Jateng

Misteri yang Terkandung Dalam Reverse Psychology: Saat Larangan Membangkitkan Keingintahuan Seseorang

Theo Adi Pratama | 29 Desember 2023, 05:00 WIB
Misteri yang Terkandung Dalam Reverse Psychology: Saat Larangan Membangkitkan Keingintahuan Seseorang

AKURAT.CO, Pernahkah terlintas di pikiran Anda untuk menginjak rumput, meskipun ada tulisan "dilarang menginjak" atau saat berada di museum dan ingin menyentuh patung yang jelas-jelas diberi peringatan "jangan disentuh"?

Mengapa otak kita cenderung terpancing untuk melakukan hal-hal yang sudah jelas dilarang? Apa misteri di balik perilaku ini?

Keadaan seperti ini sebenarnya memiliki nama, yaitu "Reverse Psychology" atau psikologi terbalik.

Secara sederhana, secara naluriah, kebebasan kita dianggap lebih berharga dibandingkan emas.

Ketika ada larangan yang mengikat kebebasan kita, kita merasa tidak nyaman dan justru ingin merebut kembali kebebasan tersebut.

Baca Juga: Tips Memilih Hotel Terbaik di Yogyakarta dan Semarang untuk Liburan yang Memuaskan

Apa itu Reverse Psychology?

Reverse Psychology merupakan fenomena di mana seseorang cenderung melakukan kebalikan dari apa yang diperintahkan atau dilarang demi merasakan kebebasan.

Dorongan untuk melanggar perintah atau larangan ini seringkali muncul secara alami.

Contoh paling sederhana adalah saat anak kecil yang sulit diajak makan sayur.

Dengan menggunakan Reverse Psychology, mungkin dengan mengatakan "Jangan makan sayur itu ya," anak justru akan terdorong untuk melakukannya karena merasa memiliki kebebasan dalam pilihannya.

Baca Juga: Tips Mencegah Anak Mabuk Perjalanan: Kenyamanan dan Keseruan Tanpa Rasa Mual

Bagaimana Reverse Psychology Dapat Digunakan?

Kunci dari Reverse Psychology tetap satu, yaitu mengancam kebebasan.

Ini dapat diaplikasikan dalam berbagai situasi, mulai dari mengajak anak-anak melakukan sesuatu hingga dalam dunia pemasaran.

Sebagai contoh, beberapa tahun lalu di Amerika Serikat, ada ajakan untuk mengadakan pesta bakar buku yang menyita perhatian banyak orang.

Ternyata, ini adalah trik cerdik untuk membuat masyarakat sadar akan pentingnya buku dan perpustakaan umum yang terancam tutup karena keterbatasan dana.

Kampanye ini berhasil, dan perpustakaan pun diselamatkan.

Dalam dunia belanja, Reverse Psychology juga sering digunakan.

Misalnya, harga satu item yang dibuat terlihat lebih mahal jika dibeli terpisah daripada jika dibeli dalam jumlah banyak.

Juga, penawaran diskon dengan hitungan mundur batas waktu dapat membuat konsumen merasa terbatas dan terdorong untuk segera membeli.

Namun, Reverse Psychology tidak selalu berpengaruh pada semua orang.

Mereka yang mudah kesal, keras kepala, dan emosional lebih rentan terpengaruh. Mereka rela melakukan berbagai cara untuk melawan aturan.

Baca Juga: Penting Sekali Menghindari Jetlag Saat Penerbangan Jarak Jauh: Tips Ampuh dari Mantan Pramugari

Menciptakan Keterlibatan Melalui Ancaman Terhadap Kebebasan

Reverse Psychology merupakan fenomena menarik di mana larangan atau ancaman terhadap kebebasan dapat memicu keingintahuan dan tindakan yang berlawanan.

Meskipun belum tentu efektif bagi setiap individu, konsep ini terbukti memiliki daya tarik psikologis yang mampu memengaruhi perilaku manusia. Jadi, meskipun telah dilarang, apakah Anda merasa terpicu untuk membaca artikel ini hingga selesai?***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.