Kirain Bahasa Gaul? Ini Fakta Unik Bahasa Bagongan, Bahasa yang Sudah Digunakan Sejak Zaman Kesultanan Mataram Islam!

JATENG.AKURAT.CO, Bahasa Bagongan, sebuah bahasa khusus istana yang dikembangkan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram, memiliki sejumlah ciri unik yang membedakannya dari bahasa Jawa umumnya.
Diciptakan dengan tujuan untuk menghilangkan kesenjangan sosial antara para pejabat istana dengan abdi dalem (pelayan istana), bahasa ini menunjukkan tingkat egalitarianisme yang cukup menonjol.
Mari kita mengenal fakta unik Bahasa Bagongan yang tidak banyak orang ketahui ini:
Baca Juga: Sebagai Negara yang Totaliter, Berikut Fakta Unik Korea Utara yang Tidak Banyak Orang Ketahui!
Penghapusan Hierarki
Berbeda dengan bahasa Jawa umumnya yang memiliki tingkatan seperti Ngoko, Ngoko halus, Krama, dan Krama inggil, Bahasa Bagongan kurang menonjolkan hierarki.
Meskipun dalam situasi normal seseorang dari tingkatan rendah akan menggunakan bahasa krama inggil kepada seseorang dari tingkatan tinggi, dalam Bahasa Bagongan baik yang berasal dari tingkatan tinggi maupun rendah akan menggunakan kata "manira".
Bahasa Khusus Istana
Bahasa Bagongan tidak begitu dikenal oleh orang Jawa kebanyakan karena merupakan bahasa khusus istana atau keraton.
Baik Keraton Surakarta/Solo maupun Keraton Yogyakarta mengembangkan bahasa Bagongan di dalam lingkungan keraton, dan dalam lingkup keraton Surakarta, bahasa ini disebut Bahasa Kedhaton.
Meskipun demikian, bahasa ini masih dilestarikan dalam lingkungan keraton.
Kosakata Khusus
Bahasa Bagongan menyerap beberapa kosakata bahasa Jawa kuna yang sudah sangat jarang dipakai atau diketahui oleh orang-orang Jawa kebanyakan.
Kosakata-kosakata tersebut mengalami modifikasi dan hiperkoreksi, seperti "wenten" yang merupakan bentuk hiperkoreksi dari "wonten", dan "seyos" yang merupakan hiperkoreksi dari "seje".
Beberapa kosakata dalam Bahasa Bagongan antara lain:
manira : artinya aku
pakanira : artinya kamu. Dari kata talampakanira yang berarti telapak kaki anda atau telapak kaki beliau
wenten : artinya ada. Merupakan bentuk hiperkoreksi dari wonten
besaos : artinya saja. Merupakan bentuk modifikasi dari istilah dalam bahasa Jawa kuna basaja
seyos : artinya bukan. Merupakan hiperkoreksi dari seje yang artinya adalah lain atau berbeda
siyos : artinya jadi. Merupakan modifikasi dari sida
derbe : artinya mempunyai. Merupakan modifikasi dari istilah bahasa Sanskerta dravya yang berarti isi atau entitas. Kata dravya ini juga menurunkan istilah druwe yang kemudian menjadi duwe
boya : artinya tidak. Merupakan istilah dari bahasa Jawa kuna yang merupakan singkatan dari tan boya, yang merupakan perkembangan dari tan wwaya, bentuk lain dari tan wwara dan tan hana, yang arti harfiahnya adalah tidak ada.
puniku : artinya adalah itu, namun arti harfiahnya adalah yaitu
puniki : artinya adalah ini
punapi : artinya apa
nedha : artinya ayo
tandya : merupakan kalimat perintah untuk bergerak, seperti "Grak!" dalam upacara bendera.
seta : artinya mau atau nafsu makan
curiga : artinya keris
kuda : artinya kuda
sardula : artinya macan
tembung : artinya cambuk
Baca Juga: Liburan Impian ke Asia & Australia Gak Harus Mahal! Cek Harga Promo Terbaik dari AirAsia Sekarang!
Pengaruh pada Bahasa Lain
Kosakata dalam Bahasa Bagongan juga ditemui dalam dialek bahasa Jawa lainnya, seperti Bebasan Banten, Bebasan Cirebon, dan Bebaso Palembang.
Hal ini menunjukkan pengaruh yang dimiliki oleh Bahasa Bagongan terhadap bahasa-bahasa lain di wilayah tersebut.
Meskipun Bahasa Bagongan memiliki sifat egaliter, tetap ada batasannya dalam komunikasi dengan raja atau putra mahkota, yang masih menggunakan bahasa Jawa krama inggil.
Contoh penggunaan kalimat dalam bahasa Bagongan :
bahasa Indonesia : Saya pilih itu saja.
bahasa Jawa Ngoko : Aku pilih kuwi waé.
bahasa Jawa Krama : Kula pilih punika kémawon.
bahasa Jawa bagongan : Manira pilih puniku besaos.
Dengan kekayaan kosakata dan sejarahnya yang unik, Bahasa Bagongan tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya Kesultanan Mataram, tetapi juga merupakan cerminan dari dinamika sosial dan budaya di dalam istana.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 3Profil Instagram Wasit Persija vs Persik di Super League 2026/2027, Steven Yubel Poli Pimpin Duel, Aidil Azmi Jadi Wasit VARdi JIS
- 4LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 5UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 6Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 7Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 8GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital
- 9Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 10Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini



