Jateng

Direktur TI BPJS Kesehatan Ungkap Layanan Digital Program JKN ke Belahan Dunia dalam ICT 2024

Arixc Ardana | 7 Maret 2024, 15:25 WIB
Direktur TI BPJS Kesehatan Ungkap Layanan Digital Program JKN ke Belahan Dunia dalam ICT 2024

AKURAT.CO, BPJS Kesehatan terus melakukan pengembangan layanan digital untuk memberikan akses pelayanan kesehatan yang mudah kepada masyarakat.

Digitalisasi pelayanan yang telah diterapkan dari kantor hingga fasilitas kesehatan saat ini dianggap sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat di era perkembangan teknologi.

Menurut Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan, Edwin Aristiawan, upaya peningkatan infrastruktur dengan memanfaatkan teknologi kesehatan digital saat ini sangatlah penting.

Baca Juga: Tercatat sebagai Peserta JKN, BPJS Kesehatan Pastikan Pelayanan Kesehatan Petugas KPPS di Kabupaten Kendal

Hal tersebut disampaikannya, dalam The 17th ISSA International Conference On Information And Communication Technology In Social Security (ICT 2024) di Nusa Dua, Bali, 6-8 Maret 2024. 

Bekerja sama dengan BPJS Kesehatan yang merupakan penyelenggara Program JKN di Indonesia, kegiatan ini dihadiri lebih dari 300 partisipan dari 71 negara 

Dalam paparannya, Edwin mengungkapkan bahwa digitalisasi pelayanan dapat memastikan aksesibilitas dan keterjangkauan layanan kesehatan berkualitas bagi semua orang, sehingga Indonesia bisa mencapai Universal Health Coverage (UHC).

"Saat ini, implementasi Program JKN telah didukung oleh infrastruktur digital yang mumpuni. Inovasi berbasis digital, pengelolaan data sampel, dan pengelolaan command center yang baik menjadi salah satu tonggak penting untuk penyelenggaraan Program JKN yang optimal," ungkap Edwin.

Edwin menjelaskan bahwa pengembangan kompetensi digital dalam memperkuat penyelenggaraan jaminan kesehatan juga sangat penting, termasuk penerapan teknologi baru seperti Artificial Intelligence (AI).

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya tata kelola data kesehatan guna memastikan pengelolaan data yang aman, efisien, serta menumbuhkan kepercayaan dan integritas dalam perlindungan data pribadi dalam ekosistem layanan kesehatan.

Ia menyebut bahwa penyelenggaraan Program JKN juga telah mengelola data yang sangat besar.

Setiap harinya, terjadi lebih dari 112 juta transaksi data di dalam ekosistem Program JKN, atau sekitar 1.296 transaksi data per detik.

Data tersebut mencakup data kepesertaan, pelayanan kesehatan, dan iuran, dengan total mencapai 397,8 miliar row data.

"Dengan pengelolaan data yang sangat besar, tentu keamanan data yang dibutuhkan semakin tinggi. Dalam pelaksanaannya, BPJS Kesehatan telah menerapkan enam layer proteksi terhadap keamanan data, dimulai dari menentukan parameter keamanan, keamanan jaringan, keamanan endpoint, keamanan di elemen manusia, keamanan terhadap aplikasi, hingga keamanan terhadap data yang dimiliki," jelas Edwin.

Dalam kesempatan tersebut, Edwin juga memperkenalkan berbagai inovasi berbasis digital yang telah diluncurkan oleh BPJS Kesehatan.

Salah satu inovasi yang dihadirkan adalah Aplikasi Mobile JKN, yang telah berhasil mengubah pengalaman peserta di fasilitas kesehatan dengan mengurangi waktu tunggu di rumah sakit dari 6 jam menjadi hanya 2,5 jam.

Selain itu, Aplikasi Mobile JKN juga memungkinkan peserta untuk mengakses riwayat pelayanan kesehatan mereka dalam 12 bulan terakhir melalui i-Care JKN.

Dengan i-Care JKN, dokter dan peserta dapat melihat riwayat kunjungan, tindakan medis, dan obat yang diberikan oleh fasilitas kesehatan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, sehingga dokter juga dapat memberikan pelayanan yang cepat dan tepat.

BPJS Kesehatan juga telah menyediakan layanan digital yang dapat diakses oleh peserta untuk kebutuhan informasi pelayanan dan pengaduan, seperti Chat Assistant JKN (CHIKA), Pelayanan Administrasi melalui WhatsApp (PANDAWA), Voice Interactive JKN (VIKA), hingga BPJS Kesehatan Care Center 165.

Di sektor pendaftaran, BPJS Kesehatan juga menyediakan layanan E-Dabu yang dapat dimanfaatkan oleh badan usaha untuk mendaftarkan pekerjanya menjadi peserta JKN.

"Selain itu, BPJS Kesehatan juga telah memperkenalkan berbagai inovasi lainnya, seperti skrining riwayat kesehatan, yang bertujuan sebagai upaya preventif bagi peserta JKN dalam mencegah penyakit kronis. Ada juga telemedicine yang dapat memudahkan peserta untuk berobat jarak jauh. Harapannya, dengan inovasi digital yang diperkenalkan, sistem layanan kesehatan yang mudah dapat dihadirkan bagi seluruh peserta JKN," tutup Edwin.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.