Fakta Unik Vibes! Mengenal Stasiun Tuban, Jejak Perkembangan Sejarah serta Potensi Masa Depan Transportasi Rel di Tuban

JATENG.AKURAT.CO, Stasiun Tuban, lebih dari sekadar bangunan tua yang berdiri kokoh di jantung kota.
Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang sejarah Tuban, sebuah kota di pesisir utara Jawa Timur yang kaya akan budaya dan potensi.
Rel-rel kereta api yang menghubungkan stasiun ini dengan berbagai daerah telah menjadi urat nadi perekonomian dan sosial masyarakat Tuban selama berpuluh-puluh tahun.
Dari masa penjajahan hingga era modern, Stasiun Tuban terus bertransformasi, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Namun, di balik modernisasi yang terus berjalan, terdapat segudang kisah menarik dan fakta unik yang mungkin belum banyak diketahui orang.
Mari kita telusuri bersama jejak sejarah Stasiun Tuban dan mengintip potensi masa depan transportasi rel di kota ini.
Stasiun Tuban (TN) adalah salah satu stasiun kereta api nonaktif yang menyimpan sejarah panjang di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Terletak di Desa Doromukti, Kecamatan Tuban, stasiun ini berada pada ketinggian +7 meter di atas permukaan laut dan termasuk dalam Wilayah Aset VIII Surabaya.
Meski kini tak lagi berfungsi, stasiun ini menyimpan banyak cerita tentang masa lalu dan potensi yang mungkin bisa dihidupkan kembali di masa depan.
Sejarah Stasiun Tuban dan Jalur Kereta Api
Stasiun Tuban dan jalur kereta apinya merupakan bagian dari program kerja Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), yang bertujuan untuk memperluas jaringan kereta api agar masyarakat Tuban dapat menikmati moda transportasi modern pada masa itu.
Setelah sukses dengan jalur kereta api Gambringan–Surabaya Pasarturi, NIS membangun jalur cabang dari Bojonegoro menuju Jatirogo dan Babat menuju Merakurak. Jalur Babat–Merakurak, yang panjangnya mencapai 46 km, diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1920.
Pada masa kejayaannya, Stasiun Tuban melayani perjalanan kereta api dengan frekuensi dua kali perjalanan pulang pergi setiap hari, baik dari Babat ke Tuban maupun sebaliknya.
Awalnya, perjalanan ini dilayani oleh lokomotif uap, namun seiring waktu dan perkembangan teknologi, pada tahun 1970-an lokomotif uap digantikan oleh lokomotif diesel hidraulik seperti D300 atau D301.
Namun, seiring berjalannya waktu, stasiun dan jalurnya semakin tergeser oleh moda transportasi lain yang lebih efisien dan modern.
Ditambah dengan kondisi prasarana yang sudah tua, akhirnya Stasiun Tuban dan jalurnya resmi ditutup pada tahun 1990.
Kondisi Saat Ini dan Potensi Pengaktifan Kembali
Saat ini, emplasemen Stasiun Tuban telah berubah menjadi permukiman padat penduduk, meski tanahnya masih berada di bawah penguasaan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Bangunan utama stasiun saat ini disewa untuk dijadikan bengkel las.
Menariknya, Stasiun Tuban juga memiliki subdepo lokomotif yang masih asli sejak zaman Belanda, meski banyak sarana dan prasarananya yang hilang atau dirobohkan.
Subdepo ini sekarang berada di Gang Ikhlas, Kebonsari, Tuban, dan telah beralih fungsi menjadi rumah tinggal.
Di dekat stasiun, terdapat menara air yang dulu digunakan untuk mengisi air lokomotif uap, serta rel kereta api yang dahulu bercabang menuju Pabrik Kapur Ronggolawe.
Pabrik tersebut ditutup oleh Pemerintah Kabupaten Tuban sekitar tahun 1989, dan lahannya kini digunakan sebagai hutan kota.
Namun, harapan untuk menghidupkan kembali jalur kereta api ini muncul seiring dengan rencana reaktivasi Jalur Babat–Merakurak.
Proyek ini sedang dipertimbangkan untuk mendukung operasi kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban milik PT Pertamina Rosneft, yang direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2027.
Selain reaktivasi, rencana perpanjangan jalur menuju Jenu juga tengah dikaji.
Jika rencana ini terwujud, Stasiun Tuban dan jalurnya bisa kembali menjadi bagian penting dari infrastruktur transportasi di wilayah ini, serta berperan dalam mendukung perkembangan ekonomi Tuban dan sekitarnya.
Dengan demikian, Stasiun Tuban bukan hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga memiliki potensi untuk kembali berperan di masa depan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 7Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?








