Jateng

Aktifitas Ahmadiyah Ditolak Kemenag, Ketua FKUB Jateng; Ahmadiyah Itu Islam

Theo Adi Pratama | 29 Oktober 2023, 14:38 WIB
Aktifitas Ahmadiyah Ditolak Kemenag, Ketua FKUB Jateng; Ahmadiyah Itu Islam

AKURAT.CO SEMARANG – Beberapa pekan lalu, Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah mengeluarkan surat rekomendasi penolakan kegiatan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Menanggapi surat rekomendasi tersebut, KH Taslim Syahlan selaku Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah memprotes surat rekomendasi tersebut dengan menegaskan bahwa Ahmadiyah adalah bagian dari Islam, Minggu (29/10/2023).

“Ahmadiyah itu Islam, sebagaimana organisasi Islam lainya. Ada Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam LDII, Islam MTA, Islam Matla’ul Anwar dan lain-lain. Hal-hal menyangkut ajaran pokoknya sama. Syahadatnya, shalatnya, puasanya, zakatnya dan hajinya pun sama. Jadi rukun Islamnya sama sebagaimana yang lain,” ujar Kiai Taslim menyesalkan penolakan tersebut.

Baca Juga: Pemkot Semarang Sudah Memberikan Perhatian dan Bantuan kepada Mantan Pemain PSIS, Budiono Sutikno

Kiai Taslim yang berupakan pelopor Gerakan Kebangsaan Watugong (Gerbang Watugong) yang mendeklarasikan kerukunan dan perdamaian di jawa Tengah bersama 40 kelompok agama, kepercayaan, dan aliran itu menjadi sangat berang dengan sikap Kanwil Kemenag Jateng yang menciderai semangat kerukunan tersebut.

Kiai taslim melanjutkan, jikapun Ahmadiyah memiliki perbedaan hanya ada di wilayah furu’iyah atau cabang-cabang ajarannya saja.

Tapi sama sekali tidak melenceng prinsip dasar Islam.

“Kalaupun ada perbedaan, hanya dalam ranah furu’iyyah- khilafiyyah. Syahadat para anggota Ahmadiyah sama dengan muslim lainya. “Asyhadu An-Laa Ilaha Illa-Allah, Wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”. Nabi Muhammad saw panutan yang diagungkan, sebagaimana umat Islam pada umumnya,” bebernya.

Baca Juga: Pesta Diskon Semarang Great Sale 2023 Resmi Dibuka, Ini Harapan Wali Kota Semarang

Menurut Kiai taslim, selain dibaca dalam shalat, syahadat ini selalu dikumandangkan dalam setiap memulai khutbah, pengajian-pengajian, ceramah-ceramah, dan lain-lain.

“Shalatnya sama dengan NU, Muhammadiyah, dan lain-lain. Bedanya, kalau NU shalat subuh pakai do’a qunut,” ujar Kiai yang juga seorang pendakwah dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) ini.

“Ahmadiyah tidak, seperti halnya Muhammadiyah dan lainya. Ahmadiyah ketika membaca fatihah dalam shalat, basmalahnya “sirri” (pelan). Shalat jum’atnya pun juga sama. Bedanya hanya tidak pakai “anshitu” dalam prosesi khutbah. Ibadah puasa yang dilakukan juga sama dengan umat Islam pada umumnya,” lanjutnya.

Baca Juga: Mbak Ita Berharap Pemuda Pancasila Komitmen Dalam Keterlibatan Kelancaran Pemilu Damai 2024

Tata laksana Ibadah Ahmadiyah

Tata laksana Ibadah Ahmadiyah menurut Taslim persis sama dengan kelompok Islam lainnya.

Zakat ditunaikan sama dengan umat Islam lainya.

Bahkan infaq dan shadaqahnya dikelola dengan sistem yang sangat modern berbasis IT.

Ibadah haji ditunaikan sama dengan muslim pada umumnya.

Yakni beribadah haji di kota suci Makkah dan juga berziarah ke makam Rasulullah di Madinah al - Munawwarah.

