AKURAT.CO, Pupuk bersubsidi yang dialokasikan Pemerintah setiap tahunnya memang kurang atau tidak bisa memenuhi semua kebutuhan petani. Dimana alokasi permintaan dari seluruh Indonesia mencapai 24 juta ton, sedangkan alokasi pupuk bersubsidi dari Pemerintah tahun ini hanya 6 juta ton.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Komisi IV DPR RI Sudin merespons keluhan petani sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi di Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
“Pemerintah hanya mampu memenuhi 9 juta ton turun jadi 7 juta ton, malah tahun ini 6 juta ton, tahun depan akan menurun lagi,” tandas Sudin.
Baca Juga: Jokowi Beri Pesan Khusus untuk Ganjar Pranowo tentang Kedaulatan Pangan di Rakernas PDI Perjuangan
Ia pun mengusulkan adanya kesiapan pupuk nonsubsidi sebagai antisipasi agar petani tidak kesulitan dalam mendapatkan pupuk. Karena pupuk merupakan kebutuhan dasar dalam budidaya pertanian.
Adapun usulan yang disampaikan diantaranya, penyiapan 1.000 kios pupuk nonsubsidi tahun ini. Selanjutnya ada penambahan 1.500 kios pupuk nonsubsidi di tahun 2024 mendatang.
Menurutnya, kios ini akan memudahkan petani dalam memperoleh pupuk, khususnya bagi petani yang tidak berhak mendapatkan pupuk bersubsidi maupun yang jatah pupuk bersubsidinya belum mencukupi kebutuhan.
Baca Juga: Jamu PSM, Pelatih PSIS Dipusingkan Absennya Sejumlah Pemain
Adapun petani yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi harus memenuhi kriteria yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 Tahun 2022, yaitu wajib tergabung dalam kelompok tani, terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluh Pertanian (SIMLUHTAN), menggarap lahan maksimal dua hektare.
Selain itu, dalam peraturan ini juga menetapkan sembilan komoditas strategis yang berhak menerima subsidi pupuk, antara lain padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, kopi, tebu, dan kakao.
"Jadi petani yang tidak dapat bantuan pupuk subsidi mau cari nonsubsidi dapat,” tandasnya.
Baca Juga: Gelandang Phnom Penh Crown FC dan Pluim Santer Dikaitkan dengan PSIS
Sementara untuk mengantisipasi kerugian pada saat puso atau gagal panen, khususnya akibat terendam banjir, Sudin mendorong agar para petani ikut program asuransi pertanian. Sebab premi yang harus dibayarkan terbilang murah, dalam sekali masa tanam hanya Rp 36 ribu.
“Masalah asuransi pertanian kurangnya kesadaran petani ikut asuransi pertanian, bayarnya murah Rp 36 ribu satu masa tanam. Kalau terjadi puso gagal panen dapat Rp 6 juta,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Pemuda dan Mahasiswa Jateng Didorong Perkuat Gerakan Antikorupsi, Alumni Kelas Antikorupsi Mulai Jalankan Rencana Aksi
- 2PT Pandawa LED Indonesia Buka Lowongan Admin Support di Semarang, Fresh Graduate Bisa Melamar!
- 3Infinix SMART 20e Segera Masuk Indonesia, Bawa Baterai 6.000mAh dan Layar 120Hz
- 4Kolaborasi Pegadaian dan BCA Digital Hadirkan Investasi Emas Mulai Rp10.000 via Aplikasi blu
- 5Kebakaran Lahan Balekambang Malam Hari, BAGANA Bergerak Cepat Bersama Warga dan Aparat Padamkan Api
- 6Sesa Creative Buka Lowongan Social Media Specialist, Content Creator, dan Graphic Designer di Semarang
- 7Rekomendasi Kabel Charger Pihak Ketiga Terbaik 2026: Bersertifikat, Awet, dan Terjangkau
- 8Atria Hotel Magelang Tunjukkan Kesiapan Gelar Acara Skala Besar, 1.500 Peserta Sosialisasi Jaminan Sosial Hadir
- 9Stunting Semarang Turun Jadi 4,49 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi hingga Program MBG
- 10Bocoran iPhone 20 Pro: Layar Lebih Besar dan Desain Borderless


