Seret Nama Artis, Pasar Ini Dulu Beromzet Rp 200 Miliar per Hari, Kini Nasibnya Merana Bak Tak Berpenghuni

AKURAT.CO, Masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kondisi terkini pasar di Ibukota ini.
Dahulu, pasar yang terletak di kawasan Jakarta Pusat ini penuh sesak dengan pedagang dan pembeli.
Bahkan omzet pedagang di pasar tersebut secara keseluruhan per hari mencapai Rp 200 miliar, namun kini kondisinya merana.
Baca Juga: Dishub Kota Semarang Akan Tilang Pengguna Jalan yang Tak Dengarkan Pengeras Suara di Lampu Merah
Ya,kondisi ini dialami Pasar Tanah Abang Jakarta.
Dikenal sebagai salah satu pasar tradisional terbesar di Indonesia, Pasar Tanah Abang menjadi tujuan seluruh pedagang besar di Tanah Air.
Khususnya para pedagang pakaian atau tekstil.
Baca Juga: Sinoeng Tilik Kampung di Wilayah Kelurahan Noborejo, Beri Bantuan Anak Stunting dan BSRS
Apalagi menjelang Lebaran, para pedagang dari pelosok Indonesia termasuk masyarakat Jakarta berbondong-bondong mendatangi Pasar Tanah Abang untuk berbelanja.
Harga yang murah dibanding di pusat perbelanjaan, serta banyaknya pilihan pakaian yang disediakan menjadi daya tarik.
Bahkan Pasar Tanah Abang dikenal sebagai pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara.
Baca Juga: Sinergitas PPL, Pemdes dan Poktan, Hidupkan Kembali Lahan Pertanian di Demak
Semaatan tersebut bukan tanpa alasan, sebab kala itu, Pasar Tanah Abang memiliki perputaran uang yang luar biasa.
Pada tahun 2013, Ketua Majelis Pertimbangan Assosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DKI Jakarta Hasan Basri mengatakan, perputaran uang di pasar Tanah Abang mencapai Rp 200 miliar per hari.
Angka tersebut didapat dari transaksi per hari rata-rata Rp 10 juta dikalikan 20 ribu kios yang ada di Pasar Tanah Abang.
Perputaran uan yang luar biasa di saat itu, bahkan sampai sekarang, maka tidak mengherankan jika Pasar Tanah Abang menjadi salah satu penggerak perekonomian di Jakarta, termasuk di Indonesia.
Tidak hanya perputaran uangnya yang bombastis, harga kios di Pasar Tanah Abang pun diluar dugaan.
"Kalau harga kios terendah saja dihitung maka Blok A punya Rp 6 triliun. Blok B kali Rp 1 miliar sekitar 4 triliun. Bisa dibayangkan harga kios di Blok A dan B saja sudah Rp 10 triliun. Makanya pengelola Tanah Abang kaya raya," jelasnya kala itu.
Namun kini hanya dalam kurun waktu 10 tahun, semua berubah 360 derajat.
Pasar Tanah Abang tak lagi menjadi primadona.
Baca Juga: PSIS Semarang Berambisi Raih Poin Penuh Saat Jamu PS Barito Putera
Banyak kios yang tutup, seiring dengan sepinya pembeli yang datang.
Kondisi Pasar Tanah Abang ini bahkan sempat disinggung artis Ruben Onsu dalam salah satu postingannya di media sosial, hingga menimbulkan pro kontra di kalangan netizen.
Keruntuhan kejayaan Pasar Tanah Abang ini diduga seiring dengan perubahan perilaku pembeli, yang lebih memilih belanja secara online dibandingkan datang langsung ke pasar
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 7Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?







