Jateng

Siapakah Rephaim? Menelusuri Sosok di Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dan Jejaknya Dalam Literasi Katolik

Theo Adi Pratama | 17 September 2026, 13:05 WIB
Siapakah Rephaim? Menelusuri Sosok di Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dan Jejaknya Dalam Literasi Katolik
Siapa itu Rephaim, sosok Entitas dalam film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah?

JATENG.AKURAT.CO, Film horor Kuasa Gelap: Perjanjian Darah yang tayang pada 8 Oktober 2026 kembali menyita perhatian penonton Indonesia.

Sekuel dari film Kuasa Gelap (2024) ini menghadirkan ancaman yang jauh lebih besar: sebuah entitas kuno bernama Rephaim.

Dalam film garapan sutradara Rizal Mantovani itu, Rephaim digambarkan sebagai iblis purba yang bersekutu dengan Fallen Angels untuk mencari pengikut manusia, menawarkan berbagai hal dengan satu imbalan mutlak: nyawa.

Namun, benarkah Rephaim ada dalam literasi Katolik? Ataukah sosok ini murni fiksi sineas? Menariknya, nama Rephaim bukanlah sekadar karangan belaka. Ia memiliki jejak yang dalam dalam teks-teks kuno, termasuk Alkitab.

Lantas, siapakah sebenarnya Rephaim, dan bagaimana ia dipahami dalam tradisi Katolik?

Rephaim dalam Film: Iblis Kuno Pemangsa Jiwa

Dalam Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Rephaim digambarkan sebagai entitas kuno yang bersekutu dengan Fallen Angels untuk mencari manusia sebagai pengikutnya.

Ia menawarkan berbagai hal duniawi—kekayaan, kekuasaan, dan keinginan-keinginan manusiawi lainnya—dengan satu imbalan: nyawa.

Tubuh Daniel, yang diperankan Venly Arauna, menjadi wadah bagi iblis purba yang sangat berbahaya ini.

Produser Robert Ronny menjelaskan bahwa karakter Rephaim didesain dengan inspirasi dari sineas Monty Tiwa, dan pesan spiritual yang ingin diangkat adalah tentang kesetiaan Tuhan meskipun manusia telah berdosa.

Sutradara Rizal Mantovani menegaskan bahwa skala cerita sekuel ini jauh lebih besar—bukan lagi tentang satu keluarga, melainkan tentang seluruh wilayah.

Rephaim dalam Alkitab: Bangsa Raksasa dari Zaman Purba

Nama Rephaim bukanlah nama yang asing dalam literatur keagamaan.

Dalam Alkitab, istilah Rephaim (Ibrani: רְפָאִים, Refa'im) memiliki dua makna utama.

Pertama, Rephaim merujuk pada sebuah bangsa kuno yang terkenal karena perawakan mereka yang luar biasa besar—sebuah ras raksasa yang mendiami tanah Kanaan sebelum bangsa Israel merebut wilayah tersebut.

Mereka dikenal dengan berbagai nama oleh bangsa-bangsa tetangga: orang Moab menyebut mereka Emim ("yang menakutkan"), sementara orang Amon menyebut mereka Zamzummim.

Raja Og dari Basan, yang dikalahkan Musa dan bangsa Israel, disebut sebagai keturunan Rephaim yang terakhir.

Kedua, dalam beberapa bagian Alkitab, kata Rephaim juga digunakan untuk merujuk pada penghuni dunia orang mati (Sheol) atau "bayang-bayang" dari orang-orang yang telah meninggal.

Dalam kitab Ayub, Mazmur, dan Yesaya, Rephaim digambarkan sebagai roh-roh lemah yang berdiam di alam bawah tanah, tidak mampu memuji Tuhan, dan tidak memiliki harapan kebangkitan.

Menariknya, Alkitab Septuaginta (versi Yunani dari Perjanjian Lama) menerjemahkan Rephaim dengan kata gigantes atau "raksasa," baik ketika merujuk pada bangsa kuno maupun pada penghuni dunia orang mati.

Rephaim dan Nephilim: Apakah Mereka Sama?

Banyak yang mengaitkan Rephaim dengan Nephilim, bangsa raksasa yang disebut dalam Kejadian 6:4 sebagai hasil perkawinan antara "putra-putra Allah" dan "putri-putri manusia."

Namun, para ahli Alkitab umumnya membedakan keduanya. Nephilim adalah bangsa raksasa yang hidup sebelum air bah, sementara Rephaim adalah bangsa raksasa yang muncul setelah air bah di tanah Kanaan.

Meskipun demikian, dalam beberapa tradisi Yahudi dan teks non-kanonik, Rephaim dianggap sebagai keturunan Nephilim yang selamat dari air bah atau sebagai keturunan dari para Fallen Angels.

Alkitab sendiri tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Rephaim adalah keturunan langsung dari Fallen Angels, tetapi tradisi-tradisi kuno sering menghubungkan keduanya.

Rephaim dalam Tradisi Katolik

Dalam tradisi Katolik, Rephaim tidak termasuk dalam kategori entitas spiritual seperti malaikat atau iblis.

Rephaim lebih dipahami sebagai bangsa manusia yang memiliki perawakan luar biasa besar—bukan sebagai makhluk halus atau iblis yang bisa merasuki manusia.

Katekismus Gereja Katolik tidak membahas Rephaim sebagai entitas demonik.

Istilah "iblis" dalam Katolik merujuk pada makhluk spiritual yang jatuh, seperti Lucifer dan para pengikutnya, bukan pada bangsa raksasa yang pernah hidup di dunia.

Dengan demikian, penggambaran Rephaim dalam film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah sebagai "iblis kuno yang bersekutu dengan Fallen Angels" adalah interpretasi kreatif sineas, bukan doktrin resmi Gereja Katolik.

Film ini mengambil inspirasi dari teks-teks kuno dan tradisi apokrif, lalu mengolahnya menjadi narasi horor yang dramatis.

Meskipun demikian, film ini tetap menyampaikan pesan spiritual yang sejalan dengan ajaran Katolik: bahwa kuasa pembebasan berasal dari Kristus, dan kesucian hidup seorang imam sangat penting dalam menghadapi kekuatan jahat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.