Jateng

191 Perwira Pelayaran Niaga PBA Semarang Dikukuhkan, Disiapkan Hadapi Era Green dan Smart Maritime

Arixc Ardana | 26 September 2026, 16:54 WIB
191 Perwira Pelayaran Niaga PBA Semarang Dikukuhkan, Disiapkan Hadapi Era Green dan Smart Maritime
Direktur Politeknik Bumi Akpelni, Capt Cahya Fajar Budi Hartanto dan jajaran, disambut upacara pedang pora oleh para taruna.

JATENG.AKURAT.CO, SEMARANG, Sebanyak 191 perwira pelayaran niaga Politeknik Bumi Akpelni (PBA) Semarang resmi dikukuhkan dalam prosesi yang berlangsung di Auditorium UTC Semarang, Jumat (25/9/2026).

Para lulusan tersebut dipersiapkan untuk memasuki industri maritim, baik di tingkat nasional maupun internasional, dengan tuntutan kompetensi yang semakin spesifik.

Pengukuhan mengangkat tema “Menguatkan Partisipasi Semesta untuk Menghasilkan Generasi Maritim Unggul, Berdampak dan Berdaya Saing Global Menuju Era Green and Smart Maritime Industry.”

Direktur PBA Semarang, Dr Capt Cahya Fajar Budi Hartanto, M.Mar., M.Si., mengatakan tema tersebut menggambarkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam membangun sumber daya manusia kemaritiman.

Menurutnya, pendidikan tinggi bidang maritim tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan keterlibatan kampus, industri, pemerintah hingga media untuk menciptakan lulusan yang mampu menjawab kebutuhan dunia kerja.

“Diperlukan sinergi kuat antara kampus, industri, pemerintah, dan media untuk mencetak lulusan berkualitas,” kata Cahya.

Ia menjelaskan, lulusan yang dihasilkan PBA diharapkan tidak hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga mampu memberikan dampak lebih luas.

Dampak tersebut antara lain meningkatkan perekonomian keluarga, memberikan manfaat bagi masyarakat, hingga menghasilkan devisa bagi negara ketika bekerja di kapal-kapal internasional.

Sementara kemampuan berdaya saing global berarti lulusan mampu memasuki pasar kerja internasional yang memiliki tingkat persaingan tinggi.

Hadapi Transformasi Industri Maritim

Cahya menuturkan, industri pelayaran saat ini mengalami perubahan seiring berkembangnya konsep Green Port, Green Shipping, Smart Port hingga otomatisasi sistem kapal.

Perubahan tersebut juga diikuti dengan regulasi baru terkait emisi gas buang kapal, penggunaan bahan bakar gas serta pengembangan teknologi autonomous ship.

Karena itu, lembaga pendidikan vokasi dituntut terus menyesuaikan kurikulum dan fasilitas praktik dengan perkembangan industri.

PBA menjalankan kurikulum Kementerian Perhubungan yang mengacu pada standar International Maritime Organization (IMO). Di sisi lain, kampus terus mengembangkan fasilitas praktik agar semakin mendekati kondisi yang ditemui taruna ketika masuk ke dunia kerja.

Dengan karakter pendidikan vokasi yang mengalokasikan sekitar 60-70 persen pembelajaran untuk praktik, taruna juga mendapatkan sejumlah sertifikasi tambahan di luar sertifikasi wajib.

Salah satunya sertifikasi wiring diagram bagi mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Permesinan Kapal untuk memperkuat kompetensi di bidang kelistrikan.

PBA juga memberikan program intensif Akpelni English Conversation Course guna meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa Inggris para taruna.

Sertifikat Dasar Saja Tak Lagi Cukup

Menurut Cahya, perkembangan industri pelayaran membuat kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja semakin spesifik.

Pelaut tidak lagi cukup hanya mengandalkan sertifikat dasar. Kompetensi tambahan diperlukan sesuai jenis kapal dan karakteristik muatan yang ditangani.

Kapal pengangkut gas atau gas carrier, misalnya, membutuhkan perwira dengan kompetensi khusus kapal gas. Begitu pula kapal yang membawa muatan berbahaya memerlukan sertifikasi tertentu.

Sementara awak kapal penumpang diwajibkan memiliki kompetensi seperti Crisis and Crowd Management.

“Navigasi secara umum sama, tapi ketika bicara penanganan muatan, itu sudah sangat spesifik,” tegasnya.

Peluang Pelaut Indonesia di Pasar Global

Di tengah transformasi tersebut, peluang kerja bagi pelaut Indonesia di luar negeri dinilai masih terbuka.

Cahya menyebut sejumlah negara seperti Belanda dan Jepang mulai menghadapi perubahan minat masyarakat untuk bekerja sebagai pelaut. Salah satu faktornya adalah pendapatan pekerjaan di darat yang semakin kompetitif dibandingkan pekerjaan di laut.

Kondisi itu membuka peluang bagi pelaut dari negara-negara Asia, termasuk Indonesia, Filipina, China dan Vietnam, untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja maritim internasional.

Untuk memperkuat penyerapan lulusan, PBA juga telah membentuk Unit Pengembangan Kerjasama dan Pusat Karir sejak sekitar tiga tahun terakhir.

Unit tersebut berperan menjembatani lulusan dengan kebutuhan industri sekaligus memperkuat hubungan kerja sama antara kampus dan perusahaan.

“Kepercayaan masyarakat selalu meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Cahya.

Didukung Berbagai Mitra

Pelaksanaan kegiatan wisuda dan pengukuhan perwira pelayaran niaga PBA Semarang juga mendapat dukungan dari berbagai mitra.

Dukungan tersebut datang dari Bank Mandiri Cabang Kariadi, CV Gotro Mulyo, BNI Cabang Mayjend. Sutoyo, Seni Ukir Budaya Malaysia, DPC Corp Alumni Akpelni Semarang, PT GAP Logistic, Abadi Mitra Catering, Janitra Catering, dan Amy Faza Catering.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bagian dari semangat kolaborasi yang diusung dalam pengukuhan 191 perwira PBA Semarang.

Momentum ini sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara institusi pendidikan, dunia usaha, alumni dan mitra industri dalam menyiapkan sumber daya manusia kemaritiman yang mampu menghadapi perubahan industri pelayaran nasional maupun global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.