Jateng

Jangan Asal Nyebut Dengkulmu, Matamu, Cangkemmu Secara Sembarangan! Ini Alasannya, Bisa-bisa Dianggap Gak Sopan!

Theo Adi Pratama | 10 Mei 2024, 12:27 WIB
Jangan Asal Nyebut Dengkulmu, Matamu, Cangkemmu Secara Sembarangan! Ini Alasannya, Bisa-bisa Dianggap Gak Sopan!

JATENG.AKURAT.CO, Dalam bahasa Jawa, terdapat sebuah cara unik untuk memaki seseorang yang menggunakan sufiks atau imbuhan akhir posesif -mu, yang secara harafiah berarti 'milikmu'.

Namun, dalam konteks semantis, kata-kata ini sering kali dianggap sebagai makian, atau kata-kata kasar yang digunakan untuk menyindir atau menghina orang lain.

Sama seperti dalam bahasa Indonesia, menggunakan kata-kata ini dengan tujuan memaki seseorang memang tidak pantas dan bisa menyinggung perasaan.

Beberapa contoh kata yang menggunakan sufiks -mu dan dianggap sebagai makian dalam bahasa Jawa antara lain:

Baca Juga: JATIM PUNYA HARTA KARUN TERSEMBUNYI! 4 Upacara Adat Unik di Jawa Timur Ini Memang Wajib Harus Kamu Saksikan Minimal Sekali Seumur Hidup

Matamu: secara harafiah berarti 'mata Anda', tetapi digunakan dalam konteks makian.

Cangkemmu: 'mulutmu'.

Dhengkulmu: 'lututmu'.

Endhasmu: 'kepalamu'.

Gundhulmu: 'kepalamu yang botak'.

Lambému: 'bibirmu'.

Raimu: 'mukamu'.

Utegmu: 'otakmu'.

Baca Juga: Keberagaman Suku Bangsa Indonesia: Suku Naulu dengan Tradisi Pemenggalan Kepala untuk Mas Kawin dan Ritual Pengasingan Bagi Perempuan

Penting untuk diingat bahwa menggunakan kata-kata ini sebagai makian tidaklah sopan, dan sebaiknya dihindari dalam komunikasi sehari-hari.

Bahkan, dalam budaya Jawa, mengucapkan kata-kata kasar bisa dianggap sebagai tindakan yang tidak pantas dan tidak menghormati.

Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa dalam interaksi dengan orang Jawa, terutama yang berasal dari Jawa Tengah seperti Daerah Istimewa Yogyakarta atau Surakarta, ada hal-hal tertentu yang perlu diwaspadai.

Orang Jawa bagian tengah cenderung memiliki pola komunikasi pasif-agresif, di mana mereka mungkin terlihat memuji atau menghormati, padahal sebenarnya mereka sedang memaki atau mengejek.

Baca Juga: Menjejakkan Kaki di Benteng Pendem Cilacap, Mengeksplore Wisata Sejarah Dibalik Keseruan Memberi Makan Rusa

Sebagai contoh, penggunaan frasa krama inggil seperti "mripatipun panjenengan" (mata Anda) atau "lathi panjenengan" (bibir Anda) bisa jadi sebenarnya merupakan sindiran atau makian yang tersamar.

Dalam budaya dan bahasa Jawa, penggunaan sufiks posesif kata ganti orang kedua dengan anggota tubuh seringkali dimaksudkan sebagai makian, terutama jika digunakan dalam ragam ngoko dengan nada tertentu.

Oleh karena itu, sebaiknya kita berhati-hati dalam menggunakan kata-kata ini dalam interaksi sehari-hari, dan selalu memperhatikan etika dan norma-norma sosial yang berlaku.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.