Jateng

Kirain Bahasa Gaul? Ini Fakta Unik Bahasa Bagongan, Bahasa yang Sudah Digunakan Sejak Zaman Kesultanan Mataram Islam!

Theo Adi Pratama | 16 Mei 2024, 15:24 WIB
Kirain Bahasa Gaul? Ini Fakta Unik Bahasa Bagongan, Bahasa yang Sudah Digunakan Sejak Zaman Kesultanan Mataram Islam!

JATENG.AKURAT.CO, Bahasa Bagongan, sebuah bahasa khusus istana yang dikembangkan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram, memiliki sejumlah ciri unik yang membedakannya dari bahasa Jawa umumnya.

Diciptakan dengan tujuan untuk menghilangkan kesenjangan sosial antara para pejabat istana dengan abdi dalem (pelayan istana), bahasa ini menunjukkan tingkat egalitarianisme yang cukup menonjol.

Mari kita mengenal fakta unik Bahasa Bagongan yang tidak banyak orang ketahui ini:

Baca Juga: Sebagai Negara yang Totaliter, Berikut Fakta Unik Korea Utara yang Tidak Banyak Orang Ketahui!

Penghapusan Hierarki

Berbeda dengan bahasa Jawa umumnya yang memiliki tingkatan seperti Ngoko, Ngoko halus, Krama, dan Krama inggil, Bahasa Bagongan kurang menonjolkan hierarki.

Meskipun dalam situasi normal seseorang dari tingkatan rendah akan menggunakan bahasa krama inggil kepada seseorang dari tingkatan tinggi, dalam Bahasa Bagongan baik yang berasal dari tingkatan tinggi maupun rendah akan menggunakan kata "manira".

Bahasa Khusus Istana

Bahasa Bagongan tidak begitu dikenal oleh orang Jawa kebanyakan karena merupakan bahasa khusus istana atau keraton.

Baik Keraton Surakarta/Solo maupun Keraton Yogyakarta mengembangkan bahasa Bagongan di dalam lingkungan keraton, dan dalam lingkup keraton Surakarta, bahasa ini disebut Bahasa Kedhaton.

Meskipun demikian, bahasa ini masih dilestarikan dalam lingkungan keraton.

Kosakata Khusus

Bahasa Bagongan menyerap beberapa kosakata bahasa Jawa kuna yang sudah sangat jarang dipakai atau diketahui oleh orang-orang Jawa kebanyakan.

Kosakata-kosakata tersebut mengalami modifikasi dan hiperkoreksi, seperti "wenten" yang merupakan bentuk hiperkoreksi dari "wonten", dan "seyos" yang merupakan hiperkoreksi dari "seje".

Baca Juga: Lebih dari Sekedar Bahasa Gaul, Ini Fakta Unik Dialek Arekan yang Ternyata Menyimpan Sejarah dan Keanekaragaman Budaya!

Beberapa kosakata dalam Bahasa Bagongan antara lain:

manira : artinya aku

pakanira : artinya kamu. Dari kata talampakanira yang berarti telapak kaki anda atau telapak kaki beliau

wenten : artinya ada. Merupakan bentuk hiperkoreksi dari wonten

besaos : artinya saja. Merupakan bentuk modifikasi dari istilah dalam bahasa Jawa kuna basaja

seyos : artinya bukan. Merupakan hiperkoreksi dari seje yang artinya adalah lain atau berbeda

siyos : artinya jadi. Merupakan modifikasi dari sida

derbe : artinya mempunyai. Merupakan modifikasi dari istilah bahasa Sanskerta dravya yang berarti isi atau entitas. Kata dravya ini juga menurunkan istilah druwe yang kemudian menjadi duwe

boya : artinya tidak. Merupakan istilah dari bahasa Jawa kuna yang merupakan singkatan dari tan boya, yang merupakan perkembangan dari tan wwaya, bentuk lain dari tan wwara dan tan hana, yang arti harfiahnya adalah tidak ada.

puniku : artinya adalah itu, namun arti harfiahnya adalah yaitu

puniki : artinya adalah ini

punapi : artinya apa

nedha : artinya ayo

tandya : merupakan kalimat perintah untuk bergerak, seperti "Grak!" dalam upacara bendera.

seta : artinya mau atau nafsu makan

curiga : artinya keris

kuda : artinya kuda

sardula : artinya macan

tembung : artinya cambuk

Baca Juga: Liburan Impian ke Asia & Australia Gak Harus Mahal! Cek Harga Promo Terbaik dari AirAsia Sekarang!

Pengaruh pada Bahasa Lain

Kosakata dalam Bahasa Bagongan juga ditemui dalam dialek bahasa Jawa lainnya, seperti Bebasan Banten, Bebasan Cirebon, dan Bebaso Palembang.

Hal ini menunjukkan pengaruh yang dimiliki oleh Bahasa Bagongan terhadap bahasa-bahasa lain di wilayah tersebut.

Meskipun Bahasa Bagongan memiliki sifat egaliter, tetap ada batasannya dalam komunikasi dengan raja atau putra mahkota, yang masih menggunakan bahasa Jawa krama inggil.

Contoh penggunaan kalimat dalam bahasa Bagongan :

bahasa Indonesia : Saya pilih itu saja.
bahasa Jawa Ngoko : Aku pilih kuwi waé.
bahasa Jawa Krama : Kula pilih punika kémawon.
bahasa Jawa bagongan : Manira pilih puniku besaos.

Dengan kekayaan kosakata dan sejarahnya yang unik, Bahasa Bagongan tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya Kesultanan Mataram, tetapi juga merupakan cerminan dari dinamika sosial dan budaya di dalam istana.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.