Jateng

Ketika Sandera Membela Penyanderanya: Sejarah Kelam Lahirnya Istilah Stockholm Syndrome

Theo Adi Pratama | 7 Maret 2026, 12:33 WIB
Ketika Sandera Membela Penyanderanya: Sejarah Kelam Lahirnya Istilah Stockholm Syndrome
Apa itu Stockholm Syndrome?

JATENG.AKURAT.CO, Pernahkah Anda membayangkan seseorang yang disekap, diancam, dan hidup dalam ketakutan justru akhirnya membela dan jatuh cinta kepada orang yang menyanderanya? Kedengarannya tidak masuk akal, bukan? Namun, itulah yang terjadi dalam sebuah peristiwa nyata di Stockholm, Swedia, pada tahun 1973.

Sebuah perampokan bank berubah menjadi drama penyanderaan selama enam hari yang tidak hanya menggemparkan publik, tetapi juga melahirkan sebuah istilah baru dalam dunia psikologi: Stockholm Syndrome. Fenomena ini menjadi sebuah paradoks yang hingga kini masih membingungkan para ahli.

Bagaimana mungkin rasa takut yang luar biasa bisa berubah menjadi simpati, loyalitas, bahkan cinta? Lebih dari sekadar kisah kriminal, kasus ini membuka jendela ke dalam lorong-lorong gelap pikiran manusia, tempat insting bertahan hidup dapat membelokkan logika dan moralitas dengan cara yang paling tidak terduga.

Asal-usul Stockholm Syndrome: Drama Enam Hari di Bank Sveriges Kreditbank

Untuk memahami fenomena ini, kita harus kembali ke tanggal 23 Agustus 1973, di alun-alun Norrmalmstorg, Stockholm. Seorang pria bernama Jan-Erik Olsson masuk ke bank Sveriges Kreditbank dengan senapan mesin tersembunyi. Ia melepaskan tembakan ke langit-langit dan segera menyandera empat orang staf bank: tiga wanita dan satu pria .

Awal Mula Penyanderaan

Olsson memaksa para sandera masuk ke dalam ruang brankas beton yang sempit, berukuran hanya 4x10 meter. Tuntutannya adalah agar temannya, Clark Olofsson, seorang narapidana kelas kakap, segera didatangkan ke lokasi.

Pemerintah Swedia mengambil langkah kontroversial dengan mengabulkan permintaan tersebut demi keselamatan para sandera . Olofsson tiba dengan pengawalan ketat dan langsung bergabung dengan Olsson di dalam brankas yang gelap dan kotor itu. Polisi segera mengepung seluruh area dan memutus semua jalur komunikasi.

Keanehan Mulai Muncul

Di dalam ruang sempit yang pengap, para sandera harus bertahan hidup dalam kondisi memprihatinkan. Mereka terpaksa buang air di ember plastik yang diletakkan di sudut ruangan. Bau pesing bercampur asap rokok dan keringat menciptakan atmosfer yang sangat menekan mental.

Namun di tengah situasi mengerikan ini, dinamika yang aneh mulai terbentuk. Clark Olofsson, meskipun seorang penjahat, mulai mengambil peran sebagai penengah yang karismatik. Ia berbicara dengan nada tenang dan meyakinkan para sandera bahwa mereka tidak akan dilukai .

Interaksi Manusiawi di Tengah Teror

Secara rutin, Olofsson membagikan makanan dengan porsi yang sama rata. Tidak ada lagi sekat tegas antara tawanan dan penculik; mereka duduk melingkar di lantai semen yang dingin, bermain kartu, atau bercerita tentang kehidupan masing-masing untuk mengusir kebosanan . Kedekatan fisik dan emosional di ruang isolasi ini perlahan-lahan mengaburkan batas identitas antara penjahat dan korban. Jan-Erik Olsson pun sesekali menunjukkan kelembutan yang tak terduga. Ketika seorang sandera wanita bernama Kristin Enmark menggigil kedinginan, Olsson memberikan jaket wol miliknya. Ia bahkan mengizinkan para sandera bergantian menghirup udara segar di ambang pintu brankas . Tindakan-tindakan kecil ini, di tengah ancaman kematian yang nyata, mulai memanipulasi persepsi para korban.

Klimaks: Sandera Melindungi Penyandera

Memasuki hari kelima, polisi kehilangan kesabaran. Mereka mulai mengebor lubang di atap brankas untuk memasukkan kamera pengintai. Suara bor yang memekakkan telinga justru membuat para sandera panik dan marah kepada polisi. Olsson, yang merasa terdesak, mengancam akan membunuh para sandera. Ia mengikat leher mereka dengan tali jemuran dan menggantungnya pada rak besi, dengan maksud jika polisi menggunakan gas air mata, para sandera akan tercekik . Namun, para sandera tetap tenang dan tidak menunjukkan kebencian kepada Olsson.

Pada malam 28 Agustus, polisi akhirnya menyemprotkan gas air mata secara masif ke dalam brankas. Suasana menjadi kacau. Namun, para pelaku tidak menembak sandera. Setelah beberapa menit, Olsson menyerah. Ketika polisi memerintahkan para sandera keluar lebih dulu, mereka justru menolak. Mereka melindungi tubuh Olsson dan Olofsson, membentuk pagar hidup di depan pintu brankas agar kedua pelaku tidak ditembak oleh tim penyerbu . Saat pintu terbuka, mereka saling berpelukan dan berpamitan secara emosional. Kristin Enmark bahkan mencium tangan salah satu pelaku sebagai tanda terima kasih. Di atas tandu ambulans, seorang sandera berteriak kepada wartawan bahwa polisilah penjahat sebenarnya . Publik yang menyaksikan di televisi dibuat bingung oleh moralitas yang terbalik ini.

Akhir Kisah yang Tak Terduga

Jan-Erik Olsson dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Namun, para mantan sandera justru menjadi pembela utama mereka di pengadilan dan menolak memberikan kesaksian yang memberatkan . Yang lebih mengejutkan, Kristin Enmark menjalin hubungan komunikasi intens dengan Clark Olofsson selama di penjara, dan mereka bahkan dilaporkan bertunangan . Hubungan romantis yang menyimpang ini menjadi bukti nyata betapa dalamnya pengaruh emosional yang terbentuk selama masa penyekapan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.