Jateng

Cuma Dari YouTube, Reiga Luwes Menari Sampai Bikin Orang Tua Bangga

Muhammad Husni Mushonifi | 2 Oktober 2026, 20:56 WIB
Cuma Dari YouTube, Reiga Luwes Menari Sampai Bikin Orang Tua Bangga

JATENG.AKURAT.CO, Tidak ada sanggar tari yang rutin didatangi Ariendra Reiga Santoso. Tidak pula ada pelatih yang setiap pekan mengajarinya gerakan demi gerakan. Namun, bocah berusia 4,5 tahun itu mampu tampil percaya diri dan mengikuti gerakan tari hanya dengan berbekal apa yang dilihatnya.

Bagi Reiga, layar ponsel dan video YouTube menjadi salah satu tempat belajar. Ia menonton, memperhatikan gerakan, lalu mencoba mengulanginya dengan caranya sendiri.

Kegemaran itu rupanya bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Jauh sebelum mengenal YouTube, Reiga sudah akrab dengan berbagai pertunjukan kesenian tradisional ketika masih tinggal di kampung tempat keluarga ibunya.

Ayah Reiga, Santoso (29), mengatakan anaknya sering diajak sang kakek menyaksikan pertunjukan seperti jaran kepang dan lengger ketika ada kegiatan di kampung.

“Kalau ada acara, biasanya hiburannya seperti jaran kepang atau lengger. Dia sering diajak nonton sama kakungnya. Biasanya dia memperhatikan terus, kemudian sampai rumah dipraktikkan,” ujar Santoso, Jum'at (2/10/2026).

Apa yang awalnya hanya kebiasaan menonton perlahan berubah menjadi kegemaran. Reiga mulai tertarik dengan berbagai perlengkapan yang berhubungan dengan kesenian. Ketika pergi dan ditanya ingin membeli apa, ia justru kerap memilih aksesori atau mainan yang berkaitan dengan pertunjukan tari.

Bahkan setelah keluarganya pindah ke Semarang, kebiasaan itu tidak hilang.

Santoso sempat mengira ketertarikan Reiga terhadap tari akan berhenti karena ia masih kecil. Ternyata, dugaan itu keliru. Reiga tetap mencari benda-benda yang menurutnya menarik, seperti pecot, kerincingan hingga gamelan kecil.

“Setelah pindah ke Semarang, saya kira sudah lupa. Ternyata masih sering minta dibelikan mainan seperti pecot, kerincingan dan gamelan kecil,” katanya.

Kegemaran itu semakin terlihat ketika Reiga ikut orang tuanya beraktivitas. Di tengah keramaian sekalipun, ia tidak segan menari. Tidak ada panggung khusus. Tidak ada musik yang disiapkan untuknya. Ketika keinginan untuk menari muncul, Reiga tinggal bergerak mengikuti irama dan gerakan yang ada dalam ingatannya.

Keberanian itulah yang kemudian membuat orang tuanya mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda dari anak mereka.

Saat lingkungan tempat tinggalnya menggelar kegiatan Agustusan, Reiga bahkan berinisiatif sendiri untuk tampil. Ia mengatakan kepada ayahnya bahwa dirinya ingin menari.

“Saya waktu itu cuma bilang, ya sudah, sana nanti,” kenang Santoso.

Reiga pun tampil.

Bagi Santoso, momen tersebut terasa menarik karena dirinya dan sang istri, Ernie Rihanah (29), justru mengaku sebagai pribadi yang cenderung pemalu. Sementara anak mereka malah menunjukkan keberanian untuk tampil di depan orang lain.

“Orang tua malah pemalu semua. Jadi kami juga tidak menyangka dia bisa seperti itu,” ujarnya.

Sejauh ini, Reiga sudah beberapa kali tampil dalam kegiatan lingkungan, termasuk acara tingkat RT dan RW serta perayaan Agustusan. Semua dilakukan tanpa latihan tari secara khusus.

Ia belajar dengan caranya sendiri: melihat, mengingat, kemudian mencoba.

Namun, Santoso tidak ingin buru-buru menentukan masa depan anaknya hanya karena melihat kegemarannya saat ini. Menurut dia, masih terlalu dini untuk mengetahui apakah Reiga akan terus menyukai tari ketika beranjak besar.

“Belum tahu nanti ke depannya bagaimana. Tidak tahu nanti semakin dewasa akan bosan atau tidak. Yang penting kalau sekarang masih percaya diri dan masih suka, kami dukung,” kata Santoso.

Bagi keluarga tersebut, kemampuan Reiga menari bukan semata-mata soal seberapa bagus gerakannya. Ada hal lain yang lebih berharga, yakni keberanian seorang anak untuk menunjukkan apa yang ia sukai.

Dari seorang bocah yang awalnya hanya duduk memperhatikan pertunjukan kesenian di kampung, Reiga kini berani berdiri dan menampilkan gerakan yang dipelajarinya sendiri.

Santoso pun berharap kegemaran itu tidak berhenti sebagai kesenangan masa kanak-kanak. Jika Reiga terus menyukai tari, ia ingin memberikan dukungan agar kemampuan tersebut dapat berkembang sesuai dengan minat anaknya.

Untuk saat ini, tidak ada target besar yang dibebankan kepada Reiga. Biarlah ia menikmati masa kecilnya, menonton, meniru, bergerak, dan menemukan kesenangannya sendiri.

Sebab, mungkin dari kebiasaan sederhana itulah sebuah bakat mulai menemukan jalannya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.