Jateng

Bunuh Diri Bisa Menular, Bagaimana Cara Mencegahnya?

Theo Adi Pratama | 12 Oktober 2023, 20:20 WIB
Bunuh Diri Bisa Menular, Bagaimana Cara Mencegahnya?

AKURAT.CO SEMARANG - Pemberitaan tentang dua mahasiswi di Kota Semarang yang bunuh diri berisiko ditiru oleh individu yang membacanya.

Kondisi ini dikenal sebagai copycat suicide, yaitu bunuh diri yang meniru orang lain.

Akun twitter @sepahitrobusta menyebut bahwa pemberitaan kasus bunuh diri dua mahasiswi di Kota Semarang yang terlalu detail tersebut bisa mentrigger orang lain untuk melakukan hal serupa.

Baca Juga: Gojek Luncurkan Layanan Hemat Untuk Penuhi Kebutuhan Harian Masyarakat

Akun tersebut menyebutnya sebagai “Copycat Suicide”.

“Mendeskripsikan pristiwa dengan spesifik (seperti caranya, tempatnya, dan sebagainya) bisa mentrigger “Copycat Suicide”. Pristiwa bunuh diri itu sangat bisa menular ke orang lain,” ujar @sepahitrobusta membalas postingan berita bunuh diri dari akung @Jateng_Twit pada Kamis (12/10/2023).

Pertanyaannya, apa itu Copycat Suicide?

Menurut laman halodoc.com, para ahli memperingatkan adanya copycat suicide atau suicide contagious, yaitu perilaku bunuh diri yang menular.

Copycat suicide adalah meniru perilaku bunuh diri setelah mengetahui adanya kabar bunuh diri oleh orang lain.

Baca Juga: Prihatin Atas Dua Kasus Bunuh Diri Mahasiswi di Semarang, Mbak Ita Ajak Orang Tua Pahami Persoalan Anak-anakny

Perlu diwaspadai, berita tentang bunuh diri seseorang yang terlalu detail dan spesifik dapat memberikan efek peniru yang cukup besar pada individu lain.

Menurut penelitian pada Journal of Epidemiology & Community Health, contoh terbesar dari copycat suicide yaitu setelah adanya berita bunuh diri ikon film Marilyn Monroe.

Pada masanya, tingkat bunuh diri menjadi meningkat sekitar 12 persen pada Agustus 1962, di bulan kematiannya.

Baca Juga: Andy Budiman Jelaskan Echo Chamber di Unwahas, Apa Itu?

Demikian pula dalam lima bulan setelah bunuh dirinya komedian Robin Williams pada Agustus 2014, kasus bunuh diri meningkat sebesar 9,85 persen.  

Hubungan antara pemberitaan tentang bunuh diri dengan meningkatnya kasus bunuh diri memang belum dibuktikan dengan penelitian ilmiah.

Namun penggambaran bunuh diri yang detail dan spesifik dengan penggambaran yang realistis terbukti memiliki dampak terhadap peningkatan kasus bunuh diri.

Peningkatan kasus ini terjadi dalam beberapa bulan setelah pemutaran perdana musim pertama serial Netflix berjudul 13 Reason Why, yang berkisah tentang gadis berusia 17 tahun yang bunuh diri, terjadi peningkatan 28,9 persen peristiwa bunuh diri di kalangan anak-anak usia 10 hingga 17 tahun.

Baca Juga: GIIAS Semarang 2023 Tampilkan Teknologi Otomotif Canggih Multi Brand

Peningkatan bunuh diri tersebut terutama berdampak pada anak laki-laki dalam kelompok usia tersebut.

Sementara itu penelitian pada tahun 2015 pada Journal of Health and Social Behavior menemukan, remaja yang mengetahui adanya upaya bunuh diri teman memiliki risiko dua kali lipat untuk melakukan percobaan bunuh diri pada tahun berikutnya. 

Walaupun begitu, ada cara untuk mencegah kasus bunuh diri menular kepad aindividu lain, di antaranya bahwa media massa Buat laporan tentang bunuh diri secara faktual dan ringkas.

Hindari terlalu menyederhanakan alasan bunuh diri dengan menunjuk pada peristiwa atau stres kehidupan negatif baru-baru ini.

Baca Juga: Brunei Pakai Taktik Parkir Bus, Timnas Indonesia Waspadai Pemain Ini Cek Prediksi Skor Malam Ini, Live RCTI

Hindari menggambarkan atau mendeskripsikan metode yang digunakan individu untuk bunuh diri.

Hindari mendukung individu bahwa perilaku bunuh dirinya membantu mereka mencapai tujuannya.

Berikan informasi tentang kontak darurat (hotline) untuk pencegahan bunuh diri, dan cara lain untuk membantu seseorang berniat untuk bunuh diri.

Kemudian Pedoman pencegahan untuk orang tua, guru, dan anggota komunitas lainnya antara lain; Berbicara dengan anak-anak tentang kematian itu akan ada waktunya.

Baca Juga: Kisah Pengguna Setia Kartu Tri, Harga Murah dan Sinyal Cepat Jadi Alasannya

Meskipun begitu, orang tua tidak boleh menekankan metode bunuh diri.

Namun, jangan juga berusaha merahasiakan apa yang terjadi atau mencoba menghindari percakapan tentang berita bunuh diri.

Memeriksa anak secara rutin dengan melakukan percakapan yang memungkinkan anak untuk mengungkapkan perasaannya, tentang apa yang terjadi dan bunuh diri secara umum.

Sekolah dan tempat berkumpulnya anak-anak dan remaja dapat menawarkan program pencegahan bunuh diri, yang memberikan pelatihan tentang cara merespons ketika seorang teman memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Jika seorang anak atau remaja menunjukkan stres, tekanan, atau mengaku merasa ingin bunuh diri, orang tua harus membawa mereka ke profesional kesehatan mental.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.