Jateng

Bahaya! Stok Beras Bulog Menumpuk, Harga Terancam Naik dan Negara Bisa Rugi Besar!

Theo Adi Pratama | 19 Agustus 2025, 14:28 WIB
Bahaya! Stok Beras Bulog Menumpuk, Harga Terancam Naik dan Negara Bisa Rugi Besar!

JATENG.AKURAT.CO, Siapa yang tidak khawatir kalau harga beras terus naik? Apalagi beras adalah bahan pokok utama kita sehari-hari.

Nah, ada kabar penting yang harus kamu tahu. Stok beras di gudang Perum Bulog ternyata sedang menumpuk dan penyalurannya sangat lambat.

Akibatnya? Harga beras di pasaran bisa semakin melonjak, dan negara berpotensi mengalami kerugian besar.

Ancaman Inflasi dan Kerugian Negara

Menurut Sekretaris Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir, kelambatan distribusi beras ini bisa memicu harga beras di pasaran naik dan sulit untuk diturunkan.

“Kalau beras tidak disalurkan, atau disalurkan lambat, dampaknya harga beras jadi naik. Kita belum bisa menurunkannya,” kata Tomsi dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi 2025 yang disiarkan YouTube resmi Kemendagri, pada Selasa, 19 Agustus 2025.

Selain itu, beras juga punya masa simpan. Jika terlalu lama di gudang, kualitasnya bisa menurun.

Beras yang apek, berjamur, atau terkena hama akhirnya tidak layak konsumsi dan harus dimusnahkan. Ini jelas kerugian besar bagi negara.

"Beras ini ada masa simpannya. Kalau kelamaan di gudang bisa rusak, harganya turun, bahkan harus dibuang. Itu jelas akan merugikan negara," tegas Tomsi.

Target Bulog yang Jauh Panggang dari Api

Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dijalankan Bulog bertujuan untuk menstabilkan harga beras di pasaran.

Targetnya, Bulog harus menyalurkan 1,3 juta ton beras dari Juli hingga Desember 2025.

Itu artinya, Bulog harusnya menyalurkan sekitar 216.000 ton per bulan atau sekitar 7.100 ton per hari.

Tapi, realisasi penyaluran SPHP ini sungguh memprihatinkan. Hingga saat ini, data Bulog menunjukkan realisasi penyaluran baru mencapai 38.111 ton. Angka ini hanya sekitar 2,94 persen dari target bulanan.

"Kalau realisasi baru 2,94 persen dalam sebulan, itu artinya sangat jauh tertinggal," ujar Tomsi.

Ia juga menambahkan, distribusi harian baru sekitar 1.200 ton, jauh di bawah target 7.100 ton per hari.

Bencana Beras Apek Menanti

Jika kondisi ini terus berlanjut, Tomsi memperingatkan bahwa lebih dari 80 persen stok beras SPHP, atau sekitar 1 juta ton, akan menumpuk di gudang Bulog.

Tumpukan ini tidak hanya memakan biaya penyimpanan, tetapi juga mempercepat proses kerusakan beras.

“Kalau sampai 80 persen beras tersimpan di gudang, sekitar 1 juta ton, maka kualitasnya bisa turun jadi apek, berjamur, atau terkena hama. Bahkan, beras tahun lalu bisa jadi harus dimusnahkan karena tidak layak konsumsi,” tukasnya.

Ini bukan sekadar masalah logistik, tetapi juga masalah ketahanan pangan.

Keterlambatan ini mengancam ketersediaan beras berkualitas di pasaran dan bisa membuat harga terus meroket.

Semoga pemerintah dan Bulog bisa segera mencari solusi agar beras di gudang bisa segera disalurkan dan masyarakat tidak perlu khawatir lagi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.