-tempat angker selalu mempertentangkan apakah benar ada makhluk halus atau tidak. Mereka menjadi panik dan kemudian terjadilah pertentangan psikologis.

“Mereka mikirnya jangan jangan ada makhluk, jangan jangan ini, jangan jangan itu. Nah ‘jangan jangan’ itulah tanda ada pertentangan psikologis,” jelasnya.

Jadi berdasarkan analisanya, gejala kerasukan itu ada tiga faktor; pertama karena ada faktor psikologis seperti skizofrenia, pura-pura kerasukan atau acting, atau bisa jadi memang benar-benar kerasukan makhluk lain.

Nah untuk mengecek apakah seseorang kerasukan betulan atau tidak, Pamuji biasanya menggunakan teknik pijat refleksi di telapak tangan atau telapak kaki karena ada syaraf sakit di situ.

“Nah kalau orang yang benar-benar kerasukan, ketika syaraf sakitnya kita pencet, dia tidak akan merasakan sakit. Tapi kalau cuma pura-pura atau akting saja, dipencet sedikit syaraf sakitnya dia akan teriak-teriak,” tutupnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.