Kampanye Pemilu Melalui Kacamata Mahasiswa Yogyakarta: Media Sosial TikTok vs Media Baliho

AKURAT.CO, Di tengah era digital dan perubahan paradigma dalam berkomunikasi, sejumlah mahasiswa di Yogyakarta memberikan pandangan menarik terkait metode kampanye pasangan calon capres-cawapres.
Mereka menyatakan preferensi mereka yang lebih condong ke media sosial, khususnya TikTok, dan kampanye diskusi dua arah.
Di sisi lain, metode konvensional seperti baliho dan spanduk dianggap ketinggalan zaman dan dianggap sebagai gangguan visual semata.
Perubahan Paradigma: TikTok sebagai Media Kampanye Populer
Sebagian besar mahasiswa dari tiga kampus ternama di Yogyakarta, yakni UNU Yogya, UNISA Yogya, dan UGM, mengungkapkan bahwa mereka lebih merelatekan diri dengan kampanye melalui TikTok.
Menurut mereka, TikTok bukan hanya platform hiburan, melainkan juga menjadi saluran efektif untuk menyampaikan pesan politik.
Konten yang kreatif, lucu, dan santai dianggap lebih menarik dan bisa mencapai audiens muda dengan lebih baik.
Salah satu mahasiswa UNU Yogya menyatakan, “Karena anak muda zaman sekarang kan bukannya TikTok. Kalau baliho kayaknya udah ketinggalan zaman.”
Pernyataan ini mencerminkan pergeseran preferensi dalam mengonsumsi konten politik, di mana keterlibatan yang lebih interaktif di media sosial dinilai lebih relevan.
Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Jepang Ajukan 21 Tuntutan kepada China pada 18 Januari 1915
Kampanye Diskusi: Menyasar Pemahaman Lebih Mendalam
Selain TikTok, kampanye diskusi dua arah dianggap efektif oleh sejumlah mahasiswa.
Mereka menyatakan bahwa forum-forum diskusi memberikan ruang bagi mereka untuk memahami lebih jauh tentang gagasan para calon.
Diskusi dianggap lebih terbuka dan memberikan peluang untuk mengeksplorasi visi-misi calon secara lebih mendalam.
Seorang mahasiswa UGM mengungkapkan, “Misalnya hanya kampanye, pemaparan visi misi tanpa ada diskusi, saya rasa kurang terbuka aja, dan kita enggak tahu ke mana dia mau membawa masalah yang ada di Indonesia ke depan.”
Ini mencerminkan dorongan untuk terlibat dalam dialog dan pemahaman yang lebih komprehensif tentang rencana dan pandangan calon.
Baliho dan Spanduk: Ketinggalan Zaman dan Buang-Buang Duit?
Sikap terhadap metode kampanye konvensional seperti baliho dan spanduk cenderung kurang positif.
Sebagian mahasiswa menyatakan bahwa baliho dianggap sebagai pemborosan dana dan tidak lagi efektif untuk menjangkau pemilih muda.
Namun, beberapa mengakui bahwa metode ini mungkin masih dibutuhkan untuk menjangkau mereka yang belum terkoneksi secara luas dengan media sosial.
Seiring berjalannya waktu, perubahan preferensi dalam konsumsi informasi politik menjadi tantangan dan peluang bagi tim kampanye.
Mereka dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam menyusun strategi kampanye agar dapat meraih perhatian dan dukungan dari beragam lapisan masyarakat, terutama generasi muda yang semakin menggantungkan diri pada platform digital.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 7Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?