Kitab suci yang diimani dan diamalkan juga sama, yaitu Al- Qur’an al-Karim.

Baca Juga: Antisipasi Jeratan Pinjol Ilegal, Literasi Keuangan di Masyarakat Perlu Terus Didorong

Bahkan banyak sekali kader-kader muda yang secara khusus mengikuti program menghafal alQur’an.

“Jadi tidak benar kalau ada tuduhan bahwa kitab suci umat Islam Ahmadiyah bukan al - Qur”an. Fakta, bukan Fitnah ini berdasarkan fakta. Bukan kabar dari pihak lain yang berdasarkan katanya-katanya,” ungkap Taslim.

“Tapi berdasarkan ‘tabayyun partisipatif’. Yakni, dengan cara bersilaturrahim, dialog, turut serta dengan berbagai kegiatan. Baik ritual maupun kegiatan sosialnya. Ikut serta dalam shalat berjama’ah, shalat jum’at, dan lain-lain. Tidak saja di wilayah Jawa Tengah, di wilayah-wilayah lain di Indonesia pun saya menyaksikan bahwa Ahmadiyah itu Islam yang ta’at,” lanjutnya.

Kiai Taslim sendiri pernah bersilaturrhim dengan komunitas muslim Ahmadiyah sedunia dalam acara Jalsah Salanah Internasional (pertemuan tahunan Internasional) di London belum lama ini.

Sebuah pertemuan akbar umat Islam yang dihadiri oleh 100 negara.

Baca Juga: Semargres 2023 Resmi Dibuka, Wali Kota: Sinergi Semua Pihak Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Semarang

Kiai Taslim bersama beberapa tokoh dari Indonesia menyaksikan bahwa tidak ada satu pun aktivitas yang dilakukan oleh muslim Ahmadiyah dari 100 negara ini yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam.

Baik ativitas ibadah ritual maupun aktivitas sosialnya.

Dalam sesi-sesi paparan dan dialog internasional ini juga mengundang tokoh-tokoh Islam NU dan Muhammadiyah dari Indonesia.

“Bahkan tokoh semua agama dari berbagai negara juga turut berkontribusi dalam memperkuat kerukunan umat beragama. Menguatkan ukhuwah kemanusian. Menjauhkan saling curiga. Apalagi menebar fitnah,” tandas Taslim.

Motto Ahmadiyah

Motto Ahamadiyah adalah “Love For All Hatred For None”.

Jika ada pihak-pihak, baik pribadi, organisasi dan juga tokoh tertentu yang ‘menuding’ bahwa Ahmadiyah itu sesat, bahkan bukan Islam, maka dapat dipastikan mereka belum menyaksikan dari dekat.

Jika ada tokoh agama atau tokoh masyarakat yang seharusnya jadi panutan, tetapi dalam menyikapi Ahmadiyah tidak berdasarkan fakta, maka itu pasti hoaks dan fitnah.

“Tokoh begini yang justeru meresahkan dan menyesatkan. Rawat hidup rukun dengan tabayyun Idealnya semua tokoh agama-tokoh masyarakat harus mampu menjadi perekat. Bukan penyekat. Harus dewasa dan lapang dada. Perbedaan dalam pengamalan agama yang bersifat furu’iyyah itu keniscayaan. Sepatutnya harus disikapi dengan kedewasaan dan kearifan. Bukan dengan menebar kebencian,” beber Taslim kembali.

Kiai Taslim menegaskan, tidak boleh memaksa dalam keseragaman. Menurutnya hal itu mustahil dan mengingkari sunnatullah.

“Saya menawarkan skenario bagaimana seharusnya membangun kerukunan umat beragama dalam realitas perbedaan, yakni Restorasi Umat Beragama. Ada empat indikator yang harus dipraktekkan. Yakni, beragama tuntas, solidaritas, sinergitas dan integritas,” tandasnya.

“Jika ini terinternalisasi dalam setiap umat beragama, maka tidak lagi ada kecurigaan dan kebencian. Yang ada tentu persaudaraan atas nama kemanusaan,” tutupnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.