Jateng

Berawal dari Majelis Taklim, Dekan FAI Unwahas Kembangkan Dakwah hingga Dirikan Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah

Muhammad Husni Mushonifi | 31 Oktober 2026, 18:25 WIB
Berawal dari Majelis Taklim, Dekan FAI Unwahas Kembangkan Dakwah hingga Dirikan Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah

JATENG.AKURAT.CO, Keberadaan Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah di Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, tidak terlepas dari perjalanan dakwah yang dirintis melalui kegiatan sederhana berupa majelis taklim. Berangkat dari pembinaan keagamaan mahasiswa, aktivitas tersebut berkembang dengan melibatkan masyarakat hingga akhirnya melahirkan sebuah lembaga pendidikan pesantren.

Sosok di balik perjalanan tersebut adalah Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Dr. KH. Iman Fadhilah, SHI, MSI. Dengan mengandalkan kepercayaan, kebersamaan, serta dukungan masyarakat, ia merintis Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah sebagai wadah pendidikan dan penguatan nilai-nilai keislaman.

Perjalanan panjang itu kini memasuki babak baru. Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah telah genap berusia empat tahun, sementara Majelis Taklim Al-Fadhilah yang menjadi cikal bakalnya telah berjalan selama delapan tahun.

"Awalnya kegiatan ini hanya berupa majelis taklim yang diikuti mahasiswa. Seiring berjalannya waktu, jangkauannya semakin luas dan mulai melibatkan masyarakat sekitar hingga kemudian berkembang menjadi pesantren. Alhamdulillah, sekarang pesantren memasuki usia empat tahun dan Majelis Al-Fadhilah sudah berusia delapan tahun," ungkap KH Iman Fadhilah seusai Tasyakuran Harlah ke-4 Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah, Jumat (30/10/2026) malam.

Mantan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah tersebut menjelaskan, misi awal kegiatan itu adalah membangun pemahaman Islam yang santun, moderat, toleran, serta berakar pada karakter keislaman Indonesia. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan ajaran Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja) yang dikembangkan Nahdlatul Ulama (NU).

Ia menyebut pemikiran almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi salah satu pijakan penting dalam membangun corak dakwah yang mengedepankan toleransi dan keteladanan.

"Sejak awal, kami berupaya memperkuat pemikiran almarhum Gus Dur, terutama dalam mengajarkan toleransi. Menurut saya, umat Islam harus menjadikan keteladanan sebagai landasan dalam berdakwah," tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH Iman juga mengingatkan pentingnya memahami sejarah perkembangan Islam secara utuh. Menurutnya, penyebaran Islam ke berbagai belahan dunia tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan kekuatan militer maupun peperangan.

Meski dalam perjalanan sejarah Nabi Muhammad SAW terdapat sejumlah peristiwa peperangan, hal itu tidak boleh dimaknai sebagai satu-satunya faktor berkembangnya Islam. Mahasiswa dan santri perlu memahami latar belakang, kronologi, hingga pesan yang terkandung dalam setiap peristiwa sejarah.

"Memang ada banyak catatan peperangan dalam sejarah Nabi Muhammad SAW. Namun, bukan berarti Islam berkembang karena kekuatan militer. Mahasiswa harus memahami sejarah secara menyeluruh, mulai dari kronologi hingga bagaimana memaknai peristiwa tersebut," tegasnya.

Selain mengembangkan majelis taklim, menantu almarhum KH Syaikhun, Pengasuh Pesantren Taqwal Ilah, itu juga pernah membangun tradisi intelektual mahasiswa melalui forum diskusi rutin. Dari aktivitas tersebut kemudian tumbuh Rumah Pergerakan Al-Fadhilah yang menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus wadah pengembangan pemikiran kritis mahasiswa.

"Awalnya ada kelompok diskusi mahasiswa, kemudian berkembang menjadi Rumah Pergerakan Al-Fadhilah. Gerakan ini juga menjadi bagian dari Gusdurian," jelasnya.

Menanamkan Nasionalisme dan Keteladanan Ulama

Pengalaman panjang berorganisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama, mulai dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) hingga Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), turut membentuk pandangannya mengenai pentingnya peran santri dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Berbekal pengalaman tersebut, KH Iman mengajak para santri untuk tidak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga meneladani perjuangan para ulama yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia.

Ia mencontohkan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari, sebagai figur ulama yang memiliki perpaduan kuat antara kedalaman ilmu agama dan semangat nasionalisme.

"KH Hasyim Asy'ari menjadi sosok penting bukan hanya karena keluasan ilmu agamanya, tetapi juga karena memiliki nasionalisme yang sangat kuat. Nilai-nilai perjuangan seperti inilah yang harus diteladani para santri," ujarnya.

Menurutnya, kiprah ulama Indonesia dalam memperjuangkan kepentingan umat juga telah mendapat pengakuan hingga tingkat internasional. Salah satunya melalui peran KH Abdul Wahab Hasbullah yang menjadi bagian dari delegasi Komite Hijaz untuk menyampaikan aspirasi ulama Ahlussunah Wal Jamaah di Indonesia.

Ia menilai, semangat perjuangan dan dakwah para ulama terdahulu harus terus dilanjutkan dengan menyesuaikan perkembangan zaman. Terlebih, kemajuan teknologi informasi telah membuka ruang yang semakin luas bagi santri untuk menyampaikan gagasan dan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat.

Karena itu, santri dituntut tidak hanya aktif dalam lingkungan pesantren, tetapi juga mampu mengambil peran di ruang publik, termasuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah yang positif dan mencerahkan.

"Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, tidak ada alasan bagi santri untuk hanya berdiam diri. Santri harus hadir di tengah masyarakat dan berani berdakwah melalui media sosial," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.