Jateng

Pemilu Israel: Netanyahu Menang Tipis, Tapi Partai Arab Pegang Kunci Pemerintahan

Theo Adi Pratama | 29 Oktober 2026, 11:56 WIB
Pemilu Israel: Netanyahu Menang Tipis, Tapi Partai Arab Pegang Kunci Pemerintahan

JATENG.AKURAT.CO, Pemilu Israel 2026 berakhir tanpa pemenang: blok Netanyahu dan oposisi Eisenkot sama-sama mentok di bawah 61 kursi, partai Arab jadi penentu, dan Netanyahu disebut-sebut sedang mengincar kesepakatan bagi kekuasaan demi lolos dari jerat korupsi.

Bayangkan kamu ikut lomba lari maraton, sudah ngos-ngosan sampai garis finis, tapi panitia bilang “maaf, belum ada pemenang, nanti kami hitung ulang.”

Itulah kira-kira yang terjadi di Israel bulan ini. Setelah pemungutan suara pada Selasa, 27 Oktober 2026, hasil awal menunjukkan dua blok besar sama-sama keok.

Nggak ada yang dapat 61 kursi dari total 120 kursi Knesset. Nggak ada yang bisa klaim kemenangan.

Angka Sementara: 53, 48, dan 19 yang Jadi Penentu

Blok kanan yang dipimpin Benjamin Netanyahu diproyeksikan meraih 53 kursi. Blok oposisi di bawah Gadi Eisenkot, mantan Panglima Militer Israel, dapat 48 kursi.

Partai-partai Arab, yang tidak masuk blok mana pun, mengamankan 19 kursi—gabungan tertinggi dalam sejarah mereka .

Dengan konfigurasi itu, belum ada satu pun blok yang bisa membentuk pemerintahan sendiri. Butuh 61 kursi. Nggak ada yang sampai.

Dan di sinilah drama politiknya dimulai: partai Arab yang selama ini sering dimarginalkan justru kini memegang kunci.

Mansour Abbas, pemimpin Ra'am, salah satu partai Arab, menyatakan posisinya dengan tenang. “Kami akan mengubah mandat yang kami terima menjadi realitas baru di negara ini,” katanya .

Netanyahu Menang Tipis, Tapi Tetap Rapuh

Partai Likud milik Netanyahu tetap menjadi partai tunggal terbesar di Knesset, dengan proyeksi 24–26 kursi . Tapi jadi partai terbesar bukan berarti bisa memerintah. Tanpa koalisi, Likud cuma jadi penonton di parlemen.

Menteri Luar Negeri Gideon Saar, sekutu Netanyahu, buru-buru menepis kabar bahwa kubu oposisi sudah menang. “Perayaan di kubu kiri terlalu dini. Kepanikan para komentator yang berat sebelah menggelikan. Satu hal tampak cukup jelas: Likud adalah partai terbesar di Israel,” tulisnya .

Tapi retorika itu nggak mengubah matematika. Tanpa 61 kursi, Netanyahu harus bernegosiasi. Dan bernegosiasi dengan siapa? Salah satunya dengan partai Arab yang selama ini jadi sasaran kritik blok kanan.

Netanyahu Punya Masalah Lebih Besar dari Sekadar Kursi

Bagi Netanyahu, pemilu ini bukan cuma soal menang atau kalah. Ini soal kebebasan. Ia sudah bertahun-tahun menghadapi tuduhan korupsi—penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan. Pengadilan masih berjalan.

Dan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) juga mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya terkait dugaan kejahatan perang di Gaza .

Al-Monitor melaporkan bahwa bahkan jika Netanyahu kalah, ia kemungkinan besar tetap bertahan di politik. “Netanyahu akan pergi ketika dia mau. Siapa pun yang mencoba menyingkirkannya akan dihukum,” kata seorang menteri senior Likud, dikutip Al-Monitor .

Tapi ada satu jalan yang disebut-sebut sedang diupayakan: kesepakatan bagi kekuasaan. Channel 14 Israel melaporkan bahwa Presiden Isaac Herzog sedang mendorong arrangemen di mana Netanyahu memimpin pemerintahan selama dua tahun, lalu menyerahkan kekuasaan ke Eisenkot.

Sebagai gantinya, Netanyahu pensiun dari politik dan menerima pengampunan penuh atas kasus korupsinya .

Kantor Herzog langsung membantah. “Itu bohong total. Kami tidak berspekulasi soal proses pemberian mandat,” katanya . Tapi di politik, bantahan sering kali justru menambah rasa penasaran.

Partisipasi Tertinggi dalam 27 Tahun, tapi Hasilnya Jalan Buntu

Satu hal yang patut dicatat: 77,7 persen pemilih datang ke TPS. Ini angka tertinggi dalam 27 tahun terakhir. Antusiasme warga Israel luar biasa.

Mereka ingin perubahan. Tapi suara mereka justru menghasilkan parlemen yang terbelah.

Eisenkot, yang memimpin oposisi, melihat hasil ini sebagai sinyal jelas.

“Hasil sementara mencerminkan keinginan pemilih untuk membawa perubahan di Israel,” katanya. Ia kini fokus membentuk pemerintahan alternatif .

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Hasil resmi baru akan diumumkan pada 4 November 2026 . Setelah itu, Presiden Herzog akan berkonsultasi dengan semua pemimpin partai untuk menentukan siapa yang mendapat mandat membentuk pemerintahan.

Proses ini bisa memakan waktu berpekan-pekan. Kalau gagal, Israel bisa kembali ke pemilu—sesuatu yang ingin dihindari Herzog. “Kita harus melakukan segala yang mungkin untuk menghindari pemilu lagi,” katanya .

Israel sudah punya masalah besar: perang di Gaza, ketegangan regional, dan polarisasi internal. Menambah satu lagi krisis politik lewat pemilu ulang jelas bukan pilihan yang menyenangkan.

Tapi dengan matematika parlemen yang sekarang, jalan keluarnya tetap sempit. Kecuali, tentu saja, jika kesepakatan di balik layar itu benar-benar terwujud.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.