Jateng

Sejarah Kuliner Nusantara: Mie Lethek Bantul, Kelezatan yang Menyimpan Cerita Sejarah dan Warisan Budaya

Theo Adi Pratama | 23 Januari 2024, 12:00 WIB
Sejarah Kuliner Nusantara:  Mie Lethek Bantul, Kelezatan yang Menyimpan Cerita Sejarah dan Warisan Budaya

AKURAT.CO Sejarah, Yogyakarta, selain menjadi pusat kebudayaan, juga dikenal dengan kekayaan kuliner tradisionalnya.

Salah satu kuliner yang kini sudah mendunia, terutama di daerah Bantul, adalah Mie Lethek.

Mie ini tidak hanya menawarkan kenikmatan bagi lidah, tetapi juga menyimpan cerita menarik di balik proses pembuatannya.

Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Legomoro Kotagede, Makanan Khas dengan Filosofi yang Mendalam

Sejarah Mie Lethek Bantul: Dari Dakwah Hingga Warisan Budaya

Mari kita sambangi sentra pembuatan Mie Lethek, terutama di Desa Trimurti, Srandakan, Yogyakarta.

Di desa ini, terdapat produsen Mie Lethek tertua, yaitu mie Lethek cap Garuda, yang berlokasi di Dusun Bendo.

Mie Lethek cap Garuda ini bukan hanya sekadar produk kuliner, tetapi juga warisan keluarga.

Keluarga Yassir Feri, generasi ke-3 dari pabrik mie Lethek ini, telah mewarisi tradisi pembuatan mie yang dimulai oleh kakeknya, Umar Bisyir, pada tahun 1940.

Umar Bisyir, seorang keturunan Yaman yang merantau ke Indonesia pada medio 1920-an, awalnya datang ke Dusun Bendo untuk berdakwah.

Namun, melihat kebutuhan makanan warga setempat, ia berinisiatif mendirikan pabrik mie. Pada masa itu, mie lebih umum dibuat oleh warga keturunan Tionghoa.

Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Yangko, Sebuah Perjalanan dari Makanan Sultan Hingga Oleh-Oleh Khas Yogyakarta

Tanpa pengalaman yang cukup, Umar Bisyir membangun pabrik mie-nya secara perlahan.

Ia menciptakan peralatan dari press, silinder, hingga mesin penggiling, semuanya berbahan tenaga sapi.

Dengan bahan dasar seperti tapioka dan singkong yang melimpah di daerah tersebut, ia menciptakan Mie Lethek yang khas.

Mulai dari tahun 1940 hingga 1970-an, Umar Bisyir mengelola pabriknya dengan penuh dedikasi.

Tongkat estafet kemudian dilanjutkan oleh orang tua Yassir Feri hingga tahun 1982.

Namun, pada tahun 2002, pabrik ini sempat tutup karena ketidakmampuan bersaing di pasaran setelah munculnya mie instan.

Untungnya, Yassir Feri meneruskan warisan keluarganya pada tahun 2002 hingga saat ini.

Ia tetap mempertahankan bahan-bahan alami tanpa pewarna dan pengawet, serta proses pengolahan Mie Lethek yang serba tradisional.

Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Kue Kipo, Menikmati Kelezatan Tradisional Makanan Khas Kotagede Yogyakarta

Mie Lethek: Warisan Budaya Tak Benda

Pada tahun 2019, Mie Lethek khas Yogyakarta diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) dengan nomor registrasi 201900951.

Pengakuan ini menjadikan Mie Lethek sebagai simbol dedikasi, loyalitas, dan semangat melestarikan warisan leluhur yang tidak lekang oleh waktu.

Sebagai warisan budaya asli Indonesia, Mie Lethek tidak hanya menjadi kebanggaan warga Bantul tetapi juga seluruh bangsa.

Keberlanjutan melestarikannya menjadi tanggung jawab kita semua agar tidak punah, terutama karena telah diakui oleh negara sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan keberagaman budaya Indonesia.

Mie Lethek Bantul, sebuah kuliner yang mengundang kenangan sekaligus menghantarkan cita rasa yang tak terlupakan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.