Jateng

UIN Walisongo Tanam 1.000 Mangrove di Mangkang Kulon, Libatkan 160 Peserta Lintas Institusi

Muhammad Husni Mushonifi | 23 September 2026, 16:41 WIB
UIN Walisongo Tanam 1.000 Mangrove di Mangkang Kulon, Libatkan 160 Peserta Lintas Institusi

JATENG.AKURAT.CO, Upaya memperkuat perlindungan kawasan pesisir Kota Semarang dilakukan UIN Walisongo dengan menanam 1.000 bibit mangrove di Pantai Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Sabtu (19/9/2026).

Tak sekadar aksi penghijauan, penanaman mangrove tersebut menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, komunitas lingkungan, pegiat konservasi, dan masyarakat pesisir.

Kegiatan yang digelar Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Walisongo Semarang itu diikuti sekitar 160 peserta. Bibit yang ditanam merupakan jenis Rhizophora, salah satu tanaman yang banyak digunakan dalam rehabilitasi ekosistem mangrove.

Penanaman tersebut merupakan implementasi program “Pengelolaan Sumberdaya Biomaritim Berkelanjutan Masyarakat Pesisir Pantai Utara Jawa (PANTURA)” yang didanai melalui BOPTN Tahun 2026.

FST UIN Walisongo bertindak sebagai leading sector dengan menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, LPUBTN Keuskupan Agung Semarang, serta Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) Soegijapranata Catholic University (SCU).

Kelurahan Mangkang Kulon, tokoh masyarakat, komunitas, dan pegiat konservasi mangrove setempat juga dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

Dekan FST UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag. mengatakan, menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan bersama dan tidak cukup hanya diwujudkan melalui wacana.

Menurutnya, penanaman pohon menjadi salah satu bentuk aksi konkret untuk menjaga lingkungan sekaligus memberikan manfaat bagi kehidupan generasi mendatang.

“Menjaga alam merupakan tanggung jawab kita bersama. Menanam pohon adalah salah satu bentuk nyata kepedulian kita terhadap lingkungan dan kehidupan generasi yang akan datang,” ujar Fatah.

Ia juga menyebut penanaman pohon memiliki nilai dalam ajaran Rasulullah. Karena itu, kegiatan tersebut dipandang bukan hanya sebagai upaya konservasi, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab manusia terhadap alam.

Dorong Kampus Tak Berhenti pada Penanaman

Subkoordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati DLH Kota Semarang Indriana Puspita Widyasari mengapresiasi keterlibatan perguruan tinggi dalam menjaga dan memulihkan ekosistem pesisir.

Kolaborasi lintas institusi dinilai membuka ruang bagi kampus untuk memberikan kontribusi melalui pengetahuan, riset, edukasi, hingga pendampingan kepada masyarakat.

Harapannya, keterlibatan perguruan tinggi tidak berhenti ketika 1.000 bibit mangrove selesai ditanam. Program berkelanjutan diperlukan agar tanaman yang ditanam dapat dipelihara dan masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Lurah Mangkang Kulon Tyas Astuti, S.H., M.M. juga menyambut baik kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung tersebut.

Keterlibatan warga menjadi bagian penting karena keberlanjutan kawasan pesisir tidak hanya bergantung pada kegiatan penanaman, tetapi juga pada pemeliharaan dan kepedulian masyarakat di sekitar kawasan.

Pegiat Konservasi Dampingi Teknik Penanaman

Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan pendampingan dari Ferry Agung Istiasmara, tokoh masyarakat sekaligus pegiat konservasi mangrove setempat.

Ferry memberikan arahan mengenai teknik penanaman, mulai dari penempatan bibit hingga cara menanam agar mangrove dapat tumbuh menyesuaikan kondisi kawasan.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman atau Pilus.

Kehadiran berbagai unsur dalam kegiatan itu mempertemukan perspektif akademik, kebijakan pemerintah, pengalaman praktisi, serta keterlibatan langsung masyarakat dalam pengelolaan lingkungan pesisir.

FST UIN Walisongo menempatkan penanaman 1.000 bibit Rhizophora sebagai salah satu bagian dari rangkaian program PANTURA. Program tersebut diarahkan untuk mendorong pengelolaan sumber daya biomaritim secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem dan kehidupan masyarakat pesisir.

Dengan melibatkan sekitar 160 peserta, kegiatan di Mangkang Kulon diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir Pantai Utara Jawa.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat selanjutnya diarahkan untuk tidak berhenti pada seremoni penanaman, tetapi berlanjut pada edukasi, penelitian, pendampingan, serta pemberdayaan masyarakat pesisir.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.