Jateng

Jogja Vibes! Mengulik Sejarah Singkat Pasukan Hantu Maut, Legenda Pasukan Gerilyawan Yogyakarta yang Saat Ini Terlupakan

Theo Adi Pratama | 19 Agustus 2024, 21:43 WIB
Jogja Vibes! Mengulik Sejarah Singkat Pasukan Hantu Maut, Legenda Pasukan Gerilyawan Yogyakarta yang Saat Ini Terlupakan

JATENG.AKURAT.CO, Pada masa agresi militer Belanda pertama pada tahun 1948, disusul agresi kedua pada tahun 1949, muncul sebuah kelompok gerilyawan muda dari Yogyakarta yang namanya menggema di antara kegelapan malam dan ketakutan penjajah.

Mereka bukanlah bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), namun gerakan mereka yang berani dan penuh taktik membuat mereka menjadi momok yang menakutkan bagi Belanda dan mata-matanya.

Mereka adalah Pasukan Hantu Maut, kelompok laskar pemuda yang bergerak seperti siluman, menyerang dengan tiba-tiba, dan menghilang tanpa jejak di malam yang gelap.

Baca Juga: Jogja Vibes! Mengulik Sejarah Tugu Pal Putih, Sebuah Transformasi dari Tugu Golong Gilig yang Sempat Rusak Akibat Gempa

Awal Mula Laskar Pemuda: Samber Gelap

Pasukan ini pertama kali didirikan oleh para pemuda kampung Keparakan Lor pada tahun 1945, tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dipimpin oleh Sudiman, pasukan ini awalnya dikenal dengan nama Samber Gelap, dan mereka memulai perjuangan mereka melawan pendudukan Jepang di Yogyakarta.

Bermodal tujuh pucuk senjata hasil rampasan dari pasukan Jepang pada 7 Oktober 1945 di Kota Baru, pasukan ini berjuang dengan keberanian yang luar biasa.

Transformasi Menjadi Pasukan Hantu Maut

Seiring berjalannya waktu, pasukan ini mengalami perubahan dan menjadi semakin dikenal dengan nama Pasukan Hantu Maut.

Mereka mendapatkan dukungan dari GBPH Poejokoesoemo, putra Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, yang menjadi pelindung mereka.

Kediaman Poejokoesoemo di Pujokusuman dijadikan markas pasukan ini, dan dari sana mereka melancarkan serangan-serangan mematikan terhadap tentara Belanda.

Tentara Belanda sangat takut bertemu dengan pasukan ini.

Nama Hantu Maut bukanlah sekadar julukan; bagi Belanda, bertemu mereka berarti menghadapi maut yang seolah menjemput di depan mata.

Keberanian dan nyali para pemuda ini tak tertandingi.

Mereka menyerang pos dan patroli Belanda dengan taktik gerilya yang mematikan, dan kabar burung menyebar bahwa dalam operasi mereka, para anggota Pasukan Hantu Maut mengenakan caping, bertelanjang dada, memakai celana hitam, dan membawa keris di pinggang mereka.

Baca Juga: Jogja Vibes! Menguak Sejarah Singkat Langgar Dhuwur Kotagede, Tempat Ibadah Keluarga yang Berlokasi di Kediaman Ibu Syafaatun

Penyelamatan Yogyakarta dengan Siulan Kematian

Gerakan pasukan ini begitu cerdik dan terorganisir, sehingga tentara Belanda sering kali dibuat tak berdaya.

Penyerangan dan pembunuhan tentara Belanda di Yogyakarta sering kali dikaitkan dengan aksi Pasukan Hantu Maut.

Namun, meskipun diburu habis-habisan, para pemuda ini selalu berhasil lolos.

Mereka mengenal medan kota Yogyakarta seperti labirin, membuat mereka sulit ditangkap oleh musuh.

Di balik semua aksi heroik tersebut, terdapat tokoh penting lainnya, yaitu RM Hinukartopati.

Dia adalah ketua dari Pasukan Hantu Maut selama masa agresi Belanda, dan dia memainkan peran kunci dalam strategi dan operasi pasukan.

Hinukartopati bahkan sempat bekerja dan menyamar di Kantor Pos Besar Yogyakarta, merancang peta untuk menyergap salah satu kantor vital Belanda.

Sayangnya, sebelum rencana tersebut terlaksana, ada pengkhianat yang membocorkannya.

Hinukartopati ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan, di mana ia menjalani hukuman tanpa keluhan meskipun dalam kondisi yang sangat sulit.

Kisah Pengorbanan dan Lenyapnya Jejak Pasukan Hantu Maut

Di tengah derita tahanan, istri Hinukartopati yang tengah hamil besar terpaksa mengungsi ke daerah Imogiri, berjalan kaki puluhan kilometer, dan melahirkan anak pertama mereka tanpa kehadiran sang suami.

Kisah ini menggambarkan betapa besar pengorbanan yang dilakukan oleh para pejuang Pasukan Hantu Maut, bukan hanya dalam medan pertempuran, tetapi juga dalam kehidupan pribadi mereka.

Setelah Belanda pergi, nama Pasukan Hantu Maut perlahan mulai menghilang.

Aksi-aksi mereka yang dulu begitu ditakuti kini hanya menjadi kenangan yang samar.

Plakat marmer di Ndalem Pujokusuman dan monumen di Prawirotaman menjadi satu-satunya saksi bisu dari keberanian puluhan anak muda yang berjuang di awal kemerdekaan bangsa ini.

Namun, penanda sejarah ini kini dirundung sepi, terlupakan oleh orang-orang yang berlalu lalang.

Baca Juga: Jogja Vibes! Menguak Sejarah Omah Indische di Desa Jagalan Bantul, Rumah Bersejarah Milik Menteri Agama Pertama Indonesia

Warisan Pasukan Hantu Maut

Pasukan Hantu Maut bukanlah segerombolan anak muda yang mencari kekuasaan atau keuntungan pribadi.

Mereka bukanlah preman yang memalak warga atau berkelahi untuk menunjukkan siapa yang paling kuat.

Mereka adalah pejuang yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, dengan taruhan nyawa dan usia muda mereka.

Mereka berjuang tanpa pamrih, dan ketika Indonesia akhirnya merdeka, mereka bubar dengan tenang, kembali ke kehidupan sebagai petani, guru, pegawai, abdi dalem, dan pedagang.

Kisah Pasukan Hantu Maut adalah salah satu dari banyak cerita heroik yang terlupakan dalam sejarah Indonesia.

Namun, bumi dan langit menjadi saksi dari perjuangan mereka, dan meskipun nama mereka mungkin tidak lagi diingat, semangat dan pengorbanan mereka tetap hidup dalam setiap jengkal tanah yang mereka bela.

Pasukan Hantu Maut adalah legenda yang patut kita kenang, sebagai pengingat akan betapa mahalnya harga kemerdekaan yang kita nikmati hari ini.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.