Jateng

Kisah Musisi Legendaris! Sang Legenda Rock Indonesia yang Beralih Jadi Pendakwah! Kisah Hidup Hari Mukti: Dari Panggung Rock Ke Mimbar Dakwah!

Theo Adi Pratama | 8 April 2025, 15:00 WIB
Kisah Musisi Legendaris! Sang Legenda Rock Indonesia yang Beralih Jadi Pendakwah! Kisah Hidup Hari Mukti: Dari Panggung Rock Ke Mimbar Dakwah!

JATENG.AKURAT.CO, Halo para pembaca setia! Kali ini, kita akan mengulas kisah hidup seorang musisi legendaris yang berani mengambil jalan hidup yang berbeda.

Dari panggung rock yang gemerlap, ia memilih untuk menapaki jalan dakwah yang penuh ketenangan. Inilah kisah inspiratif Hari Mukti!

Masa Muda yang Penuh Petualangan:

Lahir dengan nama Haryadi Wibowo di Cimahi, 25 Maret 1957, Hari Mukti adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara.

Ayahnya, Kapten Tukiman, seorang tentara Kopassus, mendidiknya dengan keras.

Sejak kecil, Hari Mukti gemar kegiatan menantang seperti menyelam, panjat tebing, arung jeram, hingga terjun payung. Cita-citanya adalah menjadi tentara seperti ayahnya.

Namun, takdir berkata lain. Pada tahun 1978, Hari Mukti diungsikan ke Semarang karena terlibat kelompok Imran, yang membajak pesawat Garuda pada 1981.

Di Semarang, ia bekerja sebagai room boy di Hotel Patra Jasa, sempat hidup terlunta-lunta, dan akrab dengan dunia malam.

Perjalanan Karier Musik yang Berliku:

Pada tahun 1979, Hari Mukti bergabung dengan grup musik Darodox dan tampil di klub malam sekitar Semarang.

Berbagai insiden mewarnai kariernya, mulai dari perkelahian hingga penodongan pistol.

Setelah ayahnya meninggal, ia kembali ke Bandung dan fokus bermusik.

Ia bergabung dengan New Bloody, Orbit, Makara, Krakatau, dan Adegan. Bersama Makara, ia meraih juara 1 Festival Rock Piala Gubernur DKI pada 1984.

Karier solonya melejit lewat lagu "Dalam Kegelapan" pada Festival Lagu Populer Indonesia 1987.

Album "Ada Kamu" (1988) dan "Nona Nona Nona" (1990) sukses di pasaran.

Titik Balik Kehidupan:

Awal 1990-an, Hari Mukti diundang berdialog dalam kajian remaja Islam di Masjid Al-Azhar Jakarta.

Pertanyaan kritis tentang musik rock membuatnya merenung.

Ia mulai memperdalam Islam dan menyelipkan pesan dakwah dalam penampilannya.

Momen perubahan besar terjadi saat seorang ustaz menasihatinya. Hari Mukti pun meninggalkan dunia musik dan fokus menjadi pendakwah.

Ia bergabung dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan menunaikan ibadah haji pada 2005.

Kehidupan Pribadi:

Hari Mukti menikah dengan Yulianti Agustina, putri Kebaya Nasional 1992.

Mereka dikaruniai seorang putra, tetapi bercerai.

Hari Mukti kemudian menikah lagi dengan Umu Haira hingga akhir hayatnya.

Warisan dan Kenangan:

Hari Mukti wafat pada 24 Juni 2018. Ia meninggalkan warisan karya musik dan jejak dakwah yang menginspirasi banyak orang.

Kisah hidupnya adalah bukti bahwa perubahan ke arah yang lebih baik selalu mungkin terjadi.

Pesan Inspiratif:

"Hidup adalah pilihan. Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya. Yang terpenting, pilihlah jalan yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain."

Semoga kisah hidup Hari Mukti dapat menginspirasi kita semua untuk selalu berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.