Jateng

Program GAUL di Rupiah Tresno Budoyo 2026 Diminati Masyarakat, 21.840 Keping Uang Logam Berhasil Dikumpukan

Arixc Ardana | 27 September 2026, 15:12 WIB
Program GAUL di Rupiah Tresno Budoyo 2026 Diminati Masyarakat, 21.840 Keping Uang Logam Berhasil Dikumpukan
Masyarakat menukar uang logam dalam program GAUL (Galang Uang Logam) yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Tengah dalam rangkaian Rupiah Tresno Budoyo 2026, di Klenteng Sam Poo Kong Semarang, Sabtu (26/8/2026)

JATENG.AKURAT.CO, Senyum lega terlihat dari wajah Rahmat, warga Kalisari, Kota Semarang, saat membawa kumpulan uang logam miliknya ke kegiatan Rupiah Tresno Budoyo 2026.

Selama ini, uang logam tersebut hanya menjadi bagian dari kembalian setiap kali Rahmat bertransaksi.

Sedikit demi sedikit dikumpulkan hingga jumlahnya semakin banyak dan akhirnya menumpuk di rumah.

Rahmat sebenarnya sudah lama ingin menukarkan uang logam tersebut ke bank. Namun, keinginan itu belum sempat diwujudkan.

Hingga kemudian ia mengetahui adanya program GAUL (Galang Uang Logam) yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Tengah dalam rangkaian Rupiah Tresno Budoyo 2026, di Klenteng Sam Poo Kong Semarang, Sabtu (26/8/2026)

Kesempatan itu langsung dimanfaatkannya.

Rahmat mengaku senang karena tidak perlu lagi membiarkan uang logam yang dikumpulkannya terus tersimpan. Ia pun membawa uang tersebut untuk ditukarkan dalam kegiatan GAUL.

“Awalnya memang dari uang kembalian transaksi. Lama-lama terkumpul dan menumpuk. Sebenarnya sudah ada rencana mau ditukarkan ke bank, tetapi kemudian ada acara ini, jadi saya tertarik untuk menukarkannya di sini,” ujar Rahmat.

Bagi Rahmat, kehadiran program GAUL menjadi solusi sederhana untuk uang logam yang selama ini tersimpan di rumah.

Uang yang sebelumnya hanya memenuhi tempat penyimpanan kini bisa kembali digunakan.

Ia juga menilai kegiatan seperti ini memudahkan masyarakat yang memiliki uang logam dalam jumlah banyak tetapi belum menemukan waktu atau kesempatan untuk menukarkannya.

Kisah Rahmat menjadi salah satu cerita di tengah pelaksanaan Rupiah Tresno Budoyo 2026.

Melalui program GAUL, Bank Indonesia tidak hanya mengajak masyarakat untuk mengumpulkan uang logam, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembalikan uang yang sudah tidak layak edar.

di

Dalam kegiatan tersebut, tercatat 84 orang melakukan penukaran dengan total sekitar 21.840 keping uang logam. Nilai seluruh uang yang dikumpulkan mencapai sekitar Rp8,3 juta.

Sementara uang logam yang dikumpulkan merupakan pecahan uang Rp500 dan Rp1000 dari tahun emisi 1991 dan 1993.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Anggis Rakhmi Ichsan, menyebut capaian tersebut menjadi hal positif dalam mendorong pengembalian uang yang sudah tidak layak edar.

“Ini cukup banyak. Alhamdulillah sudah sangat baik dan akan kami dorong lagi supaya pengembalian uang yang tidak layak edar, khususnya uang logam, bisa semakin meningkat,” kata Anggis.

Rupiah Tresno Budoyo 2026 sendiri dikemas bukan hanya sebagai kegiatan penukaran uang. Bank Indonesia juga menghadirkan edukasi mengenai Rupiah melalui pendekatan budaya dan sejarah.

“Rupiah Tresno Budoyo merupakan upaya kami melakukan edukasi dengan pendekatan budaya dan sejarah. Kami berupaya mendekatkan kegiatan dengan budaya masyarakat sehingga harapannya lebih mudah diterima,” ujar Anggis.

Menurut Anggis, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia mendekatkan edukasi mengenai Rupiah dan sistem pembayaran kepada masyarakat.

Rupiah Tresno Budoyo 2026 memang tidak sekadar menghadirkan kegiatan penukaran uang.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Tengah mengemas kegiatan tersebut dengan pendekatan budaya dan sejarah.

Harapannya, edukasi mengenai Rupiah tidak terasa seperti materi formal, tetapi dapat lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Rupiah Tresno Budoyo merupakan upaya kami melakukan edukasi dengan pendekatan budaya dan sejarah. Kami berupaya mendekatkan kegiatan dengan budaya masyarakat sehingga harapannya lebih mudah diterima,” ujar Anggis.

Rangkaian kegiatan juga diisi berbagai agenda lain, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan pengendalian inflasi pangan serta edukasi mengenai penggunaan dan pengelolaan uang Rupiah.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.