Jateng

Gen Z Dominasi Penduduk, IRRA Blanten Siapkan Tiga Strategi untuk Cetak Dai Digital Masa Depan

Theo Adi Pratama | 13 April 2026, 16:17 WIB
Gen Z Dominasi Penduduk, IRRA Blanten Siapkan Tiga Strategi untuk Cetak Dai Digital Masa Depan

JATENG.AKURAT.CO, Di tahun 2026, Indonesia sedang berada di puncak bonus demografi.

Merujuk data BPS, generasi Z, yang jumlahnya mencapai sekitar 71,5 juta jiwa atau lebih dari seperempat total populasi, mendominasi komposisi penduduk.

Dengan persentase umat Islam yang mencapai lebih dari 87 persen dari total penduduk, potensi ini menjadi peluang sekaligus tantangan besar bagi masa depan syiar Islam di tanah air.

Ketua bidang komunikasi dan eksternal Ikatan Remaja Roudlotul Abidin (IRRA) Blanten, Haqqi Firdausi Avirusdi, menilai bahwa kelompok usia muda ini bukan hanya angka dalam sensus, melainkan subjek utama perubahan.

"Kita sedang menghadapi bonus demografi dalam konteks syiar Islam. Namun tanpa pendekatan yang tepat, potensi besar ini justru bisa menjadi celah melemahnya keterikatan generasi muda terhadap nilai-nilai keislaman," ujarnya di Blanten, Ungaran Barat, Senin (13/04/2026).

Kajian IRRA menyatakan, karakter generasi Z yang sangat lekat dengan dunia digital menuntut perubahan pendekatan dakwah secara fundamental.

"Pola syiar konvensional dinilai tidak lagi cukup untuk menjangkau generasi yang tumbuh dalam ekosistem media sosial, dengan preferensi pada konten cepat, visual, dan kontekstual," imbuhnya.

Di sisi lain, tantangan sosial juga mengemuka. Data menunjukkan masih terdapat jutaan generasi Z yang berada dalam kondisi tidak bekerja, tidak menempuh pendidikan, maupun tidak mengikuti pelatihan (Not in Education, Employment, or Training/NEET).

Kondisi ini dinilai Haqqi, berpotensi memperlebar jarak antara generasi muda dengan aktivitas keagamaan yang produktif.

“Syiar Islam tidak bisa lagi berdiri di ruang yang eksklusif. Ia harus hadir menjawab realitas—mulai dari persoalan identitas, kesehatan mental, hingga tekanan sosial yang dihadapi anak muda hari ini,” kata alumnus pondok pesantren Gontor itu.

Merespons dinamika tersebut, IRRA Blanten mendorong transformasi strategi syiar Islam dengan menitikberatkan pada tiga pendekatan utama.

Pertama, digitalisasi dakwah melalui optimalisasi platform media sosial sebagai ruang utama interaksi generasi Z.

"Konten keislaman dituntut lebih ringkas, relevan, dan memiliki daya tarik visual yang kuat," ujar mahasiswa Universitas Negeri Semarang itu.

Kedua, penguatan basis komunitas dengan merevitalisasi peran masjid sebagai pusat aktivitas remaja.

Kegiatan keagamaan perlu dikemas secara lebih inklusif dan adaptif, tanpa meninggalkan substansi nilai Islam.

"Ketiga, pembangunan ekosistem kolaboratif melalui sinergi lintas komunitas dan penguatan kaderisasi remaja masjid yang berkelanjutan," ujarnya.

Menurut Haqqi, keberhasilan syiar Islam ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak program yang dijalankan, tetapi oleh sejauhmana pesan keislaman mampu terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari generasi Z.

"Ini bukan sekadar soal dakwah, tetapi tentang bagaimana Islam hadir secara nyata dalam kehidupan generasi muda. Jika kita gagal beradaptasi, maka kita akan kehilangan momentum sejarah,” tegas Haqqi.

Dengan pendekatan yang lebih adaptif dan berbasis realitas generasi muda, IRRA Blanten optimistis bahwa generasi Z muslim dapat menjadi motor penggerak syiar Islam yang progresif, inklusif, dan relevan di tengah perubahan zaman.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.