Jateng

QRIS Bikin Hidup Praktis, Tapi Kenapa Dompet Anak Kost Makin Cepat Kosong?

Theo Adi Pratama | 29 Oktober 2026, 20:00 WIB
QRIS Bikin Hidup Praktis, Tapi Kenapa Dompet Anak Kost Makin Cepat Kosong?
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Anak kost era 2026 sudah hampir tidak pernah memegang uang kertas: dari bayar kos, beli geprek, sampai patungan tugas, semua lewat QRIS.

Praktis, tapi dompet digital yang terus dipindai juga bikin pengeluaran kecil terasa tidak pernah keluar.

Di kamar kos ukuran 3x3 meter, seorang mahasiswa membuka aplikasi dompet digital. Saldo tinggal Rp47.000. Tapi ia tetap memesan es kopi Rp18.000, lalu melanjutkan scroll sambil memesan camilan Rp15.000.

Besoknya, ia mengeluh uang kiriman habis. Padahal, tidak ada satu pun pembelian besar yang ia lakukan. Semua kecil. Semua lewat QRIS.

Pola ini bukan cerita satu orang. Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS sudah mencapai 17,45 miliar transaksi sejak awal tahun hingga Agustus 2026, dengan 69,32 juta pengguna dan 47,11 juta pedagang yang menerimanya.

Angka itu bukan khusus mahasiswa, tapi siapa pun yang tinggal di sekitar kampus tahu: warung tegal, laundry kiloan, sampai tukang galon langganan sudah punya stiker QR di depan gerobak.

Dari Uang Kiriman ke Saldo yang Tidak Pernah Tidur

Erlangga Pradita, mahasiswa di Purwokerto, bilang QRIS membuat hidupnya lebih fleksibel. “Kalau saya sendiri, sih, lebih sering menggunakan QRIS, ya, karena lebih fleksibel aja,” ujarnya, dikutip RRI.

Andhini Andhisa Putri jarang membawa dompet. Uang dari orang tuanya ditransfer, lalu habis lewat ponsel. “Kalau menurut aku dampaknya sih apa ya, jadi lebih konsumtif, sih,” katanya.

Wahyu, mahasiswa Jogja, mencoba lebih waspada. “Sekarang kalau beli makan atau minum, saya lebih sering pakai QRIS karena praktis. Tapi saya tetap harus mengecek saldo supaya tahu berapa pengeluaran saya setiap hari,” ujarnya.

Tiga jawaban, satu pola: QRIS sudah menjadi bahasa transaksi default. Bukan lagi pilihan. Bukan lagi “kalau tidak ada uang tunai”. Ia sudah menjadi cara utama anak kost membayar apa pun.

Kenapa QRIS Terasa “Tidak Menyakitkan”?

Teori behavioral finance menyebut fenomena ini pain of paying. Saat membayar tunai, kamu melihat uang keluar dari dompet. Ada rasa kehilangan. Saat membayar digital, cukup satu ketukan. Rasa sakit itu berkurang, bahkan hilang.

Penelitian Setiyani dan Suratno (2026) terhadap 192 mahasiswa ekonomi di Semarang menemukan bahwa kemudahan akses fintech berpengaruh signifikan terhadap pembelian impulsif. Kasnelly dkk. (2026) meneliti 80 mahasiswa di Kuala Tungkal dan menemukan gaya hidup cashless meningkatkan perilaku konsumtif.

Artinya, masalahnya bukan QRIS. Masalahnya adalah jarak antara keinginan dan transaksi yang kini nyaris nol.

Hitung-Hitungan: Rp70.000 Sehari, Rp500.000 Seminggu

Coba lihat pola pengeluaran anak kost yang mengandalkan QRIS.

Pos

Nominal

Kopi pagi

Rp18.000

Makan siang di warteg

Rp15.000

Camilan sore

Rp12.000

Laundry 3 kg

Rp15.000

Galon/air minum

Rp10.000

Total harian

Rp70.000

Total mingguan

Rp490.000

Ilustrasi pengeluaran harian anak kost, bukan data survei.

Rp70.000 sehari terasa ringan. Tapi dalam sebulan, itu Rp2,1 juta. Hampir sama dengan UMR Semarang 2026 yang berada di Rp3,7 juta.

Dan itu belum termasuk sewa kos, kuota, listrik, dan biaya tugas dadakan.

QRIS Bukan Musuh, Tapi Cermin

QRIS tidak membuat anak kost boros. Ia hanya mempercepat keputusan yang sebenarnya sudah dibuat di kepala.

Kalau niatnya memang beli, QRIS membuat prosesnya selesai dalam dua detik. Kalau niatnya menahan diri, QRIS juga tidak memaksa.

Yang berubah adalah kecepatan. Dulu, anak kost harus keluar kamar, mencari ATM, atau menukar uang ke warung.

Sekarang, semuanya ada di ponsel yang sama dengan aplikasi chat dan media sosial.

Tiga Kebiasaan yang Bisa Menyelamatkan Saldo

1. Pisahkan saldo harian dan saldo darurat. Isi dompet digital hanya untuk kebutuhan hari itu. Sisanya simpan di rekening yang tidak terhubung ke QRIS.

2. Catat, bukan hanya cek. Riwayat transaksi QRIS memang tersimpan. Tapi melihat riwayat tanpa mencatat pola sama saja dengan scroll feed tanpa membaca. Luangkan dua menit setiap malam untuk mencatat pengeluaran.

3. Tunggu 10 menit sebelum memindai. Kalau kamu melihat camilan atau minuman yang tidak direncanakan, tunggu sepuluh menit. Kalau setelah sepuluh menit masih ingin, baru beli. Sering kali, keinginan itu hilang sebelum sepuluh menit berakhir.

Anak kost tidak perlu berhenti memakai QRIS. Ia hanya perlu ingat bahwa saldo yang tidak pernah terlihat sebagai uang tetap bisa habis. Dan di akhir bulan, yang menagih bukan aplikasi. Tapi realita.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.